Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 85


__ADS_3

Larisa dan Abi ikut merasa senang atas kehamilan Kania.


“Hamil itu apa, Papa?” tanya Kyra.


Semuanya tertawa. Mereka lupa kalau ada seorang putri kecil yang pastinya akan sangat penasaran dengan hal baru nan di dengarnya.


“Sekarang di perutnya Mami Nia ada benih dari Papi Boni,” jelas Larisa.


“Artinya nanti Mami sama Papi bakalan punya dedek bayi, dong?”


“Iya, sayang.”


“Terus nanti aku masih di sayang gak sama Mami, Papi.”


“Sini duduk sama Papi.” Boni segera mengambil Kyra dari gendongan Abi. “Mau nanti Papi sama Mami punya adik bayi banyak. Kita bakalan tetap sayang sama Kyra, karena Kyra juga anak Papi Mami.”


Gadis kecil itu merangkulkan tangannya di leher Boni. 


“Sekarang cium dedek bayi yang masih di perut Mami, dong. Bilang kalau ini Kakak Kyra.”


Kyra turun dari gendongan Boni dan menghampiri Kania. Ia mengelus perut yang masih rata itu dan memberikan sebuah kecupan. “Hai, dedek bayi ini Kakak Kyra. Nanti kalau kamu sudah lahir kita main bareng, ya.”


“Tentu, sayang. Peluk Mami, dong,” pinta Kania dan mereka pun berpelukan.

__ADS_1


“Akhirnya, selamat, ya, Bro. Kalian dikasih kepercayaan juga sama Allah.” Abi segera memeluk Boni dan menepuk punggung sahabatnya itu. Larisa pun juga ikut mengucapkan selamat pada Boni.


“Terus dedek bayi di perut Mama kapan tumbuhnya? Papa belum kasih benihnya ke Mama, ya?” tanya Kyra.


Mereka semua kembali tertawa dengan pertanyaan yang keluar dari gadis polos itu.


“Sabar, sayang. Papa lagi cari benih terbaik,” jawab Abi.


“Kalian berencana nambah anak lagi?” tanya Boni.


“Iya, Kyra sudah besar dan sudah pantas jadi Kakak.”


“Kalau Larisa hamil dalam waktu dekat, pasti seru nih,” timpal Kania.


“Aamiin.” Ucap mereka bersama.


“Jadi makan malam ini untuk merayakan kehamilan Kamu?” tanya Boni pada istrinya.


Kania mengangguk. “Idenya Larisa. Makanya tadi kita batalin makan siang, soalnya dia mau masak.”


“Makasih, ya, Sa. Kalau kamu gak bujuk Kania ke Rumah Sakit tadi, mungkin kami belum tau kalau dia lagi hamil.”


“Sama-sama, Kak. Aku senang bisa bantu kalian,” jawab Larisa.

__ADS_1


“Masak sih Dokter gak tau gejala orang hamil,” tanya Abi.


“Gue gak mau menduga-duga dan akhirnya berharap,” jelas Boni. “Tadi mikirnya dia mungkin lagi demam aja.”


“Karena sudah malam, kami kembali ke sebelah. Kania harus istirahat dan Kyra juga kayaknya sudah ngantuk,” sela Larisa.


“Iya, sekali-lagi makasih banyak buat kalian berdua juga Kyra,” ujar Boni.


“Kita sekarang keluarga, Bro. Susah senang pasti akan kami temani,” kataAbi.


Boni pun megantar kepergian Abi dan keluarga kecilnya sampai halaman villa. Setelah itu ia segera berlari masuk menghampiri Kania dan membawanya ke dalam gendongan.


...----------------...


Aku bawa rekomendasi lain lagi nih. Jangan lupa mampir nanti ya dan tinggalkan jejak kalian sebagai dukungan


Sekadar Istri Siri


Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.


Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.


Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?

__ADS_1



__ADS_2