Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 117


__ADS_3

Larisa mengabari suaminya kalau rapat akan selesai hingga sore, Kyra dan Davira pun sudah pulang duluan. Jadi, Abi harus menjemput istrinya ke sekolahan. Saat ia keluar dari kelas sang puri ternyata Bayu sudah menunggunya di depan sana bersama putranya.


“Sa, ini puta ku. “Bayu memegangi anaknya yang sedang memakan es krim.


Wanita itu sempat kaget, ia tak tau harus bersikap seperti apa. “Hai,” sapanya.


“Kenalin, ini Tante Larisa. Teman Papa waktu kuliah, berkat dia Papa bisa menyelesaikan kuliah Papa,” kata Bayu pada anaknya.


Namun, putranya itu tak peduli. Ia memilih mendekati susternya dan tampak asik menjilati es krim yang sudah meleleh di tangan. 


“Maaf,ya, Sa. Anakku gak seperti anak-anak lainnya.”


“Aku paham dengan kondisinya.”


“Bilang hai sama Tante, nak,” pinta Bayu.


Putranya itu mulai merengek karena ia merasa terusik. “Gak mau!”


“Jangan gitu, Edo. Papa gak suka.”


“Gak mau! Gak mau! Gak mau.” Lalu anak laki-laki itu berlari menerobos Larisa, membuat wanita itu tak seimbang. Bayu yang awalnya ingin menolong sang mantan, terlambat sudah karena Abi datang menahan tubuh istrinya.


“Kamu gak papa kan?” Dengan wajah khawatir Abi bertanya pada Larisa.


Larisa menetralkan nafasnya sambil menggelengkan kepala.


“Maafkan putra saya,” pinta Bayu.

__ADS_1


“Kali ini saya maafkan, lain kali kamu harus hati-hati. Istri saya sedang hamil kalau tadi dia jatuh-.”


Larisa menahan agar Abi tak melanjutkan ucapannya. 


“Sebaiknya kamu tenangkan anak kamu. Sepertinya dia tidak suka dipaksa,” kata Larisa.


Bayu menunduk. “Sekali lagi aku minta maaf.”


“Saya maafkan. Kalau begitu kami pergi dulu, permisi.” Larisa menarik tangan suaminya agar mereka segera pergi dari sana.


Sampai di depan mobil, Abi kembali memastikan kondisi sang istri. “Beneran gak papa?”


“Gak papa, Kak. Aku gak jatuhkan.”


“Untung aja Kakak datang tepat waktu. Lagian kenapa bisa sih, anaknya sekolah di sini juga.”


“Kakak jadi mulai risih, kemana-mana selalu ketemu dia. Terus ngapain juga dia pakai acara nungguin kamu disana dan ngenalin anaknya ke kamu,” kesal Abi.


“Kakak tau dari mana dia nungguin aku?”


“Kakak udah nyampe dari setengah jam yang lalu. Kakak lihat dia berdiri di depan kelas Kyra, makanya Kakak milih nunggu di sini aja. Pikir Kakak dia nungguin siapa, ternyata kamu. Baru Kakak saperin,” jelas Abi.


Larisa hanya tersenyum lalu mengecup sekilas bibir suaminya itu. “Cemburuan amat sekarang. Aku tadi gak enak kalau mau langsung pergi gitu aja. Takutnya nanti aku malah dikira menghindari anaknya, bicara soal anak keterbelakangan mental agak sensitif, Kak. Kadang kita harus pintar bersikap.”


Abi membuang nafas kasar. “Iya juga sih, ntar dikira orang kamu mah sombong lagi.”


“Itu tau. Yuk, pulang! Aku capek plus laper.”

__ADS_1


Abi mencubit gemas pipi istrinya. “Cium lagi, dong. Sekali-kali dicium depan umum, bangga banget rasanya.”


“Ih, lebay deh. Gak aku cium juga orang tau kalau kita suami istri.”


“Beda, yang. Rasanya itu gimana, ya.”


Larisa menggeleng.


“Sekali lagi,” rengek Abi.


Terpaksa Larisa mendaratkan satu kecupan lagi tapi di bagian pipi suaminya. “Udah, yuk pulang.”


Abi tersenyum puas. Sebenarnya ia ingin memperlihatkan pada Bayu kemesraan mereka, seakan menegaskan kalau Larisa adalah miliknya jadi, jangan pernah mendekatinya. Ia sadar kalau sedari tadi mantan istrinya itu memperhatikan mereka dari jauh sana. 


Lanjut besok... 👋👋👋


Jangan lupa dukungannya like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 sama vote 🔖


satu lagi aku lupa ⭐ limanya...


terima kasih...


BTW klw ada yg mau, ikuti aku di sosial media, ya..


FB : RiJe


IG : Rije. 95

__ADS_1


__ADS_2