Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 77


__ADS_3

Jam tujuh pagi Davira dan Endra akhirnya tiba di Rumah Sakit. Mereka pun sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sang cucu. Sedangkan Ningsih pastinya tengah berada di atas awan menuju pulau Bali.


“Kalian pulang sana, biar Tante sama Om yang jagain sekarang,” ujar Davira pada pengantin baru.


Mereka pun mengangguk setuju karena semalaman harus begadang, alhasil kini mata terasa sangat berat untuk tetap terjaga.


“Thanks, ya, kalian udah nemenin gue dan Larisa semalaman,” ucap Abi.


“Sama-sama. Udah basa-basinya, gue mau pulang udah gak kuat ini mata,” jawab Boni.


“La, nanti sore kita kesini lagi,” kata Kania.


“Gak usah, kalian nikmati aja waktu berdua di villa sana. Palingan besok gue juga udah pulang. Kita ketemu disana aja,” jelas Larisa dengan suara yang lemah.


“Iya, sekarang ada kami, kalian pengantin baru masak habisin waktu di Rumah Sakit sih,” timpal Davira.


“Oke, kalau gitu kamu pamit, Om, Tante,” ujar Boni.


“Kita balik, ya, Sa, Kak Abi,” tambah Kania.


“Iya, hati-hati di jalan,” balas Abi sedangkan Larisa hanya menganggukkan kepala. 


Akhirnya tuan putri dari keluarga itu pun datang bersama suster. Semuanya menyambut dengan penuh kegembiraan. Apalagi Davira dan Endra mereka tampak sangat-sangat bahagia bisa bertemu dengan cucu yang selama ini dinantikan.

__ADS_1


“Cantik sekali cucu kita, Pa,” seru Davira.


Bayi mungil itu pun diminta oleh suster untuk di susui oleh sang Ibu. Dibantu sang Mama, Larisa mengambil posisi mencoba menyusui putri kecilnya. Ia terus mengembangkan senyuman menikmati wajah cantik anaknya. Ia masih tak menyangka kalau kini dirinya sudah menjadi wanita yang sempurna.  


“Kita tunggu di depan, ya. Sebentar lagi Abah sama Umi pasti tiba, Mama tadi sudah kabari mereka,” kata Davira. Ia dan Endra menuju ruang tamu yang ada di kamar inap itu.


Larisa mengangguk


Abi pun ikut duduk di samping sang istri, memperhatikan makhluk lemah itu menghisap sumber kehidupannya. “Terimakasih sudah memberikan hadiah terindah tepat di hari ulang tahun Kakak,” ucapnya pada Larisa.


“Aku bilang juga apa, dia pasti lahir sekarang, tepat di tanggal kelahiran Papanya.”


“Kamu benar-benar Ibunya, sangat memahami dia bahkan sejak dalam kandungan.”


“Kakak sempurna karena kamu, hidup Kakak menjadi lengkap sekarang, sekali lagi terima kasih.” 


“Terima kasih juga sudah memilih aku untuk menjadi istri Kakak dan terima kasih atas segala hal yang sudah, Kakak lakukan buat aku.”


Abi melabuhkan sebuah kecupan penuh kasih sayang yang dalam di puncak kepala istrinya.


\=\=\=\=\=


Siangnya Ningsih pun sampai di Rumah Sakit.  Ia tampak sedang menahan tangis haru karena sudah tak tahan ingin berjumpa dengan sang cucu. 

__ADS_1


Ketika bayi mungil itu digendongnya, Ningsih akhirnya tak kuat lagi menahan bendungan air mata. Membuat Abi merangkul sang Mama.


“Dia mirip sekali dengan adikmu Mina,” ujar Ningsih.


“Mina itu Tantenya, sudah pasti ada kemiripan sedikit,” jawab Abi sambil mengusap punggung Ningsih.


Mertua Larisa itu pun menyeka pipinya nan basah akibat lelehan air mata. “Siapa namanya?”


“Nah, itu dia dari tadi kita tunggu-tunggu.” Davira langsung menyela untuk mencairkan suasana.


“Kyra Ameena Briana.” Larisa pun menyebutkan nama anak pertamanya pada keluarga.


“Artinya?” tanya Endra.


“Kyra artinya putri kecil seperti matahari,” jelas Larisa.


“Ameena kami ambil dari nama Mina, karena dia mengingatkan aku sama Almarhum yang artinya dapat dipercaya,” tambah Abi. “Briana artinya-”


“Kuat dan berbudi luhur,  aku harap dia seperti Papanya,” sela Larisa.


Abi tersenyum dan mengangguk sambil menggenggam erat jemari istrinya. Itulah harapan serta doa mereka berdua untuk gadis kecil itu.


...----------------...

__ADS_1


Balik lagi 😃 aku mau ingatin dulu jangan lupa like 👍 dan komen 🖊 hadiah 🎁 nya juga jangan lupa. Belakangan pada pelit semua, aku jadi gak semangat up date nya.


__ADS_2