
“Mama, lihat Mochi, gak?” tanya Kyra.
“Gak ada, sayang. Bukannya tadi kamu lagi main sama dia?”
“Iya, sih, tapi pas aku balik dari toilet Mochi menghilang.”
“Sudah cari di kamar kamu?”
“Sudah, tapi gak ada.”
“Kita cari di bawah, yuk! Siapa tau dia lagi main di taman atau bobok dimana gitu.” Larisa berdiri dari duduknya menggandeng tangan sang putri menuruni tangga.
Ibu dan anak itu mencari keberadaan anak kucing mereka di tempat biasanya dia bersembunyi. Tapi mereka tak menemukan Mochi sama sekali, bahkan Larisa dan Kyra sampai memanggil namanya tetap saja tak ada sahutan dari bola bulu itu.
“Bik, lihat Moci gak?” tanya Kyra.
“Gak ada, Ky.”
“Bantu cariin, yuk, Bik,” ajak Larisa.
Mereka pun berkeliling di dalam villa besar itu mencari Mochi di tempat-tempat tersembunyi. Mungkin saja dia menemukan tempat nyaman lain untuk tidur siang. Karena tak kunjung ketemu Kyra memutuskan mencarinya di taman, entah kenapa hatinya mengatakan kalau Mochi ada di sana.
“Aaaakkkk … .”
Mendengar pekikan sang anak, Larisa segera berlari menghampiri sumber suara. Saat tiba di taman Kyra tampak pucat sambil menangis. “Mama, tolongin Mochi.” Gadis kecil itu langsung membenamkan wajahnya di pelukan sang Ibu.
__ADS_1
Ternyata ia berhasil menemukan Mochi, kucing itu sedang dililit ular di tengah-tengah taman. Larisa bergegas memanggil Bibik, meminta pengharum ruangan. Ia menyemprotkan wewangian itu ke arah ular agar segera pergi dan melepaskan Mochi. Akhirnya Mochi berhasil diselamatkan.
Kyra terus saja menangis di dekapan Bibik selagi Mamanya berusaha menghalau ular sebesar tangan putrinya itu agar pergi jauh.
“Aku gak mau Mochi sakit,” seru Kyra.
“Kita bawa Mochi ke dokter hewan, ya. Kamu gak perlu takut,” kata Larisa.
Diambilnya kucing kecil gembul yang tampak sedang meregang nyawa dari atas tanah, kemudian Larisa bergegas menuju garasi. Mengeluarkan mobil dan melaju menuju dokter hewan terdekat. Selama perjalanan Kyra tak henti-hentinya menangis melihat Mochi yang sudah sulit bernafas.
“Mama, cepetan.”
“Iya, sayang, sebentar lagi kita sampai.”
Kyra terus memeluk dan membelai kucingnya. Ia sanggup melihat kesayangannya itu kesakitan. Akhirnya mereka pun sampai di depan klinik hewan. Kyra pun turun dibantu sang Mama membawa Mochi masuk untuk segera ditangani.
Selama kucing kesayangannya diperiksa Kyra tampak cemas dan khawatir. Air matanya tak berhenti mengalir sejak tadi. Ia takut jika Mochi tak bisa diselamatkan.
“Maaf, sepertinya dia gak bisa bertahan. Walaupun kita kasih obat-obatan itu hanya akan memperlambat kematiannya. Bisa ular tersebut sudah menyebar,” jelas Dokter.
Tangis gadis kecil itu menjadi pecah, ternyata apa yang di khawatirkannya benar terjadi.
“Sebaiknya kita harus mengakhiri penderitaan kucing kecil ini, segera,” tambah Dokter.
Larisa mengangguk setuju lalu ia menggendong Kyra keluar dari ruang pemeriksaan. Dipeluknya sang anak, yang sedang menumpahkan kesedihannya atas kehilangan Mochi. Mereka duduk di kursi tunggu. Sambil menunggu tangis putrinya reda, Larisa tak bicara apa-apa. Ia hanya memberikan usapan lembut di punggung anaknya itu agar merasa tenang.
Akhirnya Kyra pun mereda tangisnya. “Artinya Mochi gak hidup lagi, ya, Ma?”
__ADS_1
Larisa menghapus air mata di pipi sang putri. “Kyra, Mochi sudah gak bisa bertahan lagi. Jadi, Dokter memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
“Kenapa? Bukannya Dokter bisa menyembuhkan penyakit.”
“Dokter memang bisa menyembuhkan penyakit, tapi itu atas izin Allah. Kalau Allah berkehendak untuk mengambil Mochi, maka sehebat apapun Dokternya dia tidak akan bisa menyembuhkan Mochi.”
Kyra masih saja sesegukan sehabis menangis. “Terus kenapa Mochi gak di kasih obat dulu? Siapa tau Allah kasih izin buat Mochi sembuh.”
Dengan penuh rasa sabar Larisa berusaha menjelaskan hal ini pada putrinya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. “Kyra, sayang Mochi kan?”
...----------------...
Hari ini aku bawa rekomendasi lagi ya.
Habis baca blurb langsung ke novelnya dan jangan lupa tinggalkan jejak sebagai bentuk dukungan.
Terima kasih 😊😉🥰
Kenapa hidupku harus menderita seperti ini, jika banyak orang yang bisa merasakan apa arti itu bahagia, kenapa hanya aku orang yang terjebak didalam lembah penderitaan ini sendiri.
Hidup bersama dengan seorang Mama tiri seperti halnya hidup didalam jeruji besi, sekaligus awal kehancuran bagiku setelah beberapa tahun yang lalu Mama kandungku meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Dan Papa yang memutuskan untuk menikah lagi dengan Monika yang tak lain sekarang dia menjadi Mama tiri-ku sendiri, awalnya aku kira Mama tiri-ku peduli dan sayang kepadaku, tapi nyatanya setelah Papa pergi meninggalkanku dan menyusul Mama di Surga.
Sifat dan perlakukan dia terhadapku seketika berubah, bahkan dia hanya menganggap-ku layaknya seperti hewan yang tidak ada gunanya dan hanya akan jadi bahan siksaan. Yang selalu ia kurung didalam kamar tanpa beralas yang hanya menyisakan selembar karpet tipis beserta selimutnya. Bahkan sangking jahatnya ia hanya akan mengeluarkan-ku ketika menyerahkan-ku pada laki-laki mesum yang berani membayarnya dengan harga tinggi yaitu 50 juta permalam sangat kejam bukan.
__ADS_1