
Akhirnya mobil yang mereka naikin sampai juga di parkiran RS. Di sana Asisten pribadi Endra sudah menunggu kedatangan dan mengarahkan keluarga itu menuju ruang inap mertuanya Bayu.
“Terimakasih banyak sudah datang, Pak Endra,” ujar Efendi.
“Mumpung saya ada waktu makanya nyempetin kemari,” jawab Endra. “Oh, ya, kenalin ini putri saya Larisa, dia yang sekarang menggantikan posisi saya di kantor. Jadi, mulai sekarang kerja sama kita dia yang akan menangani.”
Larisa pun mengulurkan tangan pada pria tua yang tengah berbaring di atas ranjang itu.
Lalu Efendi meminta sang istri untuk memanggilkan anaknya yang sedang makan di kantin Rumah Sakit.
“Tunggu sebentar, ya. Kenalan dulu sama anak saya. Dia juga akan menggantikan posisi saya di kantor nantinya. Semoga kalian bisa bekerja sama lebih baik lagi daripada kami,” ucap Efendi.
Larisa mengangguk sambil tersenyum. Tak lama istri Efendi pun kembali bersama putrinya. “Luna, kenalin ini Larisa anaknya Pak Endra. Dia yang akan menangani kerja sama perusahaan kita.”
Luna sempat menatap lama pada wanita yang tengah berdiri di sisi ranjang Ayahnya itu. Ketika sang Ibu mencolek pinggangnya barulah ia mengulurkan tangan. “Luna.”
“Larisa.”
Keduanya sama-sama tersenyum simpul.
“Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak. Soalnya mau ke Dokter kandungan,” jelas Larisa.
“Oh, iya. Sekali lagi terimakasih banyak sudah menyempatkan datang untuk menjenguk saya,” jawab Efendi.
Larisa hanya tersenyuman. “Pa, aku periksa dulu, ya.”
“Iya, nanti kita ketemu di parkiran,” jawab Endra.
__ADS_1
Luna menatap lama punggung wanita itu. Entah apa yang ada di benaknya ketika bertemu dengan mantan calon istri suaminya. Dari raut wajah, ia tampak menyimpan sejuta pertanyaan yang ingin di ungkapkan pada Larisa
...🐷🐷🐷🐷...
“Permisi, Buk. Diluar ada tamu,” kata Indah pada Larisa.
“Siapa?”
“Katanya anak Pak Efendi.”
Larisa mengalihkan pandangan dari komputernya. “Suruh masuk aja, Indah.”
“Tapi, Buk, setengah jam lagi kita kedatangan tamu juga loh.”
“Gak papa. Setengah jam itu waktu yang lama dan saya rasa cukup untuk bicara sebentar.”
“Baik.” Indah segera pergi dari sana dan mengantarkan Luna masuk ke ruangan Larisa.
“Maaf kalau saya datang tiba-tiba,” ucap Luna.
Larisa hanya tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Sebelumnya saya mau tanya, apa kamu masih ingat dengan saya?”
Kepala Larisa mengangguk pelan. “Kamu istrinya Bayu kan?”
Luna mengiyakan.
__ADS_1
“Apa kamu datang kesini karena ingat kejadian dulu? Saat di mana saya memukuli kamu di mall waktu itu? Kalau memang karena itu, saya benar-benar minta maaf,” ujar Larisa.
Luna pun menggeleng dengan cepat. “Bukan! Bukan karena itu.Saya sudah tau permasalahannya jadi, saya pun sudah memaafkan kamu. Saya datang kesini hanya ingin menanyakan soal Bayu.”
Kening Larisa mengerut. “Soal Bayu?”
“Apa belakangan ini dia sering kesini?”
“Bukannya dia sekarang menggantikan posisi Ayah kamu di kantor? Artinya dia memang sering kemari, tapi kamu tenang saja, soal kerja sama bukan saya yang menangani. Jadi, kami gak sering bertemu kok.” Larisa merasa Luna sedikit curiga pada suaminya.
Wanita itu menghembuskan nafas kasar. “Saya dan Bayu sedang dalam proses perceraian.”
Kabar itu sedikit membuat Larisa terkejut.
“Papa saya sakit gara-gara dia. Gara-gara sikapnya yang tak pernah berubah.”
“Maksudnya?”
“Bayu yang sekarang masih sama seperti Bayu yang dulu. Dia masih saja mencari kesenangan di luar sana dengan wanita lain.”
“Maaf, saya gak bermaksud-.”
“Gak papa. Saya datang kemari hanya ingin memperingatkan kamu, agar menjauh dari dia. Karena mungkin saja dia sekarang berniat ingin merusak rumah tangga kamu.”
Larisa hanya terdiam di posisinya.
...----------------...
__ADS_1
Maaf aku telat up date...
Dari tadi NT ku bermasalah...