
Pagi ini Larisa dan Abi kembali menjalani rutinitas mereka seperti biasa. Karena weekand sudah usai artinya ini adalah hari kerja.
“Kamu gak siap-siap?” tanya Abi.
“Aku berangkat jam sepuluh. Di kampus lagi ada acara, jadi gak perlu datang pagi-pagi.”
“Kamu kenapa? Pusing.” Abi memperhatikan sang istri yang dari tadi tampak memegangi kepalanya.
“Sakit kepala aja, kayaknya mau mens deh. Udah biasa ini mah.”
“Oh, kalau gak ada kelas di kampus, ya, di rumah aja. Gak usah pergi.”
“Gak enak, Kak. Ini acara perkumpulan mahasiswa dari semua jurusan sekalian perkenalan mahasiswa baru.”
“Ooh, ya, udah nanti kalau makin ngerasa gak enak bada, pulang aja. Kamu berangkat sama Kania kan?”
“Iya. Tenang aja aku gak papa kok. Yuk, sarapan.” Mereka turun ke lantai dasar menuju meja makan.
Sarapan selesai Larisa mengantar suaminya sampai depan. Setelah mobil sedan itu melaju pergi ia kembali masuk.
...🍆🍆🍆🍆...
Tepat pukul sepuluh pagi Kania sampai di depan villa Larisa. Ternyata Larisa sudah menunggunya di depan gerbang.
“Nia, kita cari makan dulu ya,” kata Larisa ketika sudah duduk di bangku penumpang.
“Lo belum sarapan?” Kania pun melajukan mobilnya.
“Udah. Tapi tadi gue muntah-muntah jadinya sekarang lapar deh.”
“Lo gak papa kan?”
“Gak papa. Gue cuma masuk angin aja. Biasa lah, semalam kita coba di rooftop.” Wanita itu pun terkekeh.
“Anjrit lo. Pagi-pagi udah bahas begituan. Kenapa gak di kamar aja sih.”
“Kayaknya laki gue jadi liar deh, akibat menahan diri selama setahun.”
Kania cuma bisa geleng-geleng kepala. “Cafe dekat kampus aja, ya?”
“Terserah, yang penting gue makan.”
Sampai di kampus mereka pun menuju cafe terdekat. Jaraknya lumayan dekat jadi mereka bisa jalan kaki dari parkiran ke sana.
“Larisa,” panggil seseorang.
Dua wanita yang sedang berjalan itu pun menoleh ke arah suara.
“Kamu Larisa kan, pacarnya Abi,” tanya wanita yang tadi memanggilnya.
“Iya. Siapa, ya?” balas Larisa.
“Saya, Viona. Kita ketemu di kliniknya Abi waktu itu.”
Larisa mengangguk. “Maaf, saya lupa soalnya kita ketemu cuma sekali.”
__ADS_1
“Gak masalah. Bisa bicara sebentar?”
“Tapi saya mau makan dulu sama teman saya.”
“Gak papa. Lo pergi aja sama dia. Gue tunggu di kantin kampus,” sela Kania.
“Tapi gue lapar, Nia.”
“Saya traktir,” sela Viona.
Kania pun menganggukkan kepala pada Larisa agar sahabatnya itu ikut dengan wanita yang mereka temui ini.
“Oke,” jawab Larisa. Ia dan Viona akhirnya menuju cafe depan kampus.
Sampai di cafe dua wanita itu memesan makanan dan minuman. Hingga pelayan mengantarkan pesanan mereka barulah Viona membuka suara. “Kamu sama Abi udah pacaran lama?”
“Setahun lebih.” Entah kenapa Larisa tak mengakui kalau ia dan Abi sudah menikah.
Viona membulatkan mulutnya. “Kamu kuliah di sini?”
“Iya, baru satu bulan.”
“Sebelumnya saya minta maaf. Tapi ada alasan apa ya, kenapa Abi menghindari saya? Sampai memblokir nomor segala.”
“Kenapa, Mbak, gak tanya langsung sama Kak Abi?”
“Saya sudah datang ke kliniknya, tapi selau di tolak. Apa karena kamu?”
“Maksud, Mbak?” Larisa tetap santai sesekali ia menyendok makanan kedalam mulut.
“Kamu cemburu karena kami dekat, lalu meminta dia menjauhi saya?”
Viona menyeruput minumannya lalu ia pun kembali melanjutkan pembicaraan. “Hak kamu untuk cemburu. Tapi saya rasa kamu belum berhak untuk mengatur-ngatur kehidupan Abi termasuk dengan siapa dia berteman.” Keduanya bicara dengan gaya elegan meski mereka membahas persoalan yang sangat sensitif bagi wanita. Mencerminkan kalau mereka adalah wanita yang berpendidikan.
“Mbak, suka sama Kak Abi?” tanya Larisa to the point.
“Kalau iya, kenapa?” balas Viona balik.
Larisa menyudahi makannya lalu ia menyeka mulut dengan tisu. “Hak, Mbak, juga untuk suka sama siapa saja, termasuk Kak Abi. Tapi, Mbak, juga gak berhak ketemu dia dan kalian berdua-duaan dalam satu ruangan. Takutnya nanti ada yang ketiga.”
Viona pun akhirnya bungkam.
“Saya memang melarang Kak Abi berhubungan lagi dengan, Mbak. Tapi kalau, Mbak, memang masih butuh bantuan Kak Abi silahkan datang ke villa. Kalian bisa membahas masalah apa saja asalkan di depan saya,” tambah Larisa.
“Memangnya hubungan kalian sampai di mana?”
“Kalau saya bilang saya ini istrinya apa, Mbak, percaya?”
Viona terkekeh lalu ia menggeleng. “Kamu bercanda? Bahkan saya belum mendengar berita pernikahan kalian.”
Larisa tersenyum manis. “Saya juga gak berharap, Mbak, percaya. Jadi, ada yang perlu dibicarakan lagi?”
Cukup lama Viona terdiam sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau kita saingan untuk mendapatkan Abi?”
“Maaf, saya gak ngerti maksud, Mbak.”
__ADS_1
“Kami dulu pernah pacaran dan setelah lulus S2 komunikasi kami putus karena keluarga Abi sedang ada masalah. Setelah itu saya dengar dia kuliah lagi di Ausi, sejak saat itu kami benar-benar lost contact.”
“Lalu?”
“Saya rasa saya masih punya kesempatan untuk mendapatkan Abi lagi. Karena dulu kisah kami belum berakhir dan gak ada kejelasan.”
Larisa menghembuskan nafas kasar. “Oke, gini aja. Kalau, Mbak, memang masih ingin mendekati Kak Abi, silahkan. Tapi kalau nanti dia menolak saya harap, Mbak, langsung mundur.”
“Oke. Saya akan mundur kalau kalian memang sudah menikah.”
Larisa pun mengangguk. “Terimakasih traktirannya. Kalau begitu saya duluan.”
“Iya, silahkan.”
...🥑🥑🥑🥑...
“Siapa itu tadi,” tanya Kania ketika mereka duduk di bangku taman.
“Temanya Kak Abi,” jawab Larisa.
“Terus?”
“Terus apa?” Larisa pun sampai mengerutkan dahi.
“Gak yakin gue.”
Larisa membang nafas kasar. “Dia bilang kalau dia pacar Kak Abi dulu. Dia pengen deketin Kak Abi lagi karena hubungan mereka dulu berakhir tanpa kejelasan.”
“Terus?”
“Ih, lo kepo banget, ya.”
“Iya. Terus jawab lo gimana?”
“Ya, terserah dia kalau memang masih ingin mencoba. Tapi kalau udah di tolak ya langsung mundur.”
“Lo percaya?”
“Larisa yang dulu bukan Larisa yang sekarang. Gue bisa bedain mana orang yang bisa dipercaya dan gak.”
“Maksudnya?”
“Gue percaya kalau Viona bakalan nepatin omongannya. Dia bukan wanita seperti yang ada di otak lo itu.” Larisa menekan dahi Kania dengan telunjuknya.
“Sialan lo! Emang di otak gue dia kenapa?”
“Lo pasti mikir dia pelakor kan! Bakal halalin segala cara buat dapetin Kak Abi.”
Kania pun terkekeh. “Kenapa lo gak bilang aja kalau kalian udah nikah?”
“Dia gak percaya.”
“Oh, iya juga sih. Lo gak punya bukti.”
Larisa menguap. “Acaranya sudah selesaikan? Pulang yuk gue ngantuk nih.”
__ADS_1
“Kayaknya sih udah mau selesai. Yuk, ah cabut aja.”
Mereka menuju parkiran dan Kania pun melajukan mobilnya menuju villa terlebih dahulu.