Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 102


__ADS_3

Tiba-tiba Kyra datang bersama Abi dari kamar. Soalnya sehabis ganti baju gadis kecil itu tertidur.


“Nah itu dia cucu kita,” seru Endra.


Kyra pun segera turun dari pangkuan sang Papa dan menyalami semua tamu. 


“Om ganteng namanya siapa?” tanya gadis itu pada Dendi.


Larisa dan Abi serta yang lainnya sampai kaget mendengar petanyaan dari Kyra.


“Hahaha … nama Om Dendi, sayang. Kamu Kyra, ya?” 


Kyra hanya mengangguk sambil tersipu malu. Dendi pun sampai merasa gemas dan mencubit pipinya.


“Bahaya ini, bangun tidur langsung samperin cowok ganteng,” seru Abi dan semua orang pun tertawa.


“Tapi kan emang ganteng.” Kyra memilih duduk di dekat Omnya yang baru ditemui itu


“Pintar banget sih, umur berapa Mas?” tanya Dendi.


“Lima tahun.”


“Gantengan Papa atau Om Dendi?” tanya Leo.


Kyra menatap Abi lalu beralih ke Dendi yang ada di sampingnya. “Kalau kata Mama laki-laki itu ganteng, kalau perempuan cantik.”


Leo mengangguk. “Kalau Opa sama Kakek?”


Kyra pun menggeleng. “Opa sama Kakek udah tua.”


“Kata Mama juga?”

__ADS_1


“Kata aku.” Semua orang pun tertawa mendengar jawaban polos gadis kecil itu.


“Parah ini punya cucu,” ujar Leo memeluk Kyra.


“Senang pastinya, ya, Mbak ada Kyra di rumah,” timpal Susi.


“Bukan senang lagi, bahagia banget,” jawab Davira.


“Kita asik ngobrol aja. Yuk, ke meja makan! Aku sama Mama tadi sudah masak lo,” ajak Larisa.


Mereka semua beralih ke meja makan menikmati hidangan makan siang yang spesial karena dimasakin langsung oleh Larisa nan kemarin tinggal di Bali sana.


...🐌🐌🐌🐌...


Sebelum sholat subuh Larisa menggunakan test pack yang kemarin di belinya. Sebenarnya Abi sudah mendesaknya untuk segera dipakai saat sampai rumah. Namun, ia memilih pakai urin pagi biar hasilnya lebih akurat. Larisa pun tampak sedang menunggu garis kedua dari alat tersebut. Meskipun tidak merasakan gejala hamil, tapi perasaannya mengatakan kalau dirinya tengah berbadan dua.


“Kak, bangun.” Larisa mengguncang tubuh Abi.


“Iih, bagun dulu, lihat ini.”


“Lihat apa?” tanya Abi di perut Larisa.


“Aku hamil!”


“Kakak juga udah bilang kemarin.”


Larisa memasang wajah cemberut. “Kok, Kakak biasa aja sih? Gak kaget gitu. Gak senang, ya?!”


Abi mengangkat kepalanya untuk menatap sang istri. “Kakak udah tebak kalau kamu tuh lagi hamil. Cuma Kakak gak mau kasih tau kamu, nanti di sangkanya cuma PHP. Kalau senang pasti senang lah, gak harus sorak-sorak juga.”  Abi kemudian segera duduk. “Cara mengungkapkan rasa bahagia kita itu lebih baik dengan mengucapkan syukur dan memanjatkan doa pada Allah. Berterimakasih kita sudah di kasih kepercayaan dan memohon semoga calon anak kedua kita ini sehat, kamunya juga sehat sampai melahirkan nanti.”


“Aamiin.” 

__ADS_1


Abi pun memeluk istrinya. “Sekarang jangan mikirin hal-hal yang gak penting. Apa yang kamu khawatirkan selama ini itu gak terbuktikan. Malahan sekarang kita dapat kabar bahagia.”


Larisa mengangguk di dada suaminya.


“Bentar lagi adzan kan? Yuk, kita ambil wudhu habis itu gaji sambil nunggu adzan.”


Keduanya turun dari atas kasur dan segera mensucikan diri.


...🐰🐰🐰🐰...


Minggu pagi keluarga Endra dihadiahi dengan kabar gembira kehamilan Larisa. Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur atas berkah yang diberikan. Kehidupan terasa berjalan sesuai harapan dan doa. 


“Beneran di peru Mama ada dedek bayinya?” tanya Kyra.


“Besok pagi kita periksa ke Rumah sakit. Nanti di sana Kyra bisa lihat,” jawab Abi.


Gadis kecil itu mengangguk lalu turun dari pangkuan sang Papa dan memeluk Mamanya.


“Tapi kamu gak mual atau pusing gitu kan, La?” tanya Davira.


“Aku gak merasakan gejala hamil, Ma. Biasa-biasa aja, kayaknya kehamilan kedua ini lebih enteng, deh,” jawab Larisa.


“Mama khawatir, soalnya kamu kan sibuk banget. Takut kenapa-kenapa nantinya.”


“Besok aku konsultasi dulu sama Dokter kandungan, ya.”


“Kalau kamu disarankan untuk istirahat sama Dokter, biar Papa yang dampingi Dendi sampai dia benar-benar siap pegang perusahaan sendirian,” terang Endra.


“Aku gak papa kok, Pa, aku kuat kok.”


“Besok kita tanya Dokter dulu, ya, sayang,” ujar Abi.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan sarapan pagi ini tanpa perdebatan lagi. 


__ADS_2