
Ide dari Endra terdengar bagus membuat menantunya menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar.
“Ya, sudah, sana. Kamu berangkat kerja, tuh Kyra udah nungguin di mobil,” kata Davira.
“Iya, makasih, Ma, Pa.”
“Kami pasti akan bantu kamu. Gak baik suami istri berantem lama-lama.”
Abi pun segera masuk kedalam mobil mengantar sang putri ke sekolah lalu ia pun menuju rumah sakit.
Siangnya Larisa baru saja tiba dari menjemput Kyra ke sekolah. Endra dan Davira mengajak anak dan cucunya itu bicara di ruang tengah.
“Nanti sore, kami mau ke rumahnya teman Papa. Kyra ikut, ya,” ajak Davira.
“Aku gak dibawa?” tanya Larisa.
“Yang jagain rumah siapa?”
“Ada Bibik.”
“Rencananya Mama mau bawa Bibik juga, buat bantu-bantu di sana. Mereka lagi ngadain syukuran dan dari kemarin kami gak datang buat bantu,” jelas Davira.
“Oh, ya udah aku dirumah aja. Acaranya pasti lama kan?”
“Kayaknya gitu. Kebetulan Papa sama Mama dekat sekali sama mereka, gak enak kalau pulang cepat.”
“Kyra beneran mau ikut Oma, Opa?” Larisa bertanya pada putrinya.
“Mau.”
“Tapi Mama gak ikut loh.”
“Gak Papa, Kyra males kalau di rumah mulu.”
“Tapi nanti kalau acaranya lama gimana, terus kamu mau pulang?”
“Tinggal bilang aja sama Oma, gampang kan.”
“Iya juga sih. Ya, udah deh aku di rumah aja. Mau nonton film juga, sayang kalau dilewatkan.”
Davira mengangguk sambil tersenyum lebar.
Rencana mereka berhasil, Davira pun sudah menghubungi Abi kalau mereka akan berangkat satu jam sebelum ia pulang dari rumah sakit. Membuatnya tak sabar ingin segera pulang dan bertemu sang istri lalu menghabiskan waktu berdua.
__ADS_1
“Dada, Mama,” kata Kyra.
Larisa pun melambaikan tangan. “Da, sayang. Jangan bikin Oma sama Opa susah, ya.”
“Hati-hati di rumah, ya,” pesan Davira.
“Iay, jangan kemalaman, pulangnya.”
Mobil berwarna hitam itu pun melaju keluar dari pekarangan rumah. Setelahnya Larisa kembali masuk kedalam. Ia memilih duduk santai sambil selonjoran di atas sofa ruang tengah sambil menikmati film di layar TV.
Karena terlalu fokus menonton membuatnya tak mendengar suara mobil suaminya masuk garasi.
“Kyra, Papa pulang,” sorak Abi.
Larisa pun kaget. “Ngapain, Kakak ke sini?”
“Loh, kan tiap sore Kakak emang pulang kesini ketemu Kyra.”
“Kyra gak ada, dia pergi sama Papa, Mama.”
“Kok gak kasih tau?”
“Aku pikir Mama sudah kasih tau.”
“Terus ngapain di sini?”
“Kenapa? Gak boleh? Kakak mau disini temani kamu.”
“Gak usah.”
Abi pun menghembuskan nafas kasar. Ia bangkit dari sofa lalu melangkah menaiki anak tangga.
“Kemana?” sorak Larisa.
“Mandi,” balas Abi.
Larisa tak lagi mengusir suaminya. Belakangan ia sadar kalau sudah terlalu kelewatan marahnya pada Abi. Namun, gengsinya begitu tinggi untuk meminta Abi kembali pulang. Ia masih menunggu suaminya itu datang sendiri dan menyadari kesalahannya.
Karena asisten rumah tangga gak ada, Larisa pun berinisiatif untuk memasak makan malam untuk mereka berdua. Ia berencana ingin mengungkapkan kata maaf terlebih dahulu. Tak baik jika masalah antara mereka dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian.
Tak lama Abi pun turun, ia menghirup aroma masakan yang begitu wangi membawa kakinya melangkah ke arah dapur. “Kamu, masak?”
“Iya, Bibik gak ada di rumah. Di bawa Mama, Papa,” jawab Larisa.
__ADS_1
Abi membulatkan mulutnya.
“Kakak, bantu?”
“Gak usah. Aku bisa sendiri.”
Selama istrinya memasak, Abi hanya duduk di meja bar berbahan batu granit. Menemani serta memperhatikan wanita yang begitu dirindukannya itu. Sesekali ia tersenyum kala mata mereka bertemu pandang.
“Setelah Kakak pikir-pikir, Kakak akan cabut tuntutan pada Bayu,” ungkap Abi.
“Bagus kalau begitu,” jawab Larisa.
“Sekali lagi maafin, Kakak, ya.”
Larisa menghentikan kegiatannya. Ia mematikan api kompor lalu membalik badan menghadap suaminya. “Aku juga minta maaf karena sudah marah dengan cara yang salah. Tapi jujur aku kesal sama, Kakak, yang gak mengerti dengan apa yang aku maksud.”
Abi mendekati istrinya itu. “Sekarang Kakak ngerti. Kamu cuma pengen Kakak bisa memaafkan Bayu dan melupakan kejadian itu dan kita kembali hidup dengan tenang.”
“Aku cuma gak mau nantinya akan timbul masalah baru gara-gara dendam di hati, Kakak. Alangkah lebih baiknya kita lupakan kejadian itu, lalu jalani hidup dengan damai. Sama seperti waktu aku depresi dulu. Setelah kita lupakan, akhirnya apa? Kehidupan kita baik-baik saja kan, kita fokus membangun masa depan yang cerah dan lebih baik, kita juga hidup bahagia karena sudah ikhlas melepaskan hal-hal buruk nan sudah terjadi dalam hidup ini. Gak ada gunanya kita menyimpan dendam dan rasa sakit hati, yang ada kita jadi berantakan,” terang Larisa.
Membuat Abi membawa Larisa kedalam dekapannya. “Kakak paham, sayang. Maafin Kakak, ya, sudah benatak kamu dan gak mau mendengarkan nasehat dari kamu.”
“Aku sudah maafin, Kakak. Setelah ini lepaskan Bayu dan kita segera kembali ke Bali.” Larisa menjawab di dada bidang suaminya.
“Iya, besok Kakak akan ke kantor Polisi utuk melepaskan Bayu.”
“Janji?” Larisa mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami.
“Janji, sayang. Sekarang yang lebih penting buat Kakak adalah keharmonisan rumah tangga kita. Rasanya gak enak dicuekin istri.”
Keduanya saling melepas pelukan.
“Besok aku ikut, kita harus ketemu Bayu dan Kakak harus minta maaf sama dia.”
Bayu tampak berpikir. “Harus?”
“Iya, biar semuanya beres. Aku gak mau pergi dari sini sebelum permasalahan selesai.”
“Oke, deh.” Abi pun mengalah, jika itu yang terbaik menurut Larisa maka ia pun setuju.
“Aku beresin dulu masaknya, habis itu kita makan malam,” kata Larisa.
“Iya, Kakak telpon Mama Ningsih dulu.”
__ADS_1