Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 63


__ADS_3

Pasangan itu kini tengah menikmati waktu santai di ruang tengah dekat kamar sambil menonton film dan tentunya ditemani cemilan. Sejak Larisa tak lagi mual dan muntah, selera makannya jadi bertambah. Ia tak tahan jika mulutnya tak mengunyah makanan.


“Seminggu lagi satu bulan, ya, Yang?” tanya Abi mengelus perut istrinya.


“Ho-oh. Kenapa emang?”


“Gak sabar buat lihat jenis kelaminnya.”


“Dia cewek,” celetuk Larisa.


“Kamu yakin?”


Ibu hamil itu mengangguk. “Aku ibunya dan feeling aku bilang kalau dia cewek.”


“Tapi Kakak tetap mau pastikan.”


“Terserah, tapi kalau nanti tebakan aku benar gimana?”


“Istri, Kakak, maunya apa?”


“Tiap minggu kita jalan-jalan cari makanan.”


“Oke kalau gitu. Deal. Tapi kalau dia cowok?.”


“Ya gak papa.”


“Kamu curang, ah.”


“Terus, Kakak, maunya apa?”


“Kakak, boleh beli motor, ya? Kan dari kemarin-kemarin gak boleh.”


“Oke. Tapi kayaknya aku yang menang deh.”


“Kita lihat aja nanti.”


...🐷🐷🐷🐷...


Pagi ini calon Ibu dan Ayah itu menuju rumah sakit untuk melakukan kontrol bulanan kandungan Larisa. Mereka berdua tampak sangat antusias karena ingin segera tahu jenis kelamin dari si cabang bayi.


“Semuanya normal, gak ada masalah,” jelas Dokter kandungan melihat monitor USG.


“Kelaminnya, Dok,” sela Abi.


Agak lama Dokter itu memutar-mutar alat USG di perut Larisa. “Ini, baru kelihatan, sepertinya cewek, ya, Pak.”


Larisa pun tersenyum lebar sedangkan Abi sedikit menekuk wajahnya namun ia kembali tersenyum.


“Ibunya gak ada keluhan, kan?”tanya Dokter pada Larisa.


“Gak, Dok. Semua aman. Cuma makan aja yang kebanyakan.”


"Gapapa, berat badan bayinya normal, kok sesuai dengan bulannya. Tapi nanti kalau sudah berlebihan pasti akan saya igatkan.”


Larisa pun di bantu suster merapikan kembali pakaiannya sedangkan Abi menunggu di kursi meja Dokter.


“Cukup minum susu hamil aja, ya Pak. Kalau mau nambah vitamin gak papa. Saya gak akan meresepkan apa-apa. Karena pastinya vitamin Ibu hamil banyak yang bagus di luaran.”


“Terimakasih, Dok, kalau begitu kami permisi.”


Dokter itu mengangguk. “Silahkan.”


“Gak papa deh, gak jadi beli motor asalkan Mama sama Baby girl nya sehat,” ujar Abi mengiringi langkah istrinya.


“Hahahah gak papa. Kalau, Kakak, mau beli motor beli aja buat kita jalan-jalan sore naninya.”

__ADS_1


“Serius nih?”


“Iya. sekali-kali kita jalan naik motor, ya dek,” kata Larisa pada perutnya.”


“Oke besok, Papa, akan beli motor dan bawa Mama sama Baby Girl jalan-jalan.”


Mereka pun segera masuk kedalam mobil pas sampai di parkiran. Abi pun mengantar sang istri kembali ke Villa setelahnya ia baru ke klinik.


...🐸🐸🐸🐸...


“Oh, ya, Buk, hari ini Bapak Endra sama Ibu Davira akan berangkat ke Bali,” jelas Indah pada Larisa.


“Cepat sekali, biasanya mereka datang pas Jumat sore. Ini baru juga hari Rabu kan.”


“Maaf, Bu, kalau alasannya saya kurang tau.”


“Gapapa. Kamu tolong jemput mereka ke bandara nanti sore, ya.”


“Siap, Bu.”


“Kak,” Larisa menghampiri suaminya yang masih siap-siap di kamar.


“Ya, sayang, ada apa?”


“Coba telpon Mama Ningsih, deh. Kapan berangkatnya ke sini. Soalnya Mama sama Papa berangkat sekarang.”


“Semalam Mama kirim pesan ke, Kakak, katanya berangkat besok.”


“Oh, aku pikir berangkat bareng Mama, Papa.”


“Awalnya gitu. Tapi Mama gurus beberapa hal dulu di RSJ,” jelas Abi. “Kakak, udah siap nih. Kita sarapan ke bawah, yuk!”


Mereka menuruni anak tangga beriringan.


“Kamu nanti pasti masak makan malam kan? Kakak ajak Boni makan di sini gak papa? Soalnya, Kakak pernah janji sama dia,” tanya Abi


“Boleh lah.”


Larisa pun mengajak Indah untuk sekalian sarapan meski sebenarnya wanita itu sudah sarapan di hotel tempatnya menginap. Ia tak bisa menolak karena Ibu hamil itu terus memaksanya.


...🐵🐵🐵🐵...


“Buk, saya berangkat ke Bandara buat jemput Bapak sama Ibuk. Tapi dari sana saya langsung pulang ke hotel, ya,” ijin Indah.


“Gak makan malam di sini? Sekalian nginep?” tanya Larisa.


“Gak, Bu. Ibu saya kebetulan lagi di sini.”


“Di hotel? Kenapa gak bilang kemarin? Kan kamu bisa tinggal sama saya di villa.”


“Gapapa, Bu. Hotelnya aja udah bagus, kok. Kalau begitu saya berangkat sekarang. Sopir juga udah siap di depan.”


“Beneran kamu gak papa pulang sendirian nanti?”


“Aman kok, Bu.”


“Ya sudah. Hati-hati kalau gitu. Nanti kabari saya kalau sudah sampai di hotel.”


“Baik, permisi.”


Larisa pun kembali menyelesaikan masakannya dan Indah segera menuju mobilnya di halaman.


...🐥🐥🐥🐥...


“Bereskan, Pak. Kalau gitu saya berangkat sekarang,” kata Kania pada atasannya.

__ADS_1


“Kemana kamu?”


“Makan malam, Pak.”


“Sama pacar kamu, ya?”


“Bukan, Pak. Sama sahabat saya. Bapak kepo deh, saya jalan, ya, udah telat nih gak enak nanti di tungguin." Kania pun buru-buru masuk ke dalam lift. Sampai di lantai dasar ia berlari kecil menuju parkiran.


“Lah kunci mobil di mana lagi,” gumam Kania memeriksa tasnya. Karena tak fokus pada jalanan ia sampai menabrak seseorang.


“Aduh, sorry banget gue gak sengaja,” katanya segera Bangkit dari aspal.


“Kamu gak papa?” tanya orang yang ditabrak Kania tadi.


“Oh, gue gak papa. Lo sendiri amankan? Sorry banget gue buru-buru.”


“Iya, saya gak papa.”


“Yaudah gue tinggal dulu.” Larisa segera menuju mobilnya yang tak jauh dari tempat dia berdiri. “Kok gak bisa dibuka sih,” gumam Larisa memencet kunci mobil yang ada di tangannya.


“Mbak, maaf ini mobil saya,” jelas pria yang ditabraknya tadi.


Kania menepuk jidatnya. Ah, itu mobil gue.” Tunjuknya mengarah ke mobil yang ada di sebelah mobil orang itu.


“Maaf, ya.” Kania pun sedikit malu dan bergegas memasuki mobilnya.


Di perjalanan Larisa pun menghubunginya


📞Iya, ini gue lagi di jalan. Orang tua lo belum sampai kan?


📞Belum mereka baru aja mendarat


📞Oh, bagus. Gue lima menit juga sampai kok


📞Oke gue tunggu. Daa


Kania menutup sambungan ponsel itu. Tak sengaja pandangannya menangkap mobil orang yang tadi ditabraknya mengikuti dari belakang.


“Kok dia ngikutin gue, ya?” gumamnya.


Bahkan sampai di depan villa mobil sedan hitam itu juga ikut masuk bersama mobilnya Kania. Wanita itu merasa tak terima ia bergegas turun dari dalam mobil dan menghampiri orang tadi.


“Kamu ngikutin saya? Buat apa?” sosor Kania tepat di depan wajah orang itu.


Orang itu pun menggeleng dengan cepat. “Saya emang mau kesini, kok. Ini villa teman saya.”


“Lo jangan ngaku-ngaku, deh.”


“Eh, beneran, Mbak. Kalau gak percaya masuk aja dulu.”


Mereka berdua menunggu didepan pintu sampai si tuan rumah datang untuk membukakan.


“Loh, kok kalian bisa barengan?” tanya Abi.


Mata Kania membelalak tak percaya, ternyata orang yang di tuduhnya tadi kenal dengan Abi. Ia sampai menutup wajah dengan tangan saking malunya menatap orang yang masih berdiri di sampingnya.


“Masuk,” ajak Abi.


Kania pun bergegas nyelonong ke dapur menemui Larisa.


“Kalian saling kenal?” tanya Abi pada Boni.


“Gak sengaja ketemu di depan hotel tadi.” Boni pun menceritakan kejadian lucu yang baru saja ia alami.


Di dapur sendiri Kania membantu Ibu hamil itu menata makanan dimeja makan.

__ADS_1


“Mereka pada ngomongin apa, ya? Ketawanya segitu banget,” tanya Larisa.


Kania hanya pura-pura tak mendengar tawa menggelegar dari ruang tamu. Pastinya pria tadi menceritakan kejadian memalukan itu pada Abi.


__ADS_2