Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 32


__ADS_3

Sampai di villa Larisa bergegas membersihkan diri. Ia memakai pakaian yang baru dibeli kemarin saat jalan-jalan di mall bersama Abi. Tak lupa gadis itu menata rambut hitam panjangnya, memberikan sedikit sentuhan curly di bagian bawah. Setelah itu ia memoleskan make up natural di wajah cantiknya.


“Sempurna,” gumam Larisa menatap pantulan dirinya di cermin.


Setengah jam lagi Abi akan mendarat ia pun segera pergi bersama supir pribadi menuju bandara. Sampai di sana ia harus menunggu sekitar lima menit lagi. Gadis itu tampak resah menunggu kedatangan Dokter pribadinya. Entah kenapa ia tak sabar, dadanya dari tadi terus saja berdetak tak karuan.


“Itu Pak Abi, Mbak,” tunjuk sang supir di pintu kedatangan.


Keduanya pun segera berlari untuk saling menghampiri. Abi sampai mengangkat tinggi Larisa dan memutar tubuh mereka. Beberapa orang tersenyum melihatnya, mereka seperti dua orang yang saling mencintai dan sudah berpisah lama.


“Kangen,” ucap mereka hampir bersamaan.


“Hahaha … “ Kembali mereka tertawa bersama.


“Kayaknya aku gak bisa deh jauh-jauh dari, Kakak, deh.” ungkap Larisa.


“Sama, Kakak juga gak bisa.”


“Kita langsung pulang?”


“Iya. Gak papa kan? Kakak capek banget soalnya kurang tidur.”


“Gak papa. Ayo kalau gitu.” Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir.


...🥕🥕🥕🥕...


Sampai di rumah Abi memang langsung menuju kamarnya ditemani Larisa. 


“Sini,” ajak Abi menepuk kasur di samping nya. Wanita itu pun naik.


“Cantik banget, sih! Sengaja, ya, dandan buat, Kakak?”


“Gak kok. Emang lagi pengen aja, kan aku sudah sembuh masak tampil kucel terus.”


“Ooh. Malam ini kita tidur bareng, boleh? Kakak kangen banget sama kamu.”


Larisa mengangguk.


“Sebelum makan malam kita di sini aja. Kakak mau dengar cerita kamu selama di pondok." Abi berkata sambil merebahkan kepalanya di paha sang istri.


Istrinya itu mulai bercerita sambil menyisir rambutnya menggunakan jari-jari. Abi begitu menikmati momen. Sesekali ia membelai pipi sang istri hingga tak sadar matanya mulai terpejam. Larisa memindahkan kepala Abi ke atas bantal lalu dia pun menuju kamarnya untuk membereskan tas yang tadi belum sempat dibongkar ketika pulang dari pondok. 


...🍋🍋🍋🍋...


“Tidur,Kak, udah malam.” Larisa mengajak Dokternya itu untuk bergabung di atas kasur, tapi sepertinya Abi masih sibuk dengan laptop di meja kerja.


“Bentar lagi, sayang. Kakak harus baca laporan pasien dulu sebelum besok balik kerja," kata Abi.


“Harus, ya? Kayak kerja kantoran aja.”

__ADS_1


“Harus dong, La. Kakak harus tahu bagaimana perkembangan dari pasien-pasien Kakak. Jadi, besok pas ketemu, Kakak bisa menjelaskan sama keluarga mereka.”


Larisa membulatkan mulutnya. “Ulang tahun aku seminggu lagi, loh.”


“Iya, tau. Kakak gak akan lupa kok.”


“Hehehe … siapa tau kan. Soalnya nanti pasti, Kakak, sibuk di klinik.”


“Kayaknya sih gitu. Libur beberapa hari kemarin bayak jadwal pasien yang harus dijadwal ulang.”


“Pulangnya malam, ya?”


Abi membalik tubuhnya dan menatap sang istri yang sudah berbaring di atas ranjang. “Iya, gak papa kan?”


Larisa menghembuskan nafas panjang terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya.


“Nanti kamu yang antar makan siang ke klinik, ya. Biar kita bisa ketemu. Supaya Kakak makin semangat pas kerja lembur nanti.”


“Oke deh.”


“Nah, gitu dong. Makasih udah ngerti.”


“Tapi nanti kalau jadwal, Kakak, di klinik sudah normal lagi kita jalan-jalan, ya.”


“Siap, sayang.”


Larisa merasa kantuk mulai menyerang mata. “Aku tidur duluan gak papa?”


...🍍🍍🍍🍍...


Ternyata benar dugaan Larisa kalau Abi bekerja sampai Larut malam karena memenuhi jadwal temu pasien yang sudah di undur sejak beberapa hari kemarin. Ia pun setiap hari datang untuk mengantar makan siang dan menemani Dokter itu setelahnya kembali pulang. 


Di villa, Larisa dengan setia menunggu kepulangan laki-laki itu, ia bahkan belum makan jika sang Dokter belum pulang. Abi tiba di villa sekitar pukul sembilan malam. Mandi dan berganti baju lalu ia segera ke meja makan untuk menyantap makan malam. 


Setelah itu mereka langsung ke kamar. Sejak Abi pulang dari Jakarta, mereka tak pernah pisah ranjang lagi. Abi pun senang bisa tidur sambil memeluk istrinya, meski ia belum bisa meminta haknya sebagai suami.


“Capek, ya, Kak?” Larisa memijat kepala Abi yang katanya begitu sakit.


“Banget, La.”


“Terus, berapa hari lagi lemburnya?”


“Mungkin sampai besok dan setelah itu jadwalnya kembali normal. Kenapa?”


Larisa menekuk wajahnya. “Aku kesepian di rumah. Ketemunya cuma malam aja, ngobrol cuma sebentar setelah itu, Kakak, malah tidur duluan pas aku cerita.”


Abi tersenyum senang. Ternyata sang istri sangat membutuhkannya untuk bisa menemani setiap saat. “Sabar, ya, tinggal sehari lagi.”


“Iya.”

__ADS_1


“La?” Abi menatap wajah sang istri dari bawah. Kepalanya sedang berada di atas paha Larisa.


“Hhhmm …?”


“Kamu mau gak jadi pacar, Kakak?”


Larisa terpaku. Ia terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Abi barusan.


“Gak usah jawab sekarang. Kakak bakalan nunggu sampai kamu yakin sama perasaan kamu. Nanti Kakak juga bakalan utarain perasaan Kakak yang sebenarnya. Sekarang kita tidur, yuk! Kakak udah ngantuk berat.”


Larisa membaringkan tubuhnya dan ia seperti sedikit memberi jarak antara mereka setelah Abi mengungkapkan hal tadi.


“Sini.” Abi menarik pinggang istrinya. “Jangan langsung berubah gitu! Kakak, gak bakalan apa-apain kamu kok.”


Abi memeluk Larisa dengan erat ia pun membenamkan wajahnya di rambut wangi sang istri. Hal itu begitu ia sukai karena wangi tubuh Larisa membuatnya merasa tenang sehingga dengan mudahnya ia menuju alam bawah sadar.


Larisa sempat bingung ia harus bersikap seperti apa. Dipikir-pikir selama ini ia pun merasa nyaman dan tenang di dekat pria ini. Bahkan tak sekalipun Abi mau menyentuhnya tanpa izin. Jadi, untuk apa ia menghindari Abi cuma gara-gara dia mengutarakan perasaannya.


Larisa pun kembali bersikap seperti biasa. Tadinya ia sempat membeku pas di dekap Abi, kini ia membalas dekapan itu. Pria itu pun menyungingkan sedikit senyuman. 


...🍆🍆🍆🍆...


“Kak, minum vitamin dulu biar gak sakit,” ujar Larisa ketika mereka selesai sarapan.


“Kapan kamu belinya?”


“Kemarin, pas pulang dari klinik. Takutnya nanti kondisi, Kakak, drop loh.”


“Tenang, aja. Kakak bisa jaga kesehatan.”


“Iya, tapi tetap harus minum vitamin.”


“Udah! Makasih, ya, sayang. Kalau gitu Kakak berangkat dulu. Gak usah diantar ke depan.”


“Hati-hati di jalan.”


Larisa membersihkan meja makan setelah itu ia bersiap-siap untuk melakukan yoga di halaman rumah. Meski Abi tak lagi mengharuskan, tapi ia tetap melakukannya untuk ketenangan pikiran serta kebugaran badan. 


...🐾🐾🐾🐾...


Sore hari saat sedang asik merekam video di kamar untuk konten youtubenya, Larisa kedatangan tamu. "Siapa, Bik?" 


"Katanya teman, Mbak," jawab Bibik. 


Sampai di ruang tamu ia tak menyangka sahabatnya waktu kuliah kini berada di hadapan. "Kania!"


"Risa!"


Mereka berpelukan cukup lama. 

__ADS_1


"Duduk, duduk! Tau dari mana alamat aku di sini?" tanya Larisa. 


__ADS_2