Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 131


__ADS_3

Endra sampai mengancam Luna dan membuatnya harus bersaksi di pengadilan untuk memberatkannya nanti. Lalu jika ia mendekam di penjara artinya ia akan berpisah dengan putra semata wayang. Meski ia bukanlah Ayah yang baik, tapi sebagai orang tua ia tak bisa berpisah dengan anaknya.


“Bay?” Luna mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Bayu.


“Bisa tolong sampaikan pada keluarganya Larisa kalau aku ingin bertemu dengan Larisa?” tanya Bayu.


“Kondisi Larisa belum pulih total, tapi nanti aku akan coba sampaikan.”


“Terimakasih. “ Bayu hanya bisa tertunduk pasrah.


“Sekali lagi maafin aku, Bay. Anggap saja ini hukuman atas perbuatan kamu selama ini.” Akhirnya Luna pergi dari sana meninggalkan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Dalam posisinya itu Bayu akhirnya menumpahkan air mata. Untuk pertama kalinya ia merasa putus asa. Hanya karena sebuah kecelakaan kecil yang tak disenga, dirinya kini harus menanggung akibat yang rasanya tak setimpal. Ia memang seorang bajingan, tapi apakah ia tak pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk berubah?


...🐷🐷🐷🐷...


Karena akan menghadiri persidangan, kepulangan mereka ke Bali pun ditunda. Meski Larisa terus mendesak, Abi tak mau merubah keputusannya.


“Aku mau ikut ke persidangan hari ini,” ujar Larisa.


“Gak usah! Kamu istirahat aja di rumah. Nanti pas sidang putusan baru kamu boleh ikut,” jawab Abi.


Wanita itu masih sabar dalam membujuk suaminya agar mau memaafkan Bayu. Namun, sepertinya Abi masih belum bisa terima. Ketika bayangan sang istri terjatuh dari atas tangga dan Bayu hanya diam tak bergerak untuk menolong sama sekali kembali terlintas dalam benaknya, ia kembali merasakan gemuruh di dalam dada. Seakan-akan ingin menghabisi Bayu dan mengambil nyawanya.

__ADS_1


Namun, akal sehatnya masih berjalan. Hal itu lah yang membuat Abi memilih untuk membuat Bayu membusuk di penjara sebagai bentuk pelampiasan rasa marah dan sakit hatinya atau mungkin bisa dibilang rasa dendam yang sudah bersarang di hati. Mungkin inilah sisi dari Abi yang belum diketahui oleh Larisa. Jika ia sudah terluka oleh seseorang maka tak akan ada ampun darinya.


...🐨🐨🐨🐨...


“Kapan acara serah terima jabatan dilakukan, Pa?” tanya Larisa.


Mereka sekeluarga tengah menikmati hidangan makan malam.


“Tunggu persidangan selesai dulu,” jawab Endra.


“Kapan sidang putusan digelar, Kak?”


“Minggu depan,” jawab Abi.


Abi terpaksa menyetujui keinginan istrinya.


Ketika malam sudah mulai larut mereka memilih masuk kedalam kamar.


“Gimana tangan kamu, masih sakit?” Abi bertanya pada istrinya.


“Gak,” jawab Larisa.


“Setelah sidang putusan dan acar di kantor Papa selesai kita pulang ke Bali.”

__ADS_1


“Terserah, Kakak, toh aku bicara juga gak di dengarkan.”


“La.” Abi mendekati istrinya yang sedang duduk di atas kasur.


“Aku mau tidur.” Larisa memilih membaringkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut. Sudah malas rasanya bicara dengan Abi karena ujung-ujungnya mereka akan bertengkar.


Abi cuma bisa menghembuskan nafas panjang menatap punggung sang istri. Belakangan mereka memang lebih sering adu mulut. Ia seakan rindu dengan sang istri yang lembut dan manja. Masalah Bayu sepertinya membuat hubungan mereka memburuk. Mungkin jika persidangan selesai dan kembali ke Bali hubungan mereka pastinya akan kembali harmonis.


Hari sidang putusan pun tiba. Larisa dan Abi sudah siap untuk berangkat ke pengadilan.


“Kyra tinggal di rumah aja sama Oma dan Opa, ya,” kata Laris pada putrinya.


“Oke, tapi nanti jadi ya, kita bakalan jalan-jalan ke mall?” ujar Kyra.


“Jadi, dong,” jawab Abi.


“Kalau begitu kami berangkat dulu, Ma, Pa.” Larisa berpamitan pada kedua orang tuanya.


“Semoga hasil putusannya sesuai dengan harapan kita,” kata Endra.


Larisa tak menjawab, ia memilih diam karena baginya apa yang mereka tuntut pada Bayu sangatlah tidak adil. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan suaminya.


“Aamiin. Saya yakin kalau Bayu akan dihukum seberat-beratnya,” jawab Abi.

__ADS_1


__ADS_2