
Larisa mengangguk. “Tadi aku ketemu dia saat meeting. Dia datang mewakili mertuanya karena sedang terbaring di Rumah Sakit.”
Cukup lama Endra terdiam. Kenapa ia tak menyadari hal itu. “Terus, bagaimana?”
“Apanya?”
“Kamu?”
Larisa menarik nafas dalam. “Sejujurnya sih aku biasa-biasa saja. Aku sudah berdamai dengan masa lalu. Toh sekarang kehidupan aku sudah bahagia, hanya saja ada yang mengganjal di hati aku. Entah kenapa setelah bertemu Bayu tadi, perasaan aku kembali khawatir.”
“Kamu sudah cerita sama Abi?”
“Belum. Nanti aku pasti cerita. Aku cuma mau memastikan dulu sama Papa.”
Endra membetulkan duduknya. “Kalau kamu merasa keberatan, silahkan batalkan saja kerjasama dengan perusahaan itu. Papa gak masalah kalau kita harus ganti rugi.”
“Awalnya aku juga mikir gitu.”
“Lalu?”
“Aku gak bisa ambil keputusan sendiri, bagaimanapun perusahaan itu bekerja sama dengan Papa awalnya. Jadi, Papa juga yang harus mengakhiri. Atau Dendi saja yang akan menangani soal kerja sama itu juga gak masalah.”
Suami Davira itu hanya terdiam.
“Aku cuma mau menyampaikan itu saja. Ayo, kita masuk! Sudah sore, Pa.”
Endra mengibaskan tangan nya mengisyaratkan agar putrinya itu masuk duluan. Sepertinya ia sedang memikirkan keputusan yang akan diambil.
__ADS_1
...🐨🐨🐨🐨...
Dikamar setelah makan malam, Larisa menceritakan soal pertemuannya dengan Bayu tadi pada suaminya. Dia juga menceritakan soal Endra yang akan memutus kontrak kerja sama mereka dengan perusahaan mertuanya Bayu.
“Menurut Kakak selagi dia bersikap profesional, gak masalah,” kata Abi.
“Entahlah, aku ikut keputusan Papa aja,” ujar Larisa. Wanita itu tangah bersandar di bahu suaminya.
“Justru nanti kamu yang akan di anggap gak profesional. Gak ada salah apa-apa kok main putus kerja sama. Jangan satukan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.”
“Aku akan tetap bersikap profesional, Kakak. Cuma kan tadi baru usulan aja dari Papa, kalaupun Papa mau memutus kontrak, ya, terserah beliau.”
“Besok kita bicarakan lagi sama Papa. Sekarang kita tidur, yuk. Kakak udah ngantuk.” Abi pun merebahkan kepalanya di atas bantal.
“Nanti dulu! Kakak kok gak ada cerita apa-apa sih sama aku?”
“Cerita apa, sayang? Emang gak ada yang mau di ceritain gimana dong.”
Pria itu kembali duduk menyandar di kepala ranjang. “Dia sih berusaha membuka obrolan sama Kakak. Cuma, ya, Kakak berusaha jawab seadanya setelah itu pergi atau pura-pura sibuk kerja aja untuk menghindar.”
“Terus apa kata Mama Ningsih?”
“Mama kan gak tau apa-apa. Mama cuma taunya Viona itu teman Kakak dulu waktu masih kuliah.”
Ibu hamil itu membulatkan mulutnya.
“Kenapa? Kamu cemburu?”
__ADS_1
“Gak, cuma tanya aja. Aku percaya sama, Kakak, tapi gak percaya sama Viona. Udah, ah, bobok, yuk! Larisa pun merebahkan badan.
Abi merasa kesal. “Tadi Kakak ajak tidur, kamu malah ajak ngobrol. Sekarang Kakak udah gak ngantuk lagi.”
“Makanya rebahan aja dulu, nanti pasti ngantuk.” Larisa menyelimuti dirinya.
Abi menggeleng ia segera membuka bajunya dan segera masuk kedalam selimut menjelajahi tubuh istrinya.
“Kakak,” pekik Larisa.
...🐸🐸🐸🐸...
Pas sarapan Abi pun membahas sedikit hal yang semalam di ceritakan Larisa dengan mertuanya. “Apa keputusan, Papa?”
“Papa akan memutus kontrak kerja sama,” jawab Endra.
“Kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya jangan. Biarkan kerjasama itu tetap berjalan. Toh ada Dendi yang akan menangani. Jangan hanya karena masalah pribadi dan itu juga sudah lewat, kita memutuskan secara sepihak. Meskipun Papa akan memberikan ganti rugi, saya rasa itu bukan tindakan yang profesional.”
“Bagaimana dengan kamu, La?” tanya Endra
“Aku sih terserah Papa,” jawab Larisa.
“Selagi dia bersikap profesional, maka kita juga harus begitu. Kecuali dia sudah melanggar batasannya baru, Papa, ambil keputusan,” tambah Abi.
“Kalau Mama setuju sama Abi. Kita juga gak punya alasan untuk memutus kerja sama itu. Toh selama ini kita gak mengalami kerugian. Selama kerja sama berjalan lancar, ya, kenapa gak di teruskan saja. Biar Dendi yang ambil alih kerja sama itu. Bereskan,” timpal Davira.
“Gimana, sayang?” tanya Abi.
__ADS_1
Larisa pun menghembuskan nafas panjang. “Oke. Kerja sama dengan perusahaan itu akan tetap berjalan, tapi Dendi yang akan mengurusnya. Aku akan mengurus kerjasama dengan perusahaan lain.”
Abi pun megangguk di iringi Davira. Endra pada akhirnya ikut dengan keputusan sang putri.