
Seperti biasa setiap akhir bulan Endra dan Divira datang lagi ke Bali untuk bertemu dengan sang cucu. Hanya punya waktu dua hari di sini mereka benar-benar memanfaatkan waktu yang ada. Seperti mengajak Kyra jalan-jalan atau bermain di satu wahana permainan.
Membeli beberapa mainan yang diinginkan oleh gadis kecil itu meski Larisa dan Abi kadang melarang. Namun, keduanya tak peduli, rasa sayang pada cucu itu ternyata sangat melebihi rasa sayangnya pada sang anak. Jadi, apa yang di mau atau di minta Kyra pasti akan mereka penuhi.
Sedangkan Abi dan Larisa memilih untuk menghabiskan waktu berdua di villa saja. Mereka sengaja memberikan waktu pada Kakek-Nenek itu untuk melepas rindu pada sang anak.
Sorenya mereka pun pulang ke villa. Mandi dan berganti pakaian lalu siap-siap makan malam. Larisa sudah memasak makanan kesukaan dari setiap keluarga. Di meja makan semuanya tampak senang dan bahagia ketika mendengarkan Kyra si gadis bijak itu menceritakan liburannya tadi bersama Opa dan Oma.
Siapa saja yang melihat keluarga itu pasti akan merasa sangat iri, sebab kehidupan mereka seperti tak ada masalah. Tawa serta senyuman di wajah masing-masing sangat lebar seolah menggambarkan betapa bahagianya mereka setelah melewati gelombang kehidupan.
“Kyra, waktunya istirahat. Kita ke kamar, yuk!” ajak Abi.
“Oke. Oma, Opa, Kyra bobok dulu, ya,” pamit gadis kecil itu.
__ADS_1
“Iya, sayang. Tidur yang nyenyak, ya.” Davira menjawab sambil memeluk dan mencium kening cucunya begitu pula dengan Endra.
Larisa juga ikut mencium sang putri sebelum Kyra dan Abi naik ke kamar. “Selamat malam anak Mama.”
“Malam juga, Mama.”
Abi sengaja memberikan ruang pada Larisa dan kedua orang tuanya. Agar mereka bisa bicara soal permintaan Endra yang kemarin di utarakan. Tak pantas saja rasanya ia tetap duduk di sana mendengarkan pembicaraan keluarga istrinya meski ia sudah menjadi bagian dari keluarga itu.
Dari ruang tengah Abi menggendong Kyra menaiki tangga menuju kamar di lantai dua. Larisa pun menatap punggung lebar suaminya sampai menghilang di balik tembok barulah ia menatap sang Papa.
“Jadi, bagaimana keputusan kamu soal permintaan Papa waktu itu?” tanya Endra.
“Sebelumnya aku minta maaf, aku tetap gak bisa untuk pindah ke Jakarta,” jawab Larisa. Membuat wajah kedua orang tuanya langsung berubah kecewa. “Tapi aku akan tetap bantu mengurus bisnis Papa.”
__ADS_1
“Caranya?”
“Pindahkan kantor pusat kesini.” Larisa berkata dengan sangat enteng.
Seolah-olah hal itu sangat mudah baginya. Namun, tidak menurut Endra membuat pria paruh baya itu menghembuskan nafas kasar. “Kamu pikir memindahkan kantor pusat kesini semudah membalikkan telapak tangan?” Endra tampak sedikit emosi, wajahnya memerah menahan amarah.
“Loh, sulitnya dimana?” Larisa bertanya dengan wajah datar.
“Butuh dana yang sangat besar dan pastinya seluruh karyawan akan pindah kesini. Kamu pikir perusahaan Papa cuma perusahaan kecil yang bisa pindah layaknya sebuah keluarga pindah rumah.” Suasana mulai tegang. “Artinya karyawan Papa akan pindah ke pulau ini. Tentu hal itu sangat sulit, karena mereka pastinya akan memboyong keluarganya untuk pindah.”
“Terus? Permasalahannya di mana? Larisa seakan belum mengerti dengan apa yang disampaikan oleh sang Papa.
“Kamu bodoh atau apa sih, Sa? Papa bingung dengan jalan pikiran kamu. Kalau karyawan Papa pindah, otomatis mereka harus mengurus surat-surat, bikin repot tau gak. Kenapa kamu malah mempersulitnya? Kalau kamu gak mau bantu Papa, ya sudah, bilang saja. Jangan bikin masalah kecil seperti ini jadi ribet dan pusing, melibatkan banyak orang.” Dada Endra tampak naik turun saat menjelaskan keberatannya pada sang putri.
__ADS_1