
"Sebaiknya, Kakak tidur di sofa." Abi berkata ketika mereka masuk ke kamar.
“Kenapa?” tanya Larisa.
“Kakak takut gak bisa mengendalikan diri.”
“It’s oke. Gak papa, kok.” Larisa mengajak suaminya naik ke atas kasur.
“Kamu gak marah?”
Wanita itu menggeleng. “Marah kenapa?”
“Kakak sudah kelewatan batas.”
“Apa, Kakak, gak ingin menjelaskan sesuatu sama aku?”
“Menjelaskan apa?”
“Sesuatu mungkin?”
“Jujur, Kakak laki-laki normal pastinya akan terpengaruh ketika melihat kamu dalam keadaan tadi. Tapi Kakak akan tahan keinginan ini sampai kita menikah.”
Larisa mengangguk. “Oke, kalau gitu aku gak akan marah, sekarang sebaiknya kita tidur.”
...🥒🥒🥒🥒...
Siangnya selesai memasak Larisa meminta Kania untuk datang ke villa karena ia ingin menceritakan sesuatu.
“Ada apa?” tanya Kania.
Larisa mengajak sahabatnya itu untuk melihat kamar ia dan Abi. “Bagus gak?”
Kania mengedarkan pandangannya. Kamar ini cukup luas dibandingkan kamar Larisa yang ada di bawah. Furniture serta dekorasi sangat pas membuat membuat pemiliknya akan merasa sangat nyaman. Apalagi jendela kaca yang cukup lebar mengarah langsung ke lautan lepas membuat sasana tak akan bosan. "Bagus banget. Pas buat kalian berdua."
“Gue sama Kak Abi ternyata sudah menikah,” jelas Larisa yang duduk di atas karpet bulu.
Kania berbalik lalau menatap Larisa. “Apa?” pekiknya. Wanita itu pun ikut duduk di depan sahabatnya.
“Ternyata ini jawaban dari keanehan orang tua gue selama ini.”
“Tunggu, gue gak ngerti,” sela Kania.
Larisa menghembuskan nafas panjang ia menyandar ke tepian tempat tidur. “Saat Mama dan Papa gue menginap di sini kemarin. Gue semakin merasakan keanehan dari sikap mereka yang mengizinkan gue sama Kak Abi tidur berdua di kamar. Bahkan kami sempat ketahuan sering bercumbu di halaman belakang saat sore hari. Tapi mereka gak pernah marah, malah seakan mendukung apa yang kami lakukan.”
“Terus?” Kania tampak penasaran.
“Bahkan Mama sempat beliin gue lingerie waktu kita jalan di mall. Gue merasa curiga, pasti ada alasan kenapa mereka mendukung hal itu. Gue ingin mencari tau, tapi bingung memulainya dari mana. Sampai kemarin sebelum mereka pulang gue sempat pinjam ponsel Mama buat hubungin Dosen pembimbing di kampus dulu.”
“Lo periksa ponsel itu?” tebak Kania.
Larisa mengangguk. “Hati gue bilang kalau apa yang selama ini gue cari, jawabannya ada di sana.”
“Apa yang lo temukan?”
“Vidio Kak Abi mengucapkan ijab kabul.”
Kania sampai ternganga mendengar hal itu. “Jadi, artinya selama ini kalian adalah pasangan suami istri?”
“Kayaknya gitu. Video itu sepertinya diambil sebelum kami pindah ke Bali.”
“Artinya, Kak Abi menikahi lo waktu masih dalam keadaan depresi?”
Larisa mengangguk.
Kania menggelengkan kepalanya saking tak percaya. Ia memeluk Laris cukup lama. “Lo beruntung banget bisa mendapatkan pria sebaik itu.”
__ADS_1
“Gue gak ngerti?! Gue malah bingung kenapa sampai sekarang mereka gak pernah bilang hal itu ke gue.”
Kania menjitak kening Larisa. “Mikir! Belakangan ini Kak Abi udah minta lo buat nikah kan, tapi lo selalu bilang belum siap. Artinya, Kak Abi nunggu kesiapan lo dan baru dia akan menjelaskan semuanya.”
“Kok gue gak mikir sampai sana, ya?!”
Kania menggeleng. “Sa, gue benar-benar iri sama lo. Ternyata benar, ya, kalau Tuhan itu tau apa yang terbaik buat kita.”
“Maksud lo?”
“Lo pasti mikir, dulu saat bersama Bayu dia adalah laki-laki terbaik buat lo. Tapi ternyata Tuhan dengan sengaja mematahkan hati lo bahkan lo sampai depresi. Tapi apa? Ternyata dia menjauhkan lo dari laki-laki brengsek dan memberikan lo sosok laki-laki yang begitu baik juga sempurna.”
Larisa tertegun dengan perkataan Kania. Ia bahkan baru menyadari hal itu kini. Betapa bodohnya ia dulu bisa sampai gila hanya karena batal menikah dengan Bayu. Seharusnya saat itu ia bersyukur mengetahui kebusukan laki-laki itu sebelum mereka menikah. Andai saja saat itu mereka tetap menikah, mungkin rumah tangga mereka tak akan bahagia.
Bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi Larisa. Ternyata Tuhan begitu sayang padanya meski dulu ia kadang suka lupa menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba. Makanya sang pencipta memberikan ia sebuah ujian agar bisa mendekatkan diri kembali. Wanita itu sampai kehabisan kata-kata.
“Lo gak papa?” Kania merasa khawatir melihat Larisa yang terus saja menangis.
Larisa menggeleng lalu ia menyeka pipinya yang basah. Ia masih saja tersedu-sedu namun berusaha untuk meredakan tangisan itu. “Apa yang lo bilang itu benar. Gue mendapatkan pria yang sempurna, bahkan imannya sangat teguh untuk tak memiliki gue seutuhnya sampai gue merasa siap.”
Kania pun ikut menangis haru bersama sang sahabat. “Lo adalah wanita yang paling beruntung. Mendapatkan seorang laki-laki yang mungkin cuma ada satu banding seribu di mungka bumi ini.”
Larisa mengangguk di balik punggung sahabatnya itu.
Kania mengurai pelukan mereka. “Sudah, jangan nangis lagi. Seharusnya lo happy sudah menjadi seorang istri dari Kak Abi.”
“Gue sedih aja karena Kak Abi ternyata berkorban banyak buat gue. Dia benar-benar melakukan yang terbaik buat gue. Bahkan kemarin gue sengaja keluar kamar mandi cuma pakai handuk doang. Biasanya gue gak pernah berani, tapi gue coba buat mancing dia. Apakah imannya bakalan luluh atau gak, apakah Kak Abi bakalan minta haknya dan bilang kalau kami sudah menikah.”
“Lalu?”
Larisa menggeleng.” Kak Abi masih saja menyembunyikan hal itu. Dia bahkan segera pergi ke kamar mandi setelah menyentuh gue sebentar.”
Kania sampai geleng-geleng kepala seakan ia tak percaya ada seorang laki-laki yang bisa menahan hasratnya meski yang disentuh sudah halal jadi miliknya. Bahkan wanita itu sampai mengangkat kedua tangannya di udara lalu ia pun sujud di atas lantai. “Gue benar-benar salut sama Kak Abi.”
Larisa pun tertawa melihat tingkah sahabatnya itu yang seolah-olah sedang menyembah suaminya.
Larisa menggeleng. “Gak yakin juga sih. Soalnya kami suka bermesraan di halaman setelah Kak Abi minta gue jadi pacarnya.
“Ya, itu karena dia tau kalau kalian sebenarnya sudah halal.
“Iya juga, ya.”
“Terus rencana lo apa?”
“Siap-gak siap gue akan jadikan malam ini malam yang spesial.”
“Maksud lo?” Kania memindai tubuh Larisa dengan tangannya dan wanita itu mengangguk.
“Ooh … kalau gitu lo harus ke salon dan spa melakukan perawatan sebelum melakukan hal itu.”
Larisa pun tertawa lebar.
“Apa perlu gue booking kamar presidential suite di hotel gue buat malam pertama kalian?” Kania bergegas mencari ponselnya di dalam tas.
Larisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Gak usah, Nia. Makasih atas niat baik lo. Tapi beneran gak usah. Gue maunya di sini, di villa ini. Semuanya berawal dari villa ini dan gue pengen villa ini menjadi saksi atas hidup kami.”
Kania tersenyum lebar. Ia pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
...🍣🍣🍣🍣...
“Kak Abi pulang jam berapa?” tanya Kania.
“Biasanya sore, sampai di rumah kadang jam setengah enam atau jam enam,” jelas Larisa. “Kenapa?”
“Kalau gitu kita masih bisa buat ke salon dan spa. Ayo, mumpung masih siang!”
__ADS_1
Larisa setuju. “Oke, kalau gitu gue siap-siap dulu.”
Mereka berangkat menuju salon langganan Kania. Selama di perjalanan Larisa menghubungi suaminya.
📞Jadi, Kakak pulang malam dong?
📞Iya. Gak papa kan? Soalnya tadi Kakak harus lihat pembangunan di hari pertama kata mandornya.
📞Oh, gak papa.
📞Ya, udah telponnya Kakak tutup dulu. Hati-hati di jalan, pulangnya jangan kemalaman.
📞Iya.
“Kenapa?” tanya Kania.
“Kak Abi bakalan pulang malam. Sebab jadwal pasien tadi siang di undur sampai sore karena tadi dia melihat pembangunan RS dulu,” jelas Larisa.
“Artinya kita punya banyak waktu. Jadi, bisa sekalian belanja.”
Kedua wanita itu akhirnya sampai di sebuah salon yang cukup besar. Bahkan pelangannya pun tampak ramai.
“Hey, cantik. Akhirnya kita ketemu lagi,” sapa Banci yang dulu menangani Larisa di villa. Namanya Sari.
“Hahaha iya,” jawab Larisa.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya Sari.
“Gue mau lo makeover dia,” jelas Kania.
“Maksudnya from head to toe?”
Kania mgangguk.
“Oke kalau gitu kalian bisa ambil paket lengkap.”
“Buat dia aja. Kalau gue cukup spa,” jelas Kania.
“Siap. Silahkan ditunggu sebentar.”
Akhirnya Larisa mulai melakukan beberapa perawatan tubuh di salon itu. Terakhir ia memangkas sedikit rambutnya yang sudah panjang sepinggang.
“Pokoknya saya gak mau di potong pendek,” jelas Larisa.
“Serahkan pada ahlinya,” kata Sari mulai melakukan tugasnya.
Cukup lama mereka di sana sampai semua selesai tepat sore menjelang. Kania pun memutari tubuh sahabatnya itu untuk memperhatikan penampilan Baru Larisa.
“Gimana? Suka gak, nek?” tanya Sari.
“Perfect!” Kania memuji hasil tangan laki-laki lembek itu.
“Makasih,” kata Kania.
“Your welcom,” jawab Sari.
“Nanti gue kirim bonus,” tambah Larisa.
Kemudian dua wanita itu keluar dari sana dan menuju sebuah mall terdekat.
...----------------...
Ada yang gak sabar kayaknya...
Siap-siap buat besok...
__ADS_1
Kita bakalan unboxing 😃😄😁
Tapi jangan lupa like 👍 dan komennya 🖊