Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 25


__ADS_3

Tentu aku masih ingat. Tante Ningsih kan, Mamanya Kak Abi. Ayo duduk, Tante.”


Mereka duduk di sofa saling berhadapan.


“Bagaimana kabar, Tante? Kok gak ngasih kabar mau ke sini?”


“Kabar saya baik, saya sengaja mampir karena kebetulan ada acara di dekat sini.”


Larisa sudah berusaha ramah tapi raut wajah Ningsing sepertinya menunjukkan kalau ia tak menyukai Larisa.


“Kak Abi lagi kerja, sebentar lagi dia pulang,” jelas Larisa melirik jam di dinding.


“Bagaimana kabar kamu? Sudah sembuh?” Ningsing memang menanyakan soal kondisi mental menantunya itu. Namun, bukan karena ia peduli. Lebih ke rasa penasaran saja, karena teringat perkataan Endra dulu yang akan meminta Abi menceraikan putrinya jika sudah sembuh.


“Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Kalau ditanya apakah sudah sembuh atau belum, mungkin Kak Abi yang bisa menjawabnya.”


Ningsih hanya mengangguk paham. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh villa besar itu.


“Sudah sembilan bulan kami pindah, kenapa, Tante, baru kesini?” tanya Larisa dengan sopan.


“Saya sibuk mengurus pasien di RSJ.” Singkat saja jawaban Ningsing. Ia seperti tak ingin mengobrol banyak dengan Larisa.


Larisa mendengar suara mobil Dokter pribadinya masuk garasi. “Itu mungkin, Kak Abi pulang.”


Ningsih tersenyum sekilas.


“La, Kakak pul- ang.” Abi terkejut ketika melihat sang Mama sedang duduk bersama istrinya.


Larisa segera menghampiri pria itu. Mengambil alih jas putih dan tas suaminya lalu ia pun menyalami tangan Abi.


“Apa kabar, Ma?” Mereka berpelukan.


“Mama, baik.” Larisa sadar Ningsih begitu ramah pada sang putra sedangkan padanya, wanita itu tampak kesal.


 “Kapan, Mama, sampai di Bali?” tanya Abi duduk di samping istrinya.


“Kemarin. Mama ada urusan disini jadi sekalian mampir. Oh, ya bisa kita bicara berdua?”


Larisa yang paham pun segera mengundurkan diri dari sana. “Aku mau siapkan makan malam dulu.”


Abi yang merasa tak enak, memberikan senyuman penuh semangat pada sang istri.


“Sebaiknya kita bicara di taman.” Abi tak mau Larisa mendengarkan pembicaraan ia dan sang Mama.

__ADS_1


“Apa, Larisa sudah sembuh?” tanya Ningsih.


“Memangnya kenapa kalau dia sudah sembuh? Mama peduli?”


“Bukan! Mama datang kesini ingin memastikan kalau Larisa sudah sembuh.”


“Buat apa?”


“Untuk kamu menceraikannya. Dulu Pak Endra sempat bilang kalau putrinya sudah sembuh dia akan meminta kamu menceraikan Larisa.”


Abi menggelengkan kepala seakan tak percaya. “Pak Endra sendiri sudah menepati janjinya. Dia meminta aku untuk menceraikan Larisa, tapi aku yang menolak. Jadi, sekarang, Mama, gak punya alasan lagi kan?”


“Larisa masih belum tahu kan soal status kalian? Dan kamu juga gak yakin kalau dia sudah melupakan mantannya itu. Jadi, sebaiknya kamu ceraikan dia sekarang sebelum terlambat.”


“Terlambat apanya, Ma?” Abi sedikit emosi. Ternyata Mamanya benar-benar egois.


“Kamu sadar kalau pernikahan ini gak akan bahagia.”


“Mah, sekarang aku bahagia! Apa, Mama lihat raut kesedihan di wajah aku? Malahan sekarang aku lagi menikmati peran seorang suami, meski Larisa belum sadar akan hubungan kami. Dia melakukan segala tugas istri tanpa aku minta dan jelaskan. Itu artinya apa? Nalurinya menyadari akan hal itu dan aku yakin Larisa pasti sudah melupakan mantannya itu,” terang Abi.


“Bi, Mama sudah mengalah dan mengikuti kemauan kamu. Sekarang, Mama minta kamu turuti kemauan, Mama. Ceraikan dia dan cari wanita lain yang pantas untuk menjadi istri kamu.” Ningsih pun tak kalah tegasnya.


“Sampai kapanpun aku gak akan menceraikan Larisa. Maaf, Ma sebaiknya, Mama pulang. Aku gak mau Larisa khawatir melihat kita berdebat. Apalagi sikap, Mama yang kurang ramah padanya, aku rasa dia tersinggung.”


Abi membuang nafas kasar. “Aku akan menghormati dan menghargai, Mama kalau, Mama berdiri di tempat yang benar. Untuk soal ini sudah jelas, Mama salah dan aku wajib membela istri aku.”


Ningsing mendengus sinis.


“Maaf sekali lagi, sebaiknya Mama pulang. Kalau, Mama masih ingin aku dan Larisa berpisah sebaiknya kita gak usah bertemu,” tekan Abi.


“Kamu tega! Lebih memilih dia daripada orang tua kandung kamu sendiri.”


“Tak ada yang dipilih atau memilih disini. Yang ada, Mama haru bisa menerima istri aku.”


Ningsih pun lekas pergi dari sana. Berbicara dengan Abi rasanya percuma karena apa yang ia katakan selalu dibantah. Bahkan Ningsih selalu saja kalah karena setiap kata yang diucapkan Abi memang benar adanya membuat dia kehabisan kata-kata untuk membalas.


Abi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sedang menetralkan emosi yang sempat naik karena kesal pada sang Mama. Sebelum menemui Larisa ia harus tampak baik-baik saja agar sang istri tak merasa khawatir.


“Loh, kok, Tante udah pulang aja, Kak?” tanya Larisa ketika Abi sampai di kamarnya.


“Mama, buru-buru. Sudah ditunggu sama teman-temannya.” Abi pun berbohong.


“Kak?”

__ADS_1


“Iya, sayang?”


Larisa tersipu malu ia sampai menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


“Gak papa kan, Kakak panggil sayang?”


Wanita itu mengangguk pelan.


“Mau tanya apa tadi?”


“Kakak, sama Tante Ningsih baik-baik saja kan? Kalian gak lagi bertengkar kan?”


Abi tersenyum palsu, ia mendekati Larisa yang sedang memilih pakaian untuknya di dalam lemari. “Gak kok, cuma berdebat kecil aja,” jelas Abi memeluk istrinya dari belakang.


Lama mereka terdiam menikmati pelukan itu. Abi bahkan sampai membenamkan wajahnya di leher sang istri. Larisa tahu kalau laki-laki ini sedang tidak baik-baik saja, maka ia pun membiarkan pria itu mencari ketenangan lewat dirinya.


“Kak?”


“Hhmm … “


“Mandi dulu, nanti lanjut lagi.”


Abi melepaskan pelukan itu. “Makasih, ya, La. Sudah izinkan, Kakak peluk kamu.”


Larisa tersenyum dan mengangguk.


\=\=\=\=\=


Sejak kedatangan Ningsih tadi Abi lebih banyak diam. Larisa pun paham ia selalu  menemani pria itu jika saja Abi ingin bercerita. 


“Maafkan sikap Mama, Kakak tadi ya,” pinta Abi. Mereka tengah duduk di ruang tengah sambil menonton film di TV. Abi pun merebahkan kepalanya di atas paha sang itri.


“Gak, papa kok aku gak masalah. Mungkin memang beliau gak mau aku dengar pembicaraan kalian.”


“Bukan hanya itu, maafkan juga sikapnya yang ketus sama kamu.”


“Oh itu. Jujur, ya, Kak aku bingung kenapa Tante Ningsih bersikap seperti itu sama aku? Apa aku ada salah sama beliau?”


Abi membelai wajah istrinya dan menatap dari bawah. “Kamu gak ada salah apa-apa sama Mama Ningsih. Jadi, gak usah dipikirin, ya.”


Larisa mengangguk sambil membelai rambut hitam Abi.


Laki-laki itu lalu membenamkan wajahnya ke perut Larisa. “Hhhhaaahhh … Rasanya, Kakak pengen tidur sambil meluk kamu deh. Biar semangatnya balik lagi besok pagi.”

__ADS_1


Larisa hanya diam.


__ADS_2