Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 81


__ADS_3

Ibu dan anak itu berjalan beriringan menuruni anak tangga. Di meja makan para orang tua dan Abi sudah menunggu kedatangan mereka.


“Opa, Oma, Eyang nanti temani Kyra buka semua kado, ya," pinta si cucu.


“Baik, sayang,” jawab Davira.


“Mama sama Papa gak di ajak?” tanya Ningsih.


“Papa sama Mama mau bikin kado buat aku katanya. Jadi, malam ini gak boleh diganggu.” Jawaban polos dari Kyra mengundang gelak tawa Endra, Davira dan Ningsih.


Sedangkan Abi dan Larisa sempat melotot karena kaget mendengar penjelasan dari putri mereka.


“Apa kalian perlu honeymoon lagi?” tanya Davira.


“Gak usah, Ma. Kalau kita liburan Kyra sama siapa,” tolak Larisa.


“Kalau mau Papa bakalan sewa satu kapal pesiar buat kalian. Sekalian ajak Boni dan Kania. Kyra biar kita yang jagain di sini.”


“Nanti biar KakAbi atur jadwalnya dulu.”


Endra pun mengangguk setuju.


Setelah obrolan ringan itu mereka semua menyantap makan malam dalam diam, hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar. Perut terasa kenyang Abi dan Endra pun beranjak dari sana menuju halaman samping hanya untuk menikmati udara malam. Sedangkan Larisa di bantu Bibik membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


“Kyra bisa bawa piring kotornya sendiri ke wastafel kan?” tanya Kania.


“Baik, Mama.”


“Biar Eyang bantu, sayang,” timpal Ningsing.


“Gak usah, Eyang. Kyra sudah besar artinya sekarang Kyra haru bisa melakukan ini sendiri.”


“Ooh, baiklah kalau begitu.”


“Dia baru saja berulang tahun yang kelima, tapi kenapa sikapnya sudah dewasa seperti itu,” ujar Davira.

__ADS_1


Ningsih pun menghela nafas panjang. “Kayaknya Abi harus segera membuat Larisa hamil lagi. Kita kehilangan sosok Kyra yang manis, lucu dan imut.”


“Apakah para Nenek merindukan kehadiran bayi lagi?” timpal Larisa.


“Hahaha … kamu membuat cucu kami tumbuh dewasa, artinya kamu harus memberikan kami cucu lagi, secepatnya!” jelas Ningsih.


“On process, Mama. Doa in aja secepatnya jadi.”


“Aamiin,” ucap mereka bersama.


“Bagaimana caranya bikin bayi itu?” Tiba-tiba Kyra ikut bergabung di antara mereka.


Davira dan Ningsih tampak kelabakan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dari cucu pintarnya.


Sedangkan Larisa berusaha menahan tawa, ia pun duduk kembali di kursi meja makan lalu membawa sang putri ke dalam gendongan. 


“Papa akan memberikan benihnya, lalu Mama akan menanam benih itu di dalam perut Mama. Benih itu nantinya akan tumbuh disini selama sembilan bulan dan akhirnya dia akan lahir,” jelas Larisa menunjuk perutnya.


“Apa aku boleh ikut menanam benih itu bersama, Mama?” Kyra mengira menanam benih yang dimaksud Larisa sama dengan menanam benih tanaman di dalam pot.


“Oh, iya. Aku hampir saja lupa. Ayo, Eyang.” Kyra turun dari pangkuan ibunya, bersama para Nenek iya menuju ruang tengah.


...🥭🥭🥭🥭...


Abi baru saja selesai menanamkan benihnya di dalam rahim Larisa. Keduanya kini tengah menormalkan nafas yang terengah-engah sehabis bekerja keras untuk mewujudkan kado untuk Kyra.


“Sebaiknya sekarang jangan membahas hal-hal yang sensitif di depan Kyra,” kata Larisa.


“Kenapa?” Abi menutup tubuh polos mereka dengan selimut.


“Rasa penasaran serta keingin tahuan nya tinggi sekali. Dia tadi tanya bagaimana cara bikin bayi pada Mama, karena para Nenek itu sempat menyinggung pengen punya cucu lagi .Membuat mereka kebingungan harus menjawab apa. Akhirnya aku menjelaskan dengan kalimat yang mudah dipahaminya.”


Abi tertawa keras. “Kyra- Kyra, dia memang pintar. Bahkan kadang Kakak saja sampai bingung, menjelaskan sesuatu tentang hal yang dipertanyakannya.” 


“Satu lagi, mulai sekarang pintu kamar kita harus di kunci. Aku gak mau tiba-tiba dia masuk dan melihat kita dalam keadaan seperti ini.”

__ADS_1


Abi mengangguk setuju. “Bersih-bersih, yuk! Habis itu kita tidur.”


Mereka pun segera turun dari ranjang menuju kamar mandi.


...🍆🍆🍆🍆...


Keluarga tengah berkumpul di ruang tengah lantai bawah. Sepertinya ada hal ingin mereka bicarakan.


“Sebelum kami pulang, ada yang ingin Papa bicarakan sama Larisa,” kata Endra.


“Apa itu, Pa?” tanya wanita itu.


“Papa ini sudah tua dan rasanya Papa gak bisa lagi bekerja seperti dulu lagi. Jadi, Papa minta kamu sekarang meneruskan usaha yang sudah Papa bangun.”


Larisa menatap Abi yang duduk di sampingnya.


“Mama juga pengennya Abi bisa mengurus RSJ di Jakarta,” tambah Ningsih.


“Tapi, Ma,” sela Abi.


“Rumah Sakit kamu yang disini bisa dikelola Boni, kan? Sedangkan Rumah Sakit kita yang di Jakarta Mama gak bisa mempercayakan pada orang lain.”


“Biar mereka bicarakan dulu hal ini berdua, setelah itu kasih kami keputusannya,” putus Endra.


Tampaknya Abi dan Larisa sama-sama keberatan dengan permintaan dari para orang tua itu.


“Sekarang ataupun nanti kamu yang bakalan meneruskan bisnis Papa, La,” tambah Davira.


“Kasih kami waktu untuk memikirkannya,” jawab Larisa.


“Memangnya hal apa yang membuat kalian berdua enggan untuk kembali ke Jakarta?” tanya Endra.


Larisa hanya menggeleng lalu menghembuskan nafas kasar. Entah kenapa rasanya sangat sulit untuk menjelaskan tentang hatinya yang terasa berat untuk kembali ke kota itu.


Abi merangkul Larisa dan mengelus lengan istrinya. “Hal ini sangat mendadak jadi sepertinya kami belum siap,” jelasnya.

__ADS_1


__ADS_2