
Dari dalam rumah pasutri itu masuk kedalam mobil. Abi segera melajukannya menuju pengadilan. Selama perjalanan Larisa hanya diam menatap jalanan dari kaca jendela mobil.
“Mikirin apa?” tanya Abi.
“Gak ada,” jawab Larisa.
“Terus, kenapa diam aja?”
“Gak ada yang perlu di obrolin.”
“Kamu kenapa sih, La? Belakangan berubah banget deh. Suka ketus ngomongnya sama Kakak.”
“Aku berubah karena, Kakak, berubah.”
Abi menunjuk dirinya sendiri. “Kakak berubah?”
"Iya, Kakak sudah bukan kayak Kak Abi yang aku kenal.”
“Maksud kamu gimana sih? Kakak gak ngerti.”
“Kenapa sekarang Kakak gak mau dengerin omongan aku?”
Suami Larisa itu mengangguk paham. “Oh, jadi ini masih soal tuntutan Kakak pada Bayu?! Kakak kan sudah bilang, dia pantas mendapatkan hukuman karena sudah membunuh anak kita dan mencelakai kamu.”
“Aku juga sudah berkali-kali jelasin sama, Kakak, kalau Bayu itu gak sengaja. Kenapa,Kakak, gak ngerti juga sih?”
__ADS_1
“Terus, Kakak harus lepasin dia gitu aja?”
“Kasih dia kesempatan, aku yakin kalau kini dia pasti menyesal. Sudahlah, Kak, jangan menyalahkan orang lain gara-gara musibah yang menimpa kita kemarin. Kayak gak punya Tuhan aja deh,” kesal Larisa.
“Kakak tau kalau semua yang terjadi dalam hidup kita memang sudah di atur sama Allah. Tapi Kakak gak bisa terima ketika dia membiarkan kamu jatuh begitu saja, itu yang bikin Kakak marah dan sakit hati sampai sekarang.”
“Terus, Kakak jadi dendam?!”
Abi membuang nafas panjang. “La, kamu itu kok gak ngerti sama perasaan, Kakak sih?”
“Apa yang harus aku mengerti dari dendam yang gak jelas itu?”
“Kakak cuma mau dia mendapatkan hukuman yang setimpal, karena gara-gara dia kita kehilangan anak kita.”
Akhirnya mobil mereka sampai di depan gedung pengadilan. Keduanya masih belum berniat untuk turun dari dalam sana.
Larisa segera keluar dari dalam mobil meninggalkan Abi yang terpaku mencerna ucapan dari istrinya. Entahlah, mungkin benar apa kata Larisa. Setelah mereka menjalani hidup di sini masalah mulai muncul satu persatu dan sampai membuat hubungan mereka tak lagi baik-baik saja.
...🐸🐸🐸🐸...
Sidang putusan pun akhirnya dibacakan oleh Hakim. Bayu dinyatakan bersalah karena terbukti sudah mencelakai Larisa. Terlihat di CCTV tangga darurat ia yang tak membantu Larisa saat jatuh membuat hakim menyimpulkan kalau ia memang sengaja membiarkan wanita itu celaka. Di tambah kesaksian dari Luna yang menyatakan kalau ia memang pernah berniat ingin merusak rumah tangga Larisa dan Abi.
Bayu yang duduk di kursi persidangan seorang diri tanpa didampingi oleh pengacara atau keluarga hanya bisa tertunduk menerima nasib. Ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas tuntutan beberapa pasal lainnya yang diajukan Abi. Membuatnya tak dapat lagi membela diri.
Larisa pun ikut merasa sedih dan ia juga merasa bersalah pada Bayu karena membiarkan suaminya menuntut pria itu dengan sangat tidak adil. Diliriknya Abi yang duduk di samping tampak mengembangkan senyuman puas di wajah. Ia pun bangkit ketika Bayu dibawa oleh petugas keamanan yang ada di ruang sidang.
__ADS_1
“Mau kemana?” Abi menahan tangan Larisa.
“Lepasin! Aku mau bicara sama Bayu,” tegas Larisa. Ia mengejar laki-laki yang akan menaiki mobil tahanan. “Pak, bisa saya bicara sebentar dengan dia?” tanya Larisa pada petugas.
“Baik,” jawab petugas.
“Terimakasih.”
Mereka menuju tempat yang agak jauh tapi masih dalam pengawasan polisi. Larisa berdiri berhadapan dengan Bayu yang tertunduk menatap tangannya nan di borgol.
“Maaf, Bay,” kata Larisa.
Membuat laki-laki yang berdiri di depannya itu mengangkat kepala.
“Maafkan sikap suamiku. Maaf juga aku gak bisa membantu kamu. Aku cuma bisa memberikan kesaksian, tapi ternyata itu tak cukup membuat kamu terbebas.”
“Aku yang harusnya minta maaf. Atas kejadian itu kamu dan suami harus kehilangan anak kalian,” balas Bayu.
Larisa menarik nafas dalam. “Dari awal aku sudah memaafkan kamu. Karena aku tahu kalau kamu gak sengaja.”
Bayu tersenyum simpul. “Anggap saja ini hukuman karena dulu aku pernah meninggalkan kamu sampai membuat kamu depresi.”
“Gak, Bay. Tetap aja ini gak adil buat kamu.”
“Sudah, SA. Aku harus pergi, takutnya nanti suami kamu makin marah dan menambah lagi hukuman aku.” Bayu memilih pergi dari hadapan wanita itu. Meski hatinya sangat ingin bicara lebih lama lagi, tapi ketika melihat Abi datang mendekat ia pun sadar diri.
__ADS_1
Kehidupan di dalam tahanan membuatnya mengalami rasa takut yang berlebihan. Terutama kala melihat Abi, pria yang selama ini dianggapnya tak bisa berbuat apa-apa, ternyata mampu menghancurkan kehidupannya kurang dari dua bulan.