Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
bab 146


__ADS_3

Paginya Boni mengajak Abi untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Usai sholat ia pun hendak pamit ke villanya karena harus siap-siap berangkat kerja.


“Gue tinggal gak papa?” tanya Boni.


“Lo pergi aja. Gue mau keliling villa, sekalian mengingat kembali kenangan sama Larisa,” jawab Abi.


Boni menepuk pelan bahu sahabatnya itu. “Ingat, Bi, jangan merasa sendri. Kami semua disini akan selalu ada buat lo.”


Abi tersenyum simpul. Kepergian Boni ia pun membaca beberapa lembar kitab suci Al quran untuk ketenangan hati. Setelahnya ia mulai jalan-jalan mengelilingi halaman di villa.


Ia berhenti tepat di depan taman yang dulu mereka buat berdua. Tanpa sadar bibirnya kembali mengembang sempurna. “Dulu taman ini kita bangun untuk mengisi waktu luang kamu di villa kan, sayang. Sekarang lihatlah, tamannya mulai tak terawat. Kakak akan bersihkan lagi untuk kamu.”


Abi menuju gudang di samping taman itu. Dimana semua peralatan untuk berkebun selalu disimpan Larisa di sana.  Endra dan Davira yang baru saja keluar dari kamar memperhatikan menantu mereka dari balik kaca villa.


“Andai Abah masih hidup, ya, Pa, mungkin Beliau pasti akan mendampingi Abi seperti dulu Beliau mendampingi Larisa,” ujar Davira.


“Ma, sudahlah. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menemani Abi melewati waktu tersulitnya. Papa yakin dia gak butuh Abah atau pun Larisa. Dia pasti bisa, Ma,” jawab Endra.


Davira mengangguk setuju.


...🐌🐌🐌🐌...


“Gimana Kak Abi, Mas?” tanya Kania.


“Dia cuma butuh waktu aja. Mas yakin jika Abi di sini dalam waktu dekat dia bisa merelakan kepergian Larisa,” jawab Boni.


“Semoga, ya. Aku takut nanti Kak Abi beneran depresi. Kasian Kyra.” Kania berkata sambil membantu suaminya berpakaian.


“Selagi masih ada kita, Kyra gak akan kekurangan kasih sayang. Mas dan kamu akan menjadi orang tua penganti untuknya. Meski nanti kita punya anak kandung juga, Kira akan tetap jadi putri pertama kita.”


Kania membekap mulutnya untuk meredam isak tangisannya.


Boni segera mendekap sang istri. “Kamu jangan lemah, kamu juga harus kuat, kita semua harus kuat demi Kyra.”


Wanita itu mengangguk di dada suaminya. Setelah mereda kesedihan, Kania menyeka pipinya lalu memperbaiki mimik wajahnya yang sedih menjadi tersenyum. “Sekarang kita keluar dan sarapan. Kyra pasti udah nungguin.


“Ayo!”


Selesai sarapan mereka bertiga pun kembali ke villa Abi. Sebelum berangkat ke Rumah Sakit, Boni ingin memastikan Abi sedang apa. Ia takut jika sahabatnya itu nanti banyak menghabiskan waktu hanya dengan bermenung.


“Abi lagi bersihin tamannya Larisa,” jelas Davira.


“Syukurlah,” kata Boni dan Kania secara bersamaan.


“Kalau begitu saya berangkat kerja dulu, Om, Tante,” pamit Boni.


“Iya, hati-hati di jalan,” balas Endra.


“Nanti kalau ada apa-apa sama Abi langsung hubungi saya.”


“Pasti.”

__ADS_1


“Saya ada disini jadi, gak perlu khawatir,” sela Viona.


Boni tak memberi tanggapan. Ia berlalu begitu saja setelah menyalami tangan kedua orang tua Larisa.


“Kyra mau bantu Papa gak?” tanya Kania.


“Boleh emang nya?” tanya Kyra.


“Boleh dong, sayang. Ayo, Mami antar ke taman.”


Viona pun mengikuti langkah kaki Kania dari belakang. Entah apa yang akan dilakukannya, ia hanya ingin mencoba mendekati Abi.


“Papa,” panggil Kyra saat tiba di taman.


“Iya, sayang,” jawab Abi.


“Aku boleh ikut gak?”


“Boleh, sini bantu Papa. Kita bersihkan taman ini biar Mama senang.”


“Aku boleh ikut juga gak?” tanya Viona.


“Sebaiknya, Mbak Viona, ikut aku aja deh. Kita bantu Bibik masak makan siang,” sela Kania. 


Tanpa aba-aba Kania menarik tangan Viona dari sana. Ia tak mau wanita itu mengganggu waktu Abi dan Kyra. Wajah Viona pun langsung berubah kesal.


...🐠🐠🐠🐠...


Abi hanya mengangguk.


“Papa sayang sama Mama gak?”


“Tentu Papa sayang sama Mama. Kenapa kamu tanya gitu?”


“Kalau Papa sayang sama Mama, Papa, gak boleh sedih lagi. Nanti Mama ikutan sedih di sana.” Kyra berkata sambil menanam bunga di dalam galian tanah yang dibuat oleh papanya.


Perkataan sang putri mampu membuat Abi terdiam di posisi. Gadis kecilnya itu seakan jauh lebih kuat darinya. 


“Udah, Pa. Sekarang kita tanam bunga apa lagi?”


“Oh, iya, kita tanam yang ini saja.” Abi menyerahkan satu bunga lily ke tangan sang putri.


Selesai berkebun Abi mengajak Kyra untuk mencuci tangan di dalam villa. 


“Bi, kamu gak sarapan? Dari tadi kamu belum makan loh,” tanya Davira.


“Nanti aja, Ma. Aku mau bantu Kyra bersih-bersih dulu,” jawab Abi.


“Biar aku sama Oma aja, Pa. Papa makan dulu aja sana, nanti Papa sakit loh. Mama pasti bakalan marah,” sela Kyra.


“Oh, iya. Papa akan makan kalau gitu.”

__ADS_1


Kyra tersenyum lebar. Sebelum turun dari gendongan sang Papa, dia memberikan satu kecupan di pipi Abi. “Kyra sayang, Papa.”


“Papa juga sayang Kyra. “ Abi pun menurunkan sang anak ke lantai. Lalu kakinya melangkah menuju meja makan.


Tiba di sana ia mengedarkan pandangan hingga ke dapur. Seketika bayangan Larisa tengah memasak terlintas di mata, membuatnya menundukkan kepala. “Sekarang Kakak gak bisa lagi mencium aroma masakan kamu.” 


Abi menengadahkan kepalanya untuk menahan air mata yang hendak jatuh ke pipi. Ditariknya nafas dalam lalu di hembuskan. Agar paru-paru yang mulai terasa sesak bisa kembali lapang. 


“Dimakan, Kak, jangan diliatin aja,” kata Kania.


“Larisa?” 


“Bukan! Ini aku Kania, Kak.”


“Maaf, saya pikir tadi Larisa.”


“Gak papa. Aku ngerti kok. Maaf juga aku manggilnya sama kayak Larisa manggil Kakak.”


Abi hanya tersenyum simpul.


“Mau aku suapin, Bi?” tanya Viona.


“Gak usah, Vi. Saya bisa sendiri.” Abi mulai menyendok makanan ke dalam mulutnya. 


Sedangkan Kania kembali menarik Viona dari sana.


“Kamu kenapa sih?” tanya Viona kesal.


“Maksud, Mbak?” tanya Kania.


“Kamu kayaknya sengaja deh buat menjauhkan saya dari Abi.”


“Maaf, ya, Mbak. Saya gak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memberikan Kak Abi waktu sendiri untuk melepaskan kerinduannya pada Larisa lewat villa ini.”


Viona mendengus kesal. “Bilang aja kalau kamu gak rela kalau Abi nanti jatuh kedalam pelukan saya.”


“Memangnya saya siapanya Kak Abi sampai harus gak rela begitu? Kalau memang Kak Abi bakalan jatuh cinta sama, Mbak, ya, saya pastinya akan senang karena Kak Abi gak lagi sendirian. Tapi saya ga yakin deh kayaknya,” jawab Kania sambil berpangku tangan.


Tak lagi mau berdebat dengan Kania, Viona memilih pergi dari sana. Ia akan mencari cara lain untuk membuat Abi segera melupakan Larisa dan berpaling menatapnya.


...🐚🐚🐚🐚...


Sore hari Abi memilih untuk menikmati waktu di taman. Tempat biasa dulu ia dan Larisa menikmati waktu berdua. Dipinjamkannya mata untuk kembali mengingat kenangan mereka dulu. Sepoy-sepoy angin yang menyentuh kulit membuat Abi seakan merasakan sentuhan sang istri. 


“Kamu datang, sayang?” gumam Abi.


Belaian di pipi dan di rambut membuat Abi terhanyut akan sentuhan. Diraihnya tangan itu hendak dibawa ke dada untuk di peluk, tapi karena rasanya sangat berbeda membuat Abi membuka mata .”Viona?” kagetnya.


Viona memberikan senyuman terbaiknya. “Iya, ini aku. Aku akan selalu menemani kamu.”


Abi segera duduk dari sofa. “Maaf saya tadi gak bermaksud apa-apa. Saya kira tadi Larisa. Kalau begitu saya kembali ke dalam.”

__ADS_1


Viona mengangguk. Sungguh hatinya begitu kecewa dengan sikap Abi yang masih saja terus membayangkan Larisa. Bahkan rasanya sangat sakit jika tau sentuhannya tadi dianggap sentuhan Larisa oleh laki-laki yang begitu dicintainya.


__ADS_2