Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 68


__ADS_3

Sampai di hotel, semuanya berkumpul di restoran. Seluruh keluarga Larisa berkumpul di sana mereka juga saling melepas rindu karena sudah lama tak bertemu sejak ia depresi.


Bahkan mereka tampak kaget melihat gadis itu kini tengah mengandung.


“Gak hamil di luar nikah kan?” Tante Larisa bertanya sambil bercanda. Sebenarnya Endra sudah menjelaskan pernikahan siri sang putri pada keluarga besar mereka sebelum datang ke Bali.


“Tante, ih,” kesal Larisa.


“Mama kamu mana?” Linda adik dari Davira bertanya pada Abi.


“Sepertinya masih di udara, Tante.”


Para saudara dan sepupu Larisa pun ikut hadir mereka semua sedang menikmati makanan disana. Ada yang belum sempat sarapan sebab mereka berangkat ke bandara pagi-pagi sekali. Meski sudah sarapan di pesawat tetap saja mereka marasa kelaparan.


“Berapa bulan, Sa?” tanya sepupu Larisa.


“Lima bulan.”


“Boy or Girl?”


“Cewek.”


“Ah, pasti seru deh punya anak cewek.”


“Makanya nikah. Kamu lebih tua dari Larisa masih single,” kata Om Larisa pada putrinya.


Tak lama keluarga Abi pun akhirnya sampai juga. Semua berbaur dan restoran hotel itu jadi makin ramai.


“Ternyata kita besanan sekarang, ya, Pak,” kata Raden paman Abi.


“Saya gak tau kalau Abi itu keponakan Anda,” ujar Endra.


“Papa sama Om saling kenal?” tanya Abi.


“Kita dulu pernah kerjasama,” jawab Endra.


“Apa Papa kenal sama Almarhum Papa saya?”


“Gak lah. Perusahan kita kerja sama dengan perusahaan mertua kamu setahun setelah Papa kamu meninggal,” jelas Raden


Abi pun megangguk paham.


Sampai jam makan siang mereka masih betah di sana. Karena sudah lama tak berjumpa banyak hal yang mereka bahas. Sepertinya satu hari ini tak akan cukup untuk saling mengetahui cerita satu sama lain.


Mereka pun makan siang bersama di meja panjang yang sudah disiapkan oleh pelayan restoran hotel. Abi memukulkan gelas dengan sendok kecil untuk mendapatkan perhatian dari seluruh keluarga. “Setelah ini kita ke kamar masing-masing untuk istirahat dan nanti kita kumpul lagi saat jam makan siang.”

__ADS_1


“Boleh jalan-jalan, gak?” sorak yang lain.


“Yang mau jalan-jalan silahkan. Nanti pihak hotelnya akan siapkan kendaraan. Saya sudah atur semuanya kita bisa sekalian liburan setelah acara pernikahan besok,” jelas Endra.


 


Para sepupu Abi dan Larisa yang masih muda bersorak gembira. Mereka bisa liburan dan jalan-jalan gratis selama di Bali.


“Berapa lama, Om?” tanya yang lain.


 “Dua hari setelah acara.”


“Saya tambahin dua hari lagi,” timpal Raden. Semua keluarga tampak happy.


Selesai sarapan mereka semua pun menuju kamar masing-masing. Tiba di kamar Larisa segera merebahkan dirinya di atas kasur.


“Capek, yang?” tanya Abi.


“Ho-oh. Ternyata keluarga kita rame, ya. Aku jadi pusing mau jawab pertanyaan mereka semua.”


“Hahaha gak papa. Ketemunya sekali-sekali, nanti habis ini kita semua bakalan sibuk dengan urusan masing-masing. Bakalan sulit buat ketemu lagi.”


“Papa, sini deh. Pijitin Mama.” Larisa menepuk kasur di sampingnya. 


“Sekalian tolong ambilin baju aku yang agak longgar,” sorak Laria dari atas kasur.


Abi membawakan baju daster yang kemarin mereka beli saat belanja di mall. “Mau sekalian di bantu ganti bajunya?”


“Boleh banget.”


Abi pun membantu Larisa berganti pakaian. Sesekali ia menggoda sang istri, mencium punggung mulus wanita itu atau meremas dua sumber kehidupan untuk putri mereka nanti.


“Nakal,” gerutu Larisa.


“Jadi pengen deh, yang,” kekeh Abi.


“Sabar. Pas di puncak besok kita puas-puasin.”


“Emang kenapa kalau sekarang?”


“Anggap aja kita lagi di pingit.”


“Dipingit apaan, orang tidurnya masih sekamar gini.”


“Udah ah, pakaiin baju aku, habis itu pijitin,” rengek Larisa.

__ADS_1


Abi memakaikan daster yang tadi di ambilnya dari dalam koper lalu ia memijat kaki ibu hamil itu. Tak lama Larisa sudah mengarungi alam mimpi dan ia pun ikut berbaring di samping sang istri. Tak lupa tangannya mengelus perut buncit Larisa hingga tanpa sadar kantuk pun membuatnya ikut terlelap.


...🥙🥙🥙🥙...


Usai makan malam Larisa dan Abi pun diminta untuk pisah kamar. Sebenarnya mereka harus menjalani pingitan sejak beberapa hari kemarin. Namun, karena Ibu hamil itu tak setuju akhirnya malam ini mereka berdua harus tidur di kamar yang berbeda.


“Aku sayang, Kakak,” kata Larisa. Ia memeluk erat suaminya sebelum mereka menuju kamar lain.


“Kakak juga sayang kamu,” balas Abi.


“Udah, La! Kalian kayak mau pisah lama aja,” sela Davira.


“Sedih tau, Ma.” Wajah Larisa tampak cemberut.


“Udah sana ke kamar. Kakak gak akan kabur, kok,” kata Abi mengusap kepala istrinya.


 “Aku percaya sama, Kakak.”


Terakhir Abi mengecup kening Larisa dan perut buncitnya. “Anak Papa bobok yang nyenyak.”


“Oke Papa.” Larisa menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


Pasutri itu berpisah di restoran. Abi masih stay di sana karena ia akan menghabiskan waktu malam ini bersama sepupunya yang laki-laki ditambah juga dengan sepupu dari Larisa.


Ibu hamil itu pun juga begitu. Ia menghabiskan waktu bersama saudara perempuannya dan saudara Abi di satu kamar yang sudah disiapkan. Anggap saja mereka sedang menikmati pesta lepas masa lajang. Tak sampai larut malam karena besok pagi mereka semua harus bersiap-siap sebelum menuju lokasi pernikahan. 


...🍩🍩🍩🍩...


Sebelum mentari menampakkan diri, semua keluarga dari pihak perempuan dan laki-laki tampak sibuk. Di kamar masing-masing mereka semua tengah memakai pakaian dan berdandan rapi. 


Begitu pula dengan Larisa, wajahnya sedang dipoles dengan make up oleh seorang MUA. Keduanya merasakan debaran yang sama. Meski secara agama mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, tapi tetap saja baginya ini adalah momen yang paling sakral dan sekali dalam hidup.


Dulu Abi mengucapkan ijab kabul hanya di depan penghulu dan para saksi, kini ia kembali mengucapkan janji suci itu di hadapan seluruh keluarga besar serta para tamu undangan. Yang artinya Abi mengumumkan kalau ia sudah memilih seorang wanita yang akan mendampinginya seumur hidup.


Bagi Larisa meski ia sudah menjadi istri dari Doktor Abista Mardhani dan tengah mengandung buah hati mereka, tetap saja ia merasa gugup, khawatir dan deg-deg an. Karena dulu ia pernah gagal menuju pernikahan, membuat rasa takut itu kembali menyeruak. Namun, ia berusaha yakin kalau Abi tak akan melakukan hal itu. 


Berkali-kali ia menarik nafas yang dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan perasaan yang tak karuan. Setelah riasannya selesai dan pakaian kebaya juga sudah melekat di tubuhnya, Larisa didampingi oleh beberapa saudaranya pun keluar dari gedung hotel menuju lokasi.


Keluarga dari pihak pengantin laki-laki sendiri sudah berangkat duluan bersama keluarga dari pihak perempuan lainnya. Abah serta Umi juga sudah berada di sana , mereka dijemput oleh supir pribadi Larisa tadi pagi.


Tepat ijab kabul dilakukan Larisa pun sampai di lokasi. Abi kembali mengucapkan janji suci itu dengan mahar yang sama namun ditambah dengan sedikit uang tunai yang jumlahnya hampir mencapai satu miliar. 


SAH … sorak para saksi dan keluarga besar mereka. Serta para tamu undangan yang datang pagi ini karena tak bisa hadir di acara resepsi nanti.


Abi mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah seraya mengaminkan doa yang sudah dibacakan oleh penghulu. Setelah itu pengantin wanita pun dipersilahkan memasuki lokasi.

__ADS_1


__ADS_2