
Sayang, besok kita cek kandungan dulu sebelum berangkat kerja,” kata Abi.
Larisa yang tengah menemani sang putri mengerjakan prakarya hanya menganggukkan kepala.
“Kyra boleh ikut gak, Pa?” tanya anak mereka.
“Boleh, sayang.”
“Kalian ke Rumah Sakit mana?” tanya Endra.
“Rumah Sakit J, Pa,” jawab Abi.
“Kalau begitu kita bareng aja, sekalian Papa mau jenguk rekan bisnis di sana.”
“Siapa, Pa?” tanya Larisa.
“Mertuanya, Bayu.”
Wanita itu hanya membulatkan mulutnya.
“Kalau bisa kamu ikut, ya, temenin, Papa.”
“Papa, ditemani Aspri, Papa aja, deh.”
“Sekalian nanti kamu bisa kenalan sama anaknya. Kabarnya dia yang akan menggantikan posisi orang tuanya di kantor.”
“Lihat besok, deh.”
Davira mengingatkan suaminya agar tak memaksa sang putri dan Endra pun akhirnya mengalah. “Ya, udah gak papa kalau gak ikut, Papa.”
__ADS_1
Malam sudah mulai Larut Larisa dan Abi pun mengantar putri mereka ke kamar. Setelah Kyra terlelap barulah mereka pindah ke kamar sendiri.
Di kamarnya Larisa berjalan dengan gontai menuju kasur.
“Kenapa?” tanya Abi.
“Aku mau pulang.”
“Pulang kemana?”
“Ke villa kita. Kenapa sekarang hampir setiap hari hidup aku harus berurusan dengan Bayu? SEmakin aku ingin menghindar, malah semakin sering dipertemukan.”
Abi merengkuh wanitanya itu kedalam pelukan. Memberikan usapan lembut di punggung sang istri. Tak perlu berkata-kata cukup hal sederhana seperti ini mampu membuat Larisa merasa lebih tenang. Karena memang itulah yang paling dibutuhkan oleh seorang wanita, dengarkan keluh kesahnya dan berikan dia sebuah pelukan hangat nan nyaman. Maka dia akan merasa lebih baik sebab tahu kalau orang yang dicintai akan selalu ada menemani.
“Sekarang kita tidur, yuk!” Abi mengurai pelukan mereka.
“Aku mau digendong.” Larisa merajuk.
“Naik ke atas kasur.”
“Aduh, kayaknya pinggang Kakak encok deh.” Abi berpura-pura kesakitan sambil memegangi sebelah pinggangnya.
“Iih, Kakak.” Larisa menghentakkan kaki di lantai.
Suaminya pun menatap dengan tajam. “Kebiasaan kayak gitu. Gak inget apa lagi hamil?”
“Makanya gendong.” Ia pun mengulurkan tangan.
“Iya deh. “ Abi pun merangkulkan satu tangannya di pinggang Larisa dan satunya lagi di bawah paha. Sekali angkat wanita itu sudah melayang di udara.
__ADS_1
“Jadi pengen honeymoon sama babymoon lagi,” kata Larisa.
“Nanti pas kandungan kamu pas tiga bulan kita ke Bali.”
“Beneran? Nanti gak jadi lagi kayak kemarin.”
Suaminya mengangguk. “Kali ini beneran, kalau kemarin kandungan kamu masih muda dan riskan kalau kita pergi jauh.” Abi menjawab sambil membaringkan isrinya di atas kasur, lalu ia pun ikut berbaring di sana. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua supaya hangat.
Larisa pun memeluk suaminya dan membenamkan kepalanya di dada Abi. Keduanya pun sama-sama memejam mata.
...⚽⚽⚽⚽...
Ketika sarapan Larisa mengatakan pada Endra kalau dia akan ikut menjenguk mertuanya Bayu di Rumah Sakit nanti. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi sang Papa menyambutnya dengan senang hati.
“Kalau gitu biar aku berangkat sama Papa aja, Kak. Kakak duluan aja ke RS nya,” kata Larisa.
“Gak papa, sayang, Kakak tetap mau nemenin kamu,” jawab Abi.
“Nanti, Kakak terlambat loh.”
“Iya, Bi, kamu duluan aja. Ada Mama sama Kyra yang akan temani Larisa,” sela Davira.
Setelah di pikir-pikir Abi pun setuju kalau kali ini ia tak ikut menemani sang istri memeriksa kandungan. “Oke, deh.”
Selesai sarapan Larisa melepas kepergian suaminya terlebih dahulu, setelahnya barulah ia dan Endra juga Davira serta sang putri masuk kedalam atu mobil menuju Rumah Sakit.
“Kita jenguk rekan bisnisnya Papa dulu,” kata Endra.
“Iya,” Larisa.
__ADS_1
“Terus lihat dedek bayi kapan?” tanya Kyra.
“Nanti sayang. Kita jenguk temannya Opa dulu, habis itu baru lihat dedek bayi,” jelas Larisa.