Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 89


__ADS_3

Usai bersih-bersih dan berganti pakaian Abi dan Larisa segera naik ke atas pembaringan.


“Kak?” Larisa memanggil suaminya.


“Apa, sayang?”


“Menurut, Kakak aku harus bagaimana? Jujur salah satu alasan aku gak mau pindah ke Jakarta karena aku gak minat untuk bekerja. Aku lebih suka di rumah mengurus, Kakak dan Kyra.”


“Kenapa gak kamu coba jelaskan hal itu pada Mama dan Papa?”


“Aku takut merek kecewa. Makanya kemarin aku coba kasih solusi. Aku tau apa yang aku pikirkan itu pastinya sulit untuk dilakukan, tapi mau bagaimana lagi. Menurut aku cuma itu satu-satunya cara agar aku bisa membantu Papa.”


BAB 89


Abi mencoba untuk memahami istrinya. Di satu sisi Larisa sebenarnya tak ingin waktunya disibukkan dengan mengurus bisnis sang Papa. Namun, disisi lain ia tak tega membuat orang tuanya yang sudah menaruh harapan penuh padanya menjadi kecewa. 


Pria itu menopang kepala dengan satu tangan dan tangan satunya lagi memeluk Larisa. “Begini saja, bagaimana kalau kamu coba jalani beberapa bulan menggantikan posisi Papa di kantor. Kalau kamu merasa nyaman dan bisa mengatur waktu, silahkan di lanjutkan. Tapi kalau tidak, kamu bicarakan baik-baik pada Papa dan Mama. Jelaskan apa yang menjadi alasan kamu.”

__ADS_1


“Terus siapa yang akan menggantikan Papa di kantor kalau aku gak bisa? Jujur aku kasihan sama Papa yang masih bekerja di hari tuanya.”


“Artinya kamu harus mencarikan orang yang tepat sebagai pengganti Papa, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk tak bisa menggantikan posisi Papa selamanya..”


Larisa mengangguk paham, usulan dari suaminya layak untuk dicoba.


“Apa Mama dan Papa nantinya akan mengerti?”


“Kakak rasa kalau yang menjadi prioritas kamu itu adalah keluarga, mereka pasti akan mengerti. Toh Kakak sebagai suami kamu berhak keberatan, jika istrinya tak bisa membagi waktu akibat terlalu sibuk bekerja di kantor.”


Larisa menarik nafas dalam. “Saran dari, Kakak bisa aku pertimbangkan.”


Wanita itu tersenyum lalu membalas pelukan suaminya.


“Sekarang kita tidur.”


Keduanya sama-sama memejamkan mata menuju alam mimpi sambil menunggu fajar datang esok hari.

__ADS_1


“Kalau menurut lo gimana, Nia?” tanya Larisa. Ia sedang mencoba mencari pendapat dari orang lain. Siapa tau dengan begitu ia bisa mengambil keputusan yang tepat demi kedua belah pihak.


“Kalau menurut gue usul Kak Abi itu bagus, kok. Mungkin lo berpikir akan sulit untuk membagi waktu nantinya, tapi kan belum lo coba. Contohnya saja waktu lo kuliah kemarin, semua berjalan dengan baik karena lo bisa membagi waktu,” jelas Kania.


“Kalau kuliah, gue bisa dari villa aja gak perlu tiap hari ke kampus. Kalau kerja kantoran, artinya hampir setiap hari gue harus berangkat pagi dan pulang sore. Fokus gue benar-benar di tuntut banget di sana.”


“Makanya lo coba dulu, kadang kenyataan gak sesuai sama apa yang kita bayangkan.”


Larisa menatap lurus ke arah lautan lepas di depan mereka. Ia pun duduk menyandar di bantalan sofa. Sesekali memperhatikan sang putri yang tengah asik bermain bersama kucingnya di taman. “Tapi gue masih berat rasanya untuk pindah dari sini.”


Kania menatap sang sahabat yang duduk di sampingnya. “Coba dulu, Sa! Di coba bukan berarti lo akan pindah buat selamanya. Jalani beberapa bulan dulu, angap aja kalian lagi liburan di Jakarta. Ya, minimal dua atau tiga bulan lah.”


Larisa mengangguk paham. Gak ada salahnya ia coba dan jalani terlebih dahulu sebelum benar-benar mengambil keputusan. Apakah ia akan meneruskan bisnis sang Papa atau mencarikan orang lain yang bisa dipercaya dan mampu untuk mengelola perusahaan.


\=\=\=\=\=


Malam ini Abi menemani sang putri menggambar dan mewarnai di ruang tengah sambil menonton TV. Diperhatikannya Larisa, tampak sedang duduk termenung di sofa. Sepertinya dia tengah memikirkan soal kepindahan mereka ke Jakarta meski hanya untuk beberapa bulan saja. 

__ADS_1


“Kyra, sayang, Papa ngobrol sama Mama bentar dulu, ya. Kamu gapapa kan mewarnai sendirian?” tanya Abi.


Gadis kecil itu mengangguk. “Iya, gapapa.”


__ADS_2