Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 24


__ADS_3

"Ayo, berangkat!” ajak Abi.


“Sebaiknya kami diantar supir saja,” jelas Endra.


“Biar saya saja, Pa. Sekalian Larisa bisa ngobrol sama kalian di jalan.”


“Apa kamu gak capek, Bi?” tanya Davira.


“Gak kok, Mah. Ayo, nanti malah ketinggalan pesawat, loh.”


Dua orang tua itu pun mengalah. Abi sepertinya juga memberikan waktu pada mereka untuk yang terakhir kalinya bersama sang putri. Selama perjalanan Endra dan Davira banyak sekali memberikan nasehat serta masukan pada Larisa. Gadis itu mendengarkan dengan baik sesekali ia mengangguk paham.


Sampai di bandara mereka berpelukan di depan pintu terminal. Meski terasa berat, tapi harus kuat. Sebenarnya Davira bisa saja tinggal lebih lama. Namun, ia tak mau mengganggu waktu Abi dan Larisa. Ia yakin menantunya itu masih butuh waktu untuk mendekati sang putri. Jadi, sebaiknya ia tak perlu ikut campur.


“Kalau sudah mendarat jangan lupa kabari saya,” pinta Abi.


“Pasti,” jawab Endra.


Kedua orang tua itu pun masuk dan melakukan boarding pass. Lalu Larisa dan Abi kembali pulang.


...🐠🐠🐠🐠...


Seperti biasa sebelum tidur Abi akan berada di samping istrinya. Bercerita sedikit tentang hari ini.


“Bagaimana suasana hati kamu sekarang?” tanya Abi


“Senang sekaligus sedikit sedih,” jawab Larisa yang menyandar di dadanya.


“Coba jelaskan!”


“Aku senang banget karena tadi kita jalan-jalan, melihat hal-hal baru yang ternyata sangat indah dan menarik. Aku sampai kagum juga merasa lebih baik lagi. Keluar dari villa tak seburuk yang aku bayangkan.”


“Terus?”


“Sedih karena Mama da Papa harus pulang.”


“Tapi kan nanti mereka bisa ke sini lagi. Atau kamu mau balik ke Jakarta? Tinggal di sana?”


Larisa menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka di sini.”

__ADS_1


“Gak mau pindah ke Jakarta?”


“Sepertinya untuk saat ini aku betah di Bali.”


“Oke. Kalau begitu besok tiap weekend kita jalan-jalan lagi, gimana?”


“Boleh. Sudah enam bulan di sini kita gak pernah jalan-jalan ya, Kak. Cuma di villa aja, padahal orang-orang tujuan utamanya kesini malah liburan.”


Abi mencolek hidung kecil Larisa. “Itu gara-gara kamu yang gak mau keluar dari zona nyaman.”


“Aku cuma takut aja, Kak. Kalau keluar ntar ketemu orang banyak terus mereka ingat sama kejadian aku di mall dulu.”


“Orang-orang disini gak akan peduli akan hal itu.”


“Kenapa, Kakak, bisa yakin?”


“Karena kalau udah kesini, maka pikiran kita akan teralihkan. Kayak di hipnotis aja gitu sama keindahan pulau ini.”


“Ia juga sih. Aku malahan tadi sempat lupa kalau pernah depresi.”


“Kenapa gak dari dulu aja, ya, aku kesini. Pas ditinggal nikah? Pasti aku gak akan gila karena bisa healing disini.”


“Iya juga, ya. Eh, tapi kalau kita sudah ditakdirkan ketemu pasti ketemu lah. Kakak, gak ingat kata Abah, ya? Kalau jalan hidup kita itu sudah ada yang atur.”


Abi tersenyum membuat Larisa menyadari kalau pria yang selama ini ada di sampingnya begitu tampan dan menawan.


“Iya, Kakak ingat kok. Ya, sudah sekarang waktunya tidur.” Abi menarik selimut sebatas dada istrinya tak lupa ia memberikan kecupan di dahi Larisa. “Selamat malam.”


“Malam juga, Kak.” Baru kali ini ia membalas Abi. Membuat hati laki-laki itu jadi berbunga. “Semoga tidurnya nyenyak.”


...🍣🍣🍣🍣...


Hari -hari kembali seperti biasanya. Namun, Larisa tampak semakin baik. Tanpa Abi minta ia menjalankan tugas yang biasanya dilakukan istri pada suaminya. Entah karena apa? Hanya saja ia ingin melakukan hal itu, seperti menyiapkan sarapan pagi yang biasanya dilakukan oleh bibi. Kemudian menanyakan bagaimana makan siang yang dikirimnya apakan Abi suka atau tidak.


Larisa juga membereskan baju-baju Abi yang berserakan di dalam lemari serta merapikan tempat tidur suaminya itu. Ketika berangkat kerja ia juga melepas Abi dengan senyuman serta tak lupa mencium punggung tangannya. Mungkin inilah yang dinamakan sebagai naluri seorang istri. 


Tanpa disadari Larisa mulai menjalankan kewajibannya sebagai istri. Abi pun merasa semangat dalam dirinya ters tumbuh setiap hari, sebab ia merasa seakan sudah menjadi seorang suami yang sesungguhnya. 


Satu hal yang belum bisa dipastikan Abi, apakah Larisa melakukan hal itu hanya sebatas balas budi atau memang hatinya sudah di milikinya? Ia tak mau terburu-buru untuk mengatakan soal satus mereka pada sang istri. Biarlah mereka menikmati momen-momen indah dan manis ini terlebih dahulu.

__ADS_1


Abi akan sabar menunggu sampai Larisa benar-benar yakin kalau dia mencintai Dokter pribadinya ini. Kegiatan yang biasanya dilakukan sang istri masih terus berlanjut, suster Ulfa juga masih mendampingi Larisa karena Abi tak ingin istrinya itu merasa sendirian di villa jika dirinya bekerja.


Wanita itu semakin sibuk membuat video tentang kesehatan mental sesuai buku-buku yang dibacanya. Apalagi sejak ia putuskan untuk mempublishnya di youtube. Larisa mendapatkan banyak sambutan dari orang-orang. Ia juga mengklarifikasi soal video viralnya dulu.


Meski kejadian itu sudah berlalu dan orang-orang mungkin sudah melupakannya. Ia tetap ingin membersihkan nama baik kedua orang tuanya. Larisa tak mau kejadian itu menjadi aib di masa depan nanti. Karena jejak digital pasti akan tetap ada, maka dari itu ia memberikan keterangan agar nanti tak ada lagi orang-orang yang mengungkitnya.


Meski Larisa sudah boleh mengakses internet oleh Abi. Namun, pria itu selalu mengawasi. Istrinya hanya boleh memakai laptop ketika ia pulang dari klinik. Abi hanya takut jika nanti Larisa diam-diam mencoba menghubungi Bayu sang mantan. Ia memang sudah sembuh, tapi Abi belum yakin akan perasaan Larisa. 


Apakah rasa itu masih tersisa atau sudah hilang. Ia pun bingung bagaimana cara untuk memastikannya. Karena setiap ditanya Larisa akan menjawab tidak tahu.


“Kakak, berangkat, ya,” kata Abi.


“Iya, hati-hati di jalan. Nanti makan siangnya pasti aku masakin sesuai pesanan, Kakak." Larisa menjawab sambil mencium punggung tangan Abi.


Abi pun membalas dengan kecupan singat namun hangat di kening istrinya.


“Kita kayak suami istri aja,” lontar Larisa.


“Gak papa. Anggap aja memang begitu,” jawab Abi. Ia pun segera masuk mobil.


Tak lupa Larisa melambaikan tangan sebelum kembali masuk.


...🍕🍕🍕🍕...


“Mbak, ada tamu di depan,” kata bibi.


“Siapa, Bi?” Larisa pun keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.


“Gak tau. Katanya, Mbak, kenal,” jawab bibi berjalan di belakang Larisa.


Sampai di sana wanita itu sedikit terkejut. “Tolong dibikinin minum ya, Bi.”


“Baik, Mbak.”


Larisa mendekati tamunya dan langsung memeluk. “Gimana kabar, Tante? Sudah lama kita gak ketemu.”


“Kamu masih ingat saya?” tanya Ningsih.


Larisa melepaskan pelukan mereka. Entah kenapa ia merasa ibu dari pria yang merawatnya ini kurang ramah. Nadanya terdengar sedikit ketus. Tak seperti dulu saat-saat mereka pernah tinggal bersama.

__ADS_1


__ADS_2