
Boni pun tertawa lebar. “BTW villa lo enak juga.”
“Mau beli satu?” tanya Abi.
“Boleh. Ada rekomendasi?”
“Nanti coba gue tanya-tanya.”
“Sekalian cariin gue istri. Biar ada yang urus selama gue di sini.”
“Lo pikir istri itu pembantu?”
“Hahahaha … gak lah. Gue becanda. Tapi serius kalau lo bisa cariin gue cewek.”
“Cari aja sendiri. Di Bali ini banyak, mau yang lokal sampai yang internasional juga ada,” kekeh Abi.
Boni menggeleng. “Gue serius mau nikah. Udah capek main-main.”
Abi mengangguk. “Benar juga sih.”
“Oke, kalau gitu gue pulang ke hotel. Titip salam buat istri lo. Sorry gue cuma bisa bawain buah-buahan aja. Soalnya gak tau ibu hamil itu butuh apa. Makasih juga makan malamnya.”
“Baik-baik lo nyetirnya. Kalau istri gue udah enakkan, kapan-kapan kita makan malam masakan dia. Pokoknya lo pasti bakalan ketagihan.”
“Oh, ya? Wah, gue tunggu nih, jadi penasaran.”
Abi mengantar temannya itu sampai halaman setelahnya ia pun kembali ke dalam menuju ruang tengah di lantai dua.
“Sudah selesai makannya?” tanya abi pada Larisa.
“Udah, aku lapar banget soalnya. Lagian gak mungkin aku tungguin,Kakak, kan lagi ada tamu.”
“Makasih, ya, Bik udah bantuin,” kata Abi pada Bibik.
“Mbak, Larisa suap sendiri kok, Mas. Saya cuma nemenin. Kalau gitu saya izin ke bawah," jelas Bibik.
“Iyah, langsung istirahat aja, Bik," ujar Abi.
Bibik pun mengangguk dan membawa nampan berisi piring kotor menuju dapur.
“Minum obat sekarang?” tanya Abi.
Larisa mengangguk.
“Besok Kakak akan berangkat kerja pagi seperti biasanya. Tapi Kakak bakalan pulan pas jam makan siang setelah itu Boni akan menggantikan Kakak di klinik. Kamu gak papa kan dari pagi sampai siang di bantu sama Bibik dulu?”
“Gak papa, Kak. Kakak, gak usah khawatir gitu. Aku baik-baik aja kok.”
“Iya, tapi kamu ingat kata Dokter kan, harus bedrest dan gak boleh kecapekan. Besok Kakak akan urus cuti kamu di kampus.”
“Iya deh. Aku nurut aja apa kata suami.”
Abi tersenyum lebar. “Kita pindah ke kamar?”
“Boleh, aku udah ngantuk.”
Abi pun mematikan TV dan lampu tengah di ruangan itu setelahnya ia mengangkat sang istri menggendongnya menuju kamar.
__ADS_1
...🧅🧅🧅🧅...
“Kania,” panggil Viona ketika mereka ketemu di kantin kampus.
“Iya?” jawab Kania.
“Bisa anterin saya ke villa nya Larisa?”
“Buat apa, ya, Mbak?”
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan sama Larisa.”
Kania tampak ragu.
“Niat saya kesana baik, kok,” jelas Viona.
“Saya tanya Larisa dulu, deh.”
“Oke. Nanti kalau ada kabar, kamu hubungi saya k nomor ini.” Viona memberikan kartu namanya pada Kania.
Kania pun mengangguk. Setelahnya ia pun menghubungi Larisa dan menceritakan soal Viona tadi.
📞Kasih aja.
Jawab Larisa.
📞Lo yakin?
📞Yakin.
📞Yaudah, telponnya gue tutup dulu. Pas libur gue bakalan ke sana.
📞Iya.
Kania mengakhiri panggilan itu lalu mengirimkan alamat tempat tinggal Larisa pada Viona.
Sorenya Viona pun tiba di villa Larisa dan Abi. Sebelum turun dari mobil ia menarik nafas dalam lalu dihembuskannya untuk menetralkan rasa gugup di dada. “Oke, gue harus bisa, gak boleh malu,” gumamnya sendiri dan segera keluar dari dalam mobil.
“Siapa, ya?” tanya Bbik ketika membukakan pintu.
“Saya Viona. Abi sama Larisanya ada?”
“Oh, ada silahkan masuk, saya panggilkan dulu.”
“Terimakasih.” Ia pun duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru villa yang besar itu.
Bibik menuju lantai dua sampai di depan kamar Abi dan Larisa, ia pun mengetuknya terlebih dahulu. “Mas, Mbak, di bawah ada tamu.”
Abi pun keluar. “Siapa, Bik?”
“Viona katanya, mau ketemu, Mas sama Mbak.”
“Oh, makasih. Tolong dibikinin minum. Biar saya turun ke bawah.” Abi pun bergegas turun dan menghampiri Viona di ruang tamu.
Wanita tadi langsung berdiri ketika sang tuan rumah datang menemuinya.”
“Duduk aja,” ujar Abi. Ia pun ikut duduk di sofa lainya. “Tau alamat villa ini dari siapa?”
__ADS_1
“Aku minta sama Kania, sahabatnya Larisa. Tapi dia sudah izin dulu kok sama Larisa,” jelas Viona.”
“Ooh, ada perlu apa?”
“Hhhmm kondisi Larisa gimana?”
“Baik, cuma dia harus bedrest di rumah.”
“Selamat buat kalian berdua. Oh, iya ini aku bawa hadiah atas kehamilannya Larisa.” Viona memberikan bingkisan yang tadi sempat ia beli.
“Makasih banyak. Maaf waktu di kampus saya gak memperhatikan. Ternyata kamu ada di sana.”
“Gak masalah. Lagian kamu pasti khawatir sama Larisa kan.”
Abi tersenyum simpul.
“Sebenarnya aku datang kesini mau minta maaf.”
“Soal apa, ya?” tanya Abi.
Viona sedikit terkejut, pasalnya ia mengira kalau Larisa pasti sudah menceritakan pertemuan mereka di cafe kemarin. Membuatnya merasa malu untuk bertemu dengan Abi. “Larisa gak cerita?”
Abi menggeleng. “Gak ada! Dia gak ada bahas apa-apa soal kamu.”
Viona merapatkan bibirnya. “Boleh saya ketemu dengan Larisa? Itu pun kalau kondisinya mengizinkan."
Abi sebenarnya bigung tapi ia tak mau bertanya lebih pada Viona. Lebih baik nanti saja ia meminta penjelasan pada sang istri. “Mari ikut saya ke atas.”
“Oh, iya.”
Viona mengikuti langkah kaki pria yang ia cintai itu. Tapi sayang kini dia sudah menjadi hak milik orang lain.
“Silahkan duduk dulu. Saya panggil Larisa sebentar,” kata Abi.
Wanita itu mengangguk dan segera duduk di sofa. Tak Lama Bibik datang mengantarkan minuman. Kemudian Abi juga keluar dari dalam kamarnya tampak Larisa dalam gendongan pria itu membuat Viona merasakan perih yang luar biasa di dalam hati.
“Makasih, Kak," ujar Larisa ketika di dudukkan di atas sofa.
“Iya, sayang. Kakak, tinggal, ya," balas Abi.
Larisa mengangguk. Setelah kepergian suaminya barulah ia membuka suara. “Saya pikir, Mbak, datangnya gak akan secepat ini.”
Viona memaksakan senyuman di wajahnya. “Sebelumnya selamat atas kehamilan kamu.”
“Terimakasih, dan juga kadonya.”
Viona mengangguk ia merasa sangat canggung. Sampai bingung bagaimana caranya meminta maaf pada Larisa. “Semoga kamu suka.”
“Oh, iya tadi kata Kak Abi, Mbak, mau bicara. Soal apa?”
“Hhmm itu, saya mau minta maaf soal ucapan saya di cafe waktu itu.”
“Ooh, soal itu. Gapapa, santai aja. Saya paham karena saat itu, Mbak, gak percaya kalau kami sudah menikah. Makanya berani nantangin saya.”
“Sekali lagi saya benar-benar minta maaf. Apalagi saya sudah berpikiran buruk tentang kamu.”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Saya pikir kamu pasti sudah menceritakan pertemuan kita ke Abi, membuat saya malu untuk datang kemari. Ternyata gak sama sekali.”
Larisa tersenyum hangat. “Saya tau, Mbak, itu bukan seperti wanita kebanyakan. Mbak, pasti memiliki harga diri yang sangat tinggi. Buktinya, Mbak, mau datang ke sini untuk meminta maaf pada saya dan Kak Abi, meski harus menanggung malu. Padahal, Kak Abi gak tau apa-apa.”