
Rapat yang berlangsung dari pagi tadi kini harus dihentikan dulu sebab sudah waktunya istirahat dan jam makan siang. Larisa bergegas turun menuju kantin memesan makanan di sana. Sambil menikmati makanan nya ia memesan taxi online untuk berangkat ke sekolah sang putri.
Makanan habis ia segera turun hingga di depan gedung, taxi pesanannya sudah menunggu. Mobil pun segera melaju sesuai alamat yang tertera di aplikasi. Namun, ditengah perjalanan taxi tersebut menepi.
“Kenapa, Pak?” tanya Larisa.
“Kayaknya ban mobil saya kempes deh, Buk. Saya cek dulu.” Sopir itu pun turun untuk memeriksa.
Larisa ikut turun dan ternyata benar, ban belakang bagian kiri mobi itu tertusuk paku.
“Maaf, ya, Buk. Sepertinya Ibuk harus pesan taxi lain saja,” kata supir itu.
Larisa hanya bisa membuang nafas. Padahal waktu rapat sebentar lagi akan di mulai.
“Gak papa, Pak.” Lalu wanita itu memberikan uang sesuai yang tertetra di ponselnya.
“Loh, kebanyakan ini, Buk. Padahal kita belum sampai tujuan.”
“Ambil aja, Pak. Buat tambal ban.”
“Makasih banyak, Buk.”
Larisa tersenyum lalu ia langkahkan kaki menuju halte yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari belakangnya.
“Kemana?” Pria itu bertanya dari balik kemudi, lewat jendela mobilnya.
Dalam hati Larisa kembali mengutuk kenapa dirinya kembali bertemu dengan pria itu lagi. Dengan berat hati ia menjawab, “Mau kesekolah putri saya.”
“Dimana? Biar saya antar,” kata Bayu.
“Sekolah Internasional K.”
__ADS_1
“Ayo, naik. Kebetulan aku juga mau kesana.”
Larisa menolak dengan gelengan kepala. Ponselnya pun berbunyi, tertera nama sang Mama di layarnya.
{Iya, Ma}
{Dimana, La? Ini rapat sudah dimulai loh.}
{Ini lagi di jalan, bentar lagi sampai}
{Cepat, ya}
Panggilan pun berakhir, Larisa sempat bingung antara menerima tawaran Bayu atau ia harus menunggu kendaraan lain.
“Ayo, masuk aja. Nanti telat, loh. Mau ikut rapat orang tua kan?”
Larisa sempat bertanya-tanya kenapa Bayu bisa tau soal rapat itu. Namun, pikirannya segera mengigatkan kalau ia harus segera ke sekolah Kyra.
Akhirnya Larisa menerima tumpangan itu meski sebenarnya ia merasa sangat risih dan tak nyaman. Selesai wanita itu memakai sabuk pengaman, Bayu pun menjalankan mobilnya.
“Putri kamu sekolah di sana?” Bayu membuka obrolan.
“Iya. Tau dari mana anak saya cewek,” ketus Larisa.
“Waktu kita ketemu di restoran, aku sempat lihat anak kamu. Dia cantik sama kayak Ibunya.”
“Iya lah, dia kan cewek pasti cantik. Gak mungkin ganteng kayak bapaknya.”
Bayu pun tertawa. “Kamu sekarang pintar ngelucu, ya.”
“Larisa sekarang bukan Larisa yang dulu kamu kenal."
__ADS_1
“Iya, sih. Kamu banyak berubah, waktu pertama kali kita ketemu aku sampai pangling dan gak bisa kenalin kamu.”
Larisa hanya memalingkan muka ke arah luar jendela sambil tersenyum sinis. Bayu yang sekarang masih sama dengan Bayu yang dulu.
“Kebetulan sekali, ya. Kalau tadi aku tau tujuan kita sama, kita bisa jalan bareng aja.”
“Jangan harap. Saya naik mobil kamu karena terpaksa.”
“Kamu kenapa sih, Sa? Bawaannya marah aja, jutek aja sama aku. Aku tau aku salah, tapi kan aku sudah minta maaf. Aku cuma mau memperbaiki hubungan kita, itu aja, kok,” terang Bayu.
Mantannya itu tak memberi tanggapan sama sekali.
“Aku beneran menyesal, Sa. Setelah anak aku lahir dan dia mengalami keterbelakangan mental, sejak itu aku sadar. Makanya pas kita ketemu, aku merasa ini kesempatan bagi aku untuk menebus kesalahan. Please, kasih aku kesempatan.” Bayu sampai memohon agar Larisa percaya padanya.
“Oke, saya sudah memaafkan kamu. Tapi gak semudah itu untuk saya bisa menerima kamu sebagai teman,” jelas Larisa.
“Aku ngerti, tapi setidaknya cobalah sedikit untuk bicara baik-baik. Biar aku gak merasa kalau kamu itu masih benci sama aku.”
Larisa menghirup nafas panjang lalu membuangnya. “Akan saya coba.”
“Terimakasih.”
Mobil sedan hitam yang mereka naiki pun sampai di parkiran gedung sekolah bertaraf Internasional.
“Kita pisah di sini. Anak aku masuk bagian SLB, gak seperti putri kamu.” jelas Bayu.
Larisa hanya mengangguk. “Terimakasih tumpangannya.”
“Sama-sama. Sesama rekan kerja harus saling membantu. Nanti kalau rapatnya selesai dan kita masih ketemu lagi, aku akan kenalkan kamu dengan putra ku.”
Sebenarnya Larisa ingin menolak, tapi tak enak rasanya. Ia hanya bisa memberikan senyuman palsu. Lalu keduanya menuju ruangan kelas yang berbeda.
__ADS_1