Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 139


__ADS_3

Akhirnya mereka pun tiba di bandara. Ningsih yang sudah di sana lebih dulu menyambut sang cucu saat turun dari mobil.


“Cucu Eyang.” Dipeluknya sang cucu dengan begitu erat.


“Jangan sedih, ya, Eyang. Nanti Kyra pasti bakalan sering ke sini,” jawab Kyra.


“Eyang, gak sedih, kok.” Ibu dari Abi itu berusaha tersenyum.


Mereka semua masuk mengantar Larisa, Abi dan Kyra menuju terminal keberangkatan. Kyra yang dalam gendongan sang Papa mulai merasa ada yang hilang dari tangannya. “Boneka aku mana?” 


“Ketinggalan di mobil kali, ya?!” tebak Abi. Lalu sang putri pun diturunkan. “Papa lihat di mobil dulu, ya, kamu tunggu di sini.” ia memberikan Kyra pada Larisa.


Menunggu kembalinya Abi, Larisa dan para orang tua menunggu di bangku tunggu. Sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba ada panggilan dari Luna.


{Halo, iya ada apa, Lun?}


{ ...}


{Apa?}


Larisa kaget dan langsung berlari keluar dari sana. Mencari keberadaan suaminya dalam kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Akhirnya bola mata Larisa berhasil menemukan sosok yang dicari dan ia pun bergegas menghampiri.


“Akh … !” Sebuah pisau menancap tepat di bagian perut Larisa.


...🍂🍂🍂🍂...


{Selamat siang, Buk Luna. Kami dari sekolahnya putra Ibu. Kebetulan Ayahnya Edo gak datang menjemput dan sekarang Edo sedang menunggu bersama kami. Apa Ibu bisa datang menjemputnya?}


Wali kelas dari sekolah Edo menghubungi Luna.


{Oh, begitu. Baik, saya akan segera kesana. Mohon ditunggu sebentar, ya Buk.}


Luna bergegas mengambil tasnya dan turun dari kantor menuju parkiran. 


Tiba di sekolahan, ia pun menemui sang putra yang sudah menunggu lama. “Maafin, Mama, ya. Mama gak tau kalau Papa kamu gak jemput,” katanya pada Edo.


“Gak papa kok, Buk. Edo gak rewel kok, cuma bingung aja tadi kenapa Papanya gak ada,” jelas Ibu Guru.


“Saya juga gak dikabarin Papannya kenapa gak jemput Edo. Kalau begitu kami pulang, ya Buk. Terimakasih sudah menemani anak saya.”


“Baik, Buk. Sudah kewajiban kami menjaga anak-anak.”


Sebelum kembali ke rumah, Luna pun jadi penasaran kenapa Bayu tak datang ke sekolahan untuk menjemput sang anak seperti biasanya. Dicobanya menghubungi ponsel sang mantan suami tak ada jawaban. Karena jalanan yang dilalui sangat dekat dengan kos-kosan yang di tinggali Bayu, ia pun memutuskan untuk singgah.

__ADS_1


“Sus, tunggu di sini sama Edo. Saya mau lihat Papanya sebentar. “ Luna menitipkan sang anak pada pengasuh saat mobilnya sampai ditempat tujuan.


Diketuknya daun pintu berwarna coklat kayu itu, tak ada sahutan sama sekali. “Bay, apa kamu di dalam?”


Sayup-sayup terdengar suara tangisan seseorang di dalam. Luna pun memberanikan diri membuka pintu dan ternyata tak terkunci sama sekali. “Bay, kamu nangis?” Ia menemukan sang mantan suami tengah duduk menekuk lutut di atas lantai. 


Diperhatikan ruangan persegi itu tampak berantakan sekali. Banyak pecahan kaca dan perabotan yang ada tak lagi berada di tempatnya.


“Kamu kenapa, Bay?” Ia menekuk lutut agar sejajar dengan Bayu.


“Gue cinta sama Larisa, Lun dan gue gak bisa melupakannya. Gue benar-benar bodoh sudah meninggalkannya dulu,” isak Bayu.


“Terus, hanya gara-gara ini lo sampai lupain Edo?”


Pria itu mengangkat kepalanya.


“Edo udah nungguin lo satu jam lebih dan untung Ibu gurunya telpon ke gue,” kesal Luna.


“Lagian buat apa sih lo tangisin Larisa? dia sudah bahagia sama suami dan anaknya. Dia juga gak akan mau sama lo lagi walaupun dia gak punya suami.”


“Gak! Larisa pasti mau sama gue kalau suaminya itu gak ada.” Dengan tergesa-gesa Bayu bangkit dari duduknya, ia pun mengganti baju dengan sweater hoodie warna hitam di dalam kamar. “Gue harus cari Larisa.”


Kemana pun Bayu melangkah, Luna terus mengekorinya sambil bicara. “Cari kemana? Dia palingan sudah berangkat ke Bali.”


“Mau kemana, lo?” Luna menahan tangan Bayu.


“Lepasin! Gue mau ambil Larisa dari suaminya.”


“Jangan ngaco deh, lo! Dia sudah baik mau melepaskan lo dari penjara dan sekarang lo mau bikin ulah lagi?”


Bayu yang kembali dari dapur mengacungkan sebuah pisau ke lehernya Luna. “Kalau lo gak buka mulut, semua akan berjalan lancar.”


Siapa yang tak takut jika diancam begitu. Luna pun akhirnya melepaskan Bayu, membiarkannya pergi begitu saja. Entah menggunakan apa, ia juga tak peduli. Setelah rasa takutnya menghilang ia pun kembali masuk kedalam mobil dan mencari keberadaan Bayu.


Siapa tau ia dapat menemukan pria itu di jalanan. Cemas dan khawatir jika mantan suaminya itu benar-benar nekat, melakukan sesuatu yang ditakutkan, Luna pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Larisa.


{Hallo, iya ada apa, Lun?}


{Sa, sebaiknya kamu harus hati-hati karena Bayu sedang menuju Bandara. Dia ingin menghabisi suami kamu, karena dia sangat ingin mendapatkan kamu kembali}


Luna berkata dengan nafas yang sesak.


{Apa?}

__ADS_1


Larisa kaget dan langsung berlari keluar dari sana. 


Ia Mencari keberadaan suaminya dalam kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Panggilan dari Luna tadi langsung diputuskan begitu saja. Pikirannya hanya satu yaitu menemukan Abi sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Akhirnya bola mata Larisa berhasil menemukan sosok yang dicari dan ia pun bergegas menghampiri.


Ketika kakinya melangkah, tampak dari arah kanan ada sosok yang wajahnya tertutup oleh hoodie. Sepertinya orang itu hendak mendekati Abi dan dari dalam saku sweater yang digunakannya tampak  sebuah benda yang mengkilap dikeluarkan dari sana. Larisa pun kembali mengarahkan pandangan pada suaminya. Abi tengah menutup pintu mobil dalam posisi membelakanginya. 


“Akh … !”


“Larisa?” kaget Bayu hampir bersamaan dengan Abi.


“Sayang?” Abi menahan tubuh istrinya yang berada tepat di depannya. 


Larisa memegangi perutnya yang terasa sakit. Membuat tubuh nya rebah seketika di pangkuan sang suami.


Kejadian yang begitu tiba-tiba membuat Abi sedikit kebingungan.


“Aaaaaaaa …..”


 Teriakan dari seseorang menyadarkan dirinya kalau sang istri terluka akibat tusukan.


“Sayang, hey, Larisa, ka-kamu … ?” cemas Abi. Ia pun mengangkat kepala sang istri agar lebih tinggi. 


Orang-orang pun mulai mengerumuni.


“Sa, kenapa kamu muncul tiba-tiba?” tanya Bayu. 


“Bayu? Apa yang sudah lo lakukan pada Larisa?” teriak Abi.


“Gue gak sengaja, gue, gue gak bermaksud,” cemas Bayu.


“Ka-kak A-abi,” lirih Larisa.


“Bertahan, sayang kita akan ke rumah sakit.” Abi berkata dengan raut cemas. Ia pun langsung mengangkat tubuh istrinya. 


“Sa, maafin aku,” pinta Bayu.


“Minggir! Jangan pernah dekati istri gue lagi,” murka Abi.


Supir pribadi mereka tadi yang berada di dalam mobil segera membukakan pintu. “Pak ke Rumah Sakit terdekat.”


“Baik, Pak.”


Kepergian Abi membawa istrinya membuat Bayu hanya mampu berdiri menangisi kesalahan yang sudah dilakukannya. Hingga pihak keamanan datang untuk menangkap, ia tak melawan sama sekali.

__ADS_1


Endra dan Davira serta Ningsih pun mencoba bertanya pada orang-orang tentang apa yang tengah terjadi. Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari beberapa saksi mereka pun terkejut. 


__ADS_2