
Ponsel Bibik juga dipinjamnya, tapi sang ART pun menolak dengan alasan yang sama seperti suster Ulfa. Larisa kembali memikirkan cara lain. Ia harus membeli ponsel baru dan menyembunyikan dari Abi. Tapi ia akan membelinya pakai apa? Sedangkan selama ini jika ingin membeli sesuatu maka ia tinggal bilang pada Abi.
Gak mungkin kan ia bilang pada pria itu ingin membeli ponsel baru, sudah pasti tak akan dipenuhinya. Kalau ia beli sendiri di mall bisa saja sih, tapi duitnya dari mana. Ia sama sekali gak megang uang cash. Apa minta sama Abi dan bilang ingin shopping saja? Sepertinya itu ide yang bagus.
“Kak?”
“Hhmm.” Abi sedang fokus pada layar laptopnya di ruang tengah.
“Besok aku boleh ke mall gak?”
“Tumben, ngapain?”
“Mau shoping. Udah lama gak belanja-belanja.”
“Tunggu Kakak libur saja, nanti kita pergi bareng.”
Larisa menekuk wajah karena kesal akibat rencananya gagal total. Ingin pergi sendiri tapi malah pria ini ingin menemani.
...🍆🍆🍆🍆...
Pas libur Abi menepati janjinya mengajak sang istri jalan-jalan ke mall. Tapi wanita itu tak semangat karena yang ingin dibelinya tak bisa di dapat. Abi sudah menawarkannya untuk membeli ini dan itu, tapi ditolak. Mereka hanya keliling di dalam mall tanpa membeli satu barang pun. Akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong.
“Kamu kenapa sih, La? Katanya mau shopping, tapi udah Kakak bawa ke mall gak beli apa-apa,” tanya Abi yang sedang mengemudi.
“Udah gak mood. Pengennya kemarin,” ketus Larisa.
“Kemarin kan Kakak kerja, sayang, jadi gak bisa nemenin kamu.”
“Tapikan aku bisa pergi sendiri.”
“Kakak gak akan biarin kamu kemana-mana sendirian. Kakak akan temani kamu kemanapun.”
Larisa memangku tangan di dada sekalian menghempaskan punggungnya di bangku yang ia duduki. Ia kesal sekaligus resah karena sampai sekarang belum bisa menemukan cara untuk mempunyai ponsel agar bisa membuka akun IG lamanya.
...🌽🌽🌽🌽...
Kali ini Larisa mencoba membujuk sang Mama untuk mengirimkan uang belanja. Tapi wanita itu selalu menanyakan untuk apa uang bagi putrinya. Bukankah Abi sudah memenuhi semua kebutuhan serta keinginannya?
Akhirnya ia menyerah lalu menjelaskan keinginan dan tujuannya. Davira tak langsung mengiyakan permintaan sang putri. Ia meminta waktu untuk memikirkan hal itu.
__ADS_1
📞Gimana, Ma?
Larisa meminta kepastian pada sang Mama atas permintaannya kemarin.
📞La, sebaiknya kamu jelaskan baik-baik pada Abi tentang keinginan kamu itu. Mama rasa Abi akan memberikan kamu kesempatan.
Ia melorotkan bahu karena ternyata harapan tak sesuai keinginan. Sang Mama sudah jelas menolak apa yang dimintanya.
📞Tapi, Ma.
📞La, Mama bisa aja memenuhi permintaan kamu, tapi Mama takut terjadi sesuatu sama kamu.
📞Gak akan kok, Ma. Aku yakin bisa mengontrol diri.
📞La, sekarang kamu sedang dalam pengawasan Abi, dia juga bertanggung jawab atas kamu. Mama gak mau ikut campur tentang hal ini karena menyangkut kesehatan kamu. Kalau kamu memang butuh dan ingin, maka jelaskan pada Abi.
📞Ma!
📞Maaf, sayang. Mama rasa Abi juga berhak tahu tentang itu.
Larisa menghembuskan nafas kasar dan ia memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Hal yang selama ini berusaha ia hindari, berusaha melalui jalan lain tapi ujung-ujungnya harus dilalui juga.
Setelah memikirkan nasehat sang Mama dan meyakinkan diri, akhirnya Larisa memutuskan untuk menceritakan keinginannya itu pada Abi. Ia tak mau jika terus berada dalam keraguan tentang hatinya pada Bayu sebelum dipastikan. Bukan berarti ia masih mencintai mantannya itu, hanya saja ia butuh keyakinan kalau rasa itu benar-benar sudah hilang dan ia baik-baik saja ketika melihatnya.
“Kak.” Larisa menghampiri Abi yang sedang duduk di halaman.
“Ada apa?”
“Aku mau bicara.”
“Oke, kalau begitu kita ke dalam. Udara disini sangat dingin, nanti kamu kedinginan lagi.”
Mereka menuju ruang tengah.
“Bicara apa?” tanya Abi menatap wajah istrinya.
“Boleh aku bukan akun Instagram yang lama?”
“Buat apa?” Abi bertanya dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
“Hanya untuk meyakinkan perasaan dan hati aku terhadap Bayu.”
Abi terdiam cukup lama, ia sepertinya sedang menimang-nimang baik buruk dari hal tersebut,t jika permintaan sang istri di penuhi. Tak menampik ia sebenarnya juga penasaran dan ingin tahu, tapi semua tak semudah itu. Abi tak mau gegabah dalam mengambil keputusan.
“Kemarin aku sempat pinjam ponsel Suter Ulfa dan Bibi, tapi mereka gak mau. Katanya takut, Kakak, akan marah besar. Aku juga sempat ingin beli ponsel baru tanpa sepengetahuan, Kakak. Itu sebabnya pas kita ke mall aku gak beli apa-apa, karena rencananya aku mau pergi sendiri. Aku juga minta sama Mama, tapi dia malah nyuruh aku untuk jujur dan bicara sama, Kakak.” Larisa menjelaskan dengan kepala tertunduk.
Abi menarik nafas dalam untuk menetralkan hatinya yang sempat merasa marah atas tindakan yang dilakukan sang istri.
“La, kamu tau gak jika hal yang kamu lakukan itu beresiko?”
Larisa cuma terdiam.
“Kalau seandainya kamu berhasil membuka akun lama itu dan melihat foto serta kenangan kalian dulu, kamu kembali depresi gimana? Kamu gak bisa mengontrol diri seperti kejadian di mall? Apa gunanya, Kakak, mengawasi kamu selama ini, kalau bukan untuk menjaga kamu agar usaha yang Kakak lakukan tidak sia-sia.”
Istrinya terus menundukkan kepala.
“Kalau ditanya kamu sudah sembuh atau belum, jawabnya tentu kamu sudah sembuh. Tapi gak ada jaminannya kalau depresi itu akan hilang. Dia bisa kembali lagi bertahun-tahun kemudian. Apalagi kamu baru sembuh beberapa bulan, itu terlalu cepat. Kakak gak mau mengulang lagi dari awal.” Suara Abi memang terdengar biasa aja tapi setiap katanya penuh dengan penekanan yang mengartikan kalau dia sedang marah.
“Maaf, tapi aku cuma butuh keyakinan. Aku merasa terjebak dalam sebuah teka-teki, makanya aku ingin jawabannya untuk bisa keluar dari sana. Agar aku merasa benar-benar sudah lepas dari hal itu,” jelas Larisa
Abi berkali-kali membuang nafas kasar, ia tak mau amarah menguasai diri lalu melakukan hal yang nantinya akan ia sesali. Melihat istrinya menangis ia segera memeluk wanita itu dan menenangkannya.
“Beri Kakak waktu untuk memikirkan hal ini. Kakak sayang sama kamu.”
“Kakak, marah, ya, sama aku?”
“Iya, Kakak marah karena hal yang kamu lakukan itu salah. Lain kali jangan ulangi lagi! Apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu inginkan, bicara sama Kakak untuk menghindari hal-hal yang Kakak takutkan.”
Larisa mengangguk dalam dekapan suaminya.
Mereka berdua sama-sama butuh jawaban akan hal itu. Jawaban tentang reaksi Larisa terhadap sang mantan juga si penyebab ia depresi.
...----------------...
Mana sih, like 👍 dan komennya 🖊?
Sepi amat... pdhal udh up date 2 bab sehari loh...
Jadi gk semangat nih... 😔😟
__ADS_1