Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 94


__ADS_3

Karena akan bertemu dengan Opa dan Omanya serta Eyang Ningsih. Kyra pun jadi lebih bersemangat hari ini. Ia tak lagi sedih karena mungkin sudah dapat menerima kepergian Mochi dengan lapang dada. Sebelum berangkat ke Jakarta gadis kecil itu meletakkan satu tangkai bunga di makam kucing kesayangannya dan menyampaikan salam perpisahan.


Dari villa mereka berangkat ke bandara diantar oleh Kania dan Boni. Mereka pun berpisah di depan pintu terminal. Dua pasang sahabat itu pun saling berpelukan mengakhiri perjumpaan dan kebersamaan mereka untuk sementara waktu.


“Titip villa,” kata Abi.


“Pasti, nanti setiap minggunya kami akan bersihkan,” jawab Boni.


“Kamu hati-hati. Jaga kehamilan dan jaga kesehatan. Nanti pas lahiran kami pasti kesini,” ujar Larisa.


Kania hanya mengangguk menahan genangan air mata. “Kok ngomongnya jadi aku kamu sih? Biasa aja! Jadi sedih deh akunya.”


Larisa hanya tertawa.


“Mami, nanti tolong bersihkan makamnya Mochi, ya?!” pinta Kyra.


Boni pun menekuk lutut agar sejajar dengan tinggi Kyra. “Nanti biar Papi aja yang bersihin makamnya Mochi. Mami kan lagi hamil dedek bayi, jadi gak bisa.”


Kyra pun melingkarkan tangannya ke leher pria itu. “Makasih, ya, Papi.”


Boni tersenyum sambil mengelus kepala Kyra. “Iya, sayang. Jangan sedih lagi, ya.”


“Ayo, kita masuk, sayang. Sebentar lagi pesawat kita akan berangkat,” ajak Larisa.


“Dada Mami Papi.” Gadi kecil itu melambaikan tangannya pada Kania dan Boni.

__ADS_1


Mereka pun membalas lambaian tangan Kyra dengan rasa berat hati.


...🐨🐨🐨🐨...


Berada di dalam burung besi menembus langit sore kurang lebih selama dua jam, akhirnya keluarga kecil Abi pun memijak tanah kota Jakarta. Di terminal kedatangan, Endra dan Davira menyambut mereka dengan rasa bahagia. 


Kyra pun segera berlari menghampiri Kakek dan Neneknya. 


“Cucu oma sudah sembuh?” tanya Davira.


“Sudah dong, Oma.”


Abi dan Larisa pun memeluk orang tua itu. 


“Baik, Pa. Kyra antusias banget, soalnya ini pertama kali dia naik pesawat. Selama di atas awan dia gak berhenti ngoceh.”


“Tanya ini dan itu. Dia juga sempat melihat matahari terbenam dari atas langit,” tambah Larisa.


“Pasti seru sekali, ya?” tanya Endra.


“Seru banget, Opa. Kyra jadi pengen naik pesawat terus.”


“Kalau begitu cucu Opa harus jadi pilot.”


“Memang bisa?”

__ADS_1


“Pasti bisa. Cucu Opa kan pintar.”


“Oke, kalau begitu Kyra tambahin lagi cita-citanya. Pengen jadi pilot.”


Mereka semua pun tertawa.


“Malah asik ngobrol di sini. Ayo, kita segera pulang. Di rumah Mama sudah masak banyak,” ajak Davira.


Abi dibantu supir pribadi mertuanya memasukan koper dan barang bawaan ke dalam bagasi mobil. Setelahnya mereka segera melaju ke rumah.


...****************...


Hai 👋👋👋 jumpa lagi.


Hari ini tetap aku bakalan bawa rekomendasi novel lain dari karya teman sesama author. Silahkan mampir dan tinggalkan jejak ya...


Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.


Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.


"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"


Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?


__ADS_1


__ADS_2