Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 29


__ADS_3

"Apa yang membuat, Kakak, belum memberikan jawaban atas permintaan aku kemarin?” tanya Larisa.


Abi menarik nafas dalam. “Kakak senang kamu sudah baik-baik saja, apa lagi sekarang dengan begini Kakak merasa semakin bahagia," jelas Abi.


“Bahagia kenapa?”


“Pasti bahagia dong! Memangnya kamu gak bahagia tinggal sama Kakak selama ini?”


“Bahagia. Aku berasa kayak di sayangi banget gitu.”


Abi mencolek hidung istrinya. “Kakak cuma takut hal-hal seperti ini hilang. Padahal Kakak sudah berjuang keras.”


“Kak, aku sebenarnya hanya sedang mencari jawaban apakah aku benar-benar sudah sembuh, itu saja kok. Kalau ditanya soal perasaan, aku yakin kalau sudah melupakan dia. Tapi aku butuh kepastian sebelum aku menentukan tujuan hidup setelah ini.”


Abi menundukkan wajahnya untuk menatap sang istri.


“Tenang! Aku pasti akan baik-baik saja. Tapi kalau, Kakak, masih takut dan belum yakin, gak papa kok.”


Abi hanya mengangguk paham. “Memangnya kamu ingin melakukan apa setelah yakin kalau benar-benar sembuh? Ingin kembali ke Jakarta?”


“Bukan. Aku gak akan ke sana untuk waktu ini.”


“Kenapa?”


“Kota itu memberikan hal buruk pada aku dan kota ini memberikan hal terbaik untuk aku. Jadi, aku putuskan untuk tetap stay di sini.”


“Setelah kamu yakin sudah sembuh, bagaimana dengan Kakak?”


Larisa terdiam sebentar. “Biasanya seorang Dokter pribadi akan meninggalkan pasiennya yang sudah sembuh. Apa, Kakak, akan pergi?”


“Kalau kamu masih membutuhkan Kakak, maka Kakak akan tetap di sini.”


“Kalau aku gak butuh lagi gimana?”


“Memangnya kamu bisa tanpa, Kakak?”


Larisa mengangkat kedua bahunya. 


“Sekarang kita tidur, yuk. Kakak, ngantuk nih,” ajak Abi.


Mereka membaringkan tubuh saling berhadapan. Abi begitu ingin menyentuh wanita yang ada di dekatnya ini, tapi apalah daya. Ia tak bisa karena Abi tak mau melakukannya dengan paksaan. Alangkah indah jika bisa melakukan hal itu atas dasar cinta dan saling suka. Jadi, sebisa mungkin ia harus menahan diri.


...🍈🍈🍈🍈...


Siangnya Abi mengajak sang istri duduk di taman untuk merasakan hembusan angin dari pantai.


“Nih.” Abi menyerahkan laptopnya pada Larisa.


“Buat apa, Kak?”

__ADS_1


“Katanya mau buka akun Instagram lama kamu. Silahkan.”


“Kakak, serius?”


Abi mengangguk. “Jujur, Kakak juga butuh jawaban atas segala pertanyaan yang ada. Jadi, kenapa gak kita sama-sama mencarinya. Kakak akan ada disamping kamu, siap menerima resiko terburuk."


Larisa memeluk pria itu lalu ia pun mulai mengetikkan nama serta sandi akun Instagram lamanya. Tak menunggu lama semua foto serta video Larisa saat masih bersama Bayu terpampang di depan mereka. 


Gadis itu mengamatinya cukup lama, ia juga menggulir sampai bawah. Mulai dari fotonya memakai kebaya saat akad akan di lakukan, pesta lamaran, waktu mereka pacaran dan terakhir saat mereka PDKT dulu. Tak ada yang dilewatkan Larisa. 


Abi yang menemani pasiennya itu tampak begitu tegang menunggu reaksi dari Larisa. "Kok, dihapus?" 


"Aku sudah mendapatkan jawabannya bahwa aku baik-baik saja. Rasanya hati ini benar-benar lepas. Jadi, aku bakalan isi akun ini dengan foto-foto kita nantinya. Itu pun kalau, Kakak, izinin aku akses sosial media tanpa pengawasan."


Abi segera memeluk sang istri. Apa yang dirasakan Larisa pun ia rasakan. Rasa takut yang tadi hinggap kini terbang entah kemana. Rasa penasaran yang selama ini terus mengusik pergi dengan cepat. Ia sangat bersyukur kalau wanita yang dicintainya sudah sembuh total. 


"Kakak senang banget akhirnya kamu benaran sembuh," ujar Abi. 


Larisa mengurai pelukan mereka. "Kakak, gak percaya sama aku sih, kemarin."


"Kamu beneran gak papa?"


"Buktinya aku baik-baik saja kan. Gak nangis gak apa-apa, biasa saja. Karena aku sudah ikhlas."


Sekali lagi Abi memeluk istrinya itu dan mendaratkan ciuman di seluruh bagian wajah Larisa, kecuali bibir. "Kita harus kasih tahu Mama dan Papa."


Abi tak dapat berhenti mengembangkan senyum di wajah tampannya. Membuat Larisa kembali mengagumi hal itu. 


"Gimana?" tanya Larisa


"Gimana apanya?" 


"Boleh gak aku punya ponsel pintar sekarang?"


"Nanti deh, Kakak pikir-pikir dulu."


"Ya udah terserah, Kakak, aja. Lagian aku juga gak butuh-butuh amat kok."


"Oke. Oh, ya mulai sekarang, Kakak akan serahkan semuanya ke kamu. Mau tetap ikut les atau gak, pokoknya sekarang kamu bisa putuskan mau melakukan apa. Selagi itu yang terbaik, Kakak akan selalu dukung," ujar Abi. 


Larisa memeluk suaminya. "Makasih, ya, Kak, sudah percaya kalau sekarang aku bisa kembali mengambil keputusan dalam hidup ini."


"Sama-sama, sayang. Tapi kalau kamu butuh saran atau masukan, Kakak siap memberikannya."


Larisa tersenyum dan mengangguk. 


"Oke, buat merayakan hal ini kamu mau apa? Biar, Kakak penuhi."


"Mau ponsel baru … hehehe, gak kok aku becanda. Gimana kalau kita belanja sekalian aku mau ke salon."

__ADS_1


"Boleh, lets go kalau gitu."


...🥐🥐🥐🥐...


Seperti biasa setiap satu bulan sekali Endra dan Davira akan mengunjungi putri mereka. Jadi, kini mereka tengah berada dalam perjalanan menuju villa.


“Pa, apa sebaiknya kita aja yang jelasin ke Larisa kalau mereka sudah menikah?” tanya Davira.


“Jangan, Ma. Kita gak usah ikut campur karena itu rumah tangganya mereka. Papa yakin Abi pasti punya alasan kenapa sampai sekarang dia belum bilang tentang hal itu pada istrinya.”


“Tapi, Pa. Mama tuh gak sabar loh buat nimang cucu, apalagi Mama kasihan sama menantu kita. Dia harus menahan keinginannya, padahal Larisa sudah menjadi haknya.”


“Serahkan semuanya pada Abi, Ma. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Jadi, Mama sabar aja.”


Sampai di villa mereka disambut oleh anak dan menantu. Seperti biasa Larisa pasti akan memasak makan malam spesial. 


“Nak, besok Papa dan Mama akan Langsung terbang ke Singapura. Jadi, kami cuma bisa sehari di sini,” jelas Endra.


“Ngapain ke Singapura, Pa?” tanya Abi.


“Papa mau ketemu klien di sana.”


“Berapa hari, Pa?” tanya Larisa.


“Tiga hari. Kalian mau di bawain oleh-oleh apa?”


“Karena ulang tahun aku tiga minggu lagi jadi, aku minta kado dari sana,” ungkap Larisa.


“Kamu mau apa, sayang?” tanya Davira.


“Terserah, Mama, Papa aja.”


“Yaahh kamu pake acara ingat segala lagi. Padahal Kakak pengen kasih kejutan pas kamu ulang tahun,” tutur Abi.


“Larisa itu gak pernah lupa sama hari ulang tahunnya,” jelas Davira.


“Kado aja kalau gitu, Kakak, siapin nanti.”


Obrolan ini terus berlanjut sambil menikmati makanan yang ada di atas meja makan.


“Apa perlu kita rayakan?” sosor Davira.


“Gak usah, Ma. Cukup kita aja sekeluarga,” jawab Larisa. 


“Nanti Kakak akan booking satu restoran buat kita makan malam spesial pas ulang tahun kamu,” ungkap Abi.


“Kalau itu, Papa setuju.”


Dari meja makan dua orang tua itu menuju kamar mereka yang ada di lantai dua untuk membersihkan diri lalu istirahat. Karena Endra merasa sudah sangat lelah, dari kantor ia langsung terbang ke Bali karena tak ingin mengecewakan sang putri yang sudah menunggu.

__ADS_1


__ADS_2