Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 90


__ADS_3

Abi beralih duduk dari karpet bulu ke samping istrinya. “Mikirin apa lagi? Masih ragu buat ke Jakarta?”


Larisa hanya tersenyum simpul lalu menarik nafas dalam. “Entah kenapa hati aku berat banget untuk ninggalin pulau dan villa ini.”


“Tiap akhir bulan kita bisa pulang ke sini.” Abi berkata sambil merangkul bahu Larisa.


Wanita itu membuang nafas kasar. “Oke, besok aku akan kabari Mama dan Papa kalau kita akan ke Jakarta.”


Abi tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Jangan ragu-ragu, kamu harus yakin dalam melangkah. Kalau ragu, nanti apa yang akan kamu lakukan hasilnya malah jadi gak bagus.”


“Iya, aku yakin mau coba dulu mengurus bisnis Papa di Jakarta.”


“Pilihan yang bagus. Meski nanti kedepannya kamu belum yakin, gapapa yang penting kamu mau memulai.” Abi pun memeluk Larisa.


“Kita pindah ke tempat Opa, Oma, ya, Pa?” Kyra tiba-tiba menghampiri mereka.

__ADS_1


Abi dan Larisa pun mengurai pelukan mereka dan membawa sang anak untuk duduk bersama di tengah-tengah. “Kita bakalan tinggal di rumah Opa sama Oma selama beberapa bulan kedepan,” jelas Abi.


“Terus rumah kita ini gimana? Aku gak mau rumah kita ditinggalin gitu aja.”


“Kita bakalan pulang kesini tiap bulannya, sayang. Villa ini ada Mami Nia sama Papi Boni yang akan jagain.” Giliran Larisa yang memberi penjelasan pada putrinya.


“Terus Mochi gimana?”


Abi dan Larisa pun saling tatap. “Mochinya tentu kita bawa,” jawab Abi.


“Papa, serius?”


“Hore … Mochi ikut aku ke Jakarta. Kita bakalan tinggal di rumahnya Oma sama Opa Mochi.” Kyra tampak senang ia sampai memeluk anak kucing menggemaskan itu saking sayangnya dan ia tak mau berpisah dengan teman bermainnya.


“Besok Kakak akan meeting dulu dengan staf Rumah Sakit. Mungkin Boni yang akan menggantikan posisi Kakak sekarang selama kita di Jakarta,” ungkap Abi pada istrinya.

__ADS_1


“Aku setuju. Kakak selesaikan dulu masalah di Rumah Sakit, biar aku yang urus kepindahan kita.”


Abi melabuhkan satu kecupan di kepala istrinya. “Kita temanin Kyra tidur, yuk.”


Mereka bertiga segera membereskan ruang tengah setelahnya mengajak sang putri untuk segera tidur.


...🐷🐷🐷🐷...


Larisa sudah menerangkan soal keputusannya pada Endra dan Davira. Meski ia belum bisa memastikan apakah akan menetap di Jakarta untuk selamanya atau hanya untuk sementara, tapi hal itu sudah membuat kedua orang tuanya merasa lega. Setidaknya sang putri sudah berubah pikiran.


Mereka pun memberikan waktu pada Abi untuk menyelesaikan masalahnya di RSJ sebelum ke Jakarta. Kedua orang tua itu siap menyambut kedatangan anak menantu serta cucunya kapan saja. Pastinya mereka segera menyiapkan kamar untuk Abi dan Larisa serta Kyra sang cucu tersayang.


Ningsih pun ikut senang mendengar kabar kalau Abi dan menantu akan ke Jakarta. Artinya sang putra bisa menggantikan posisinya di RSJ milik keluarga. 


...🐸🐸🐸🐸...

__ADS_1


Seminggu sudah berlalu, urusan Abi yang akan meninggalkan jabatannya di RSJ sudah beres. Hal yang dulu menjadi tugasnya kini dialihkan pada sang sahabat-- Boni. Keluarga kecil Abi akan berangkat ke Jakarta dua hari lagi. Hari ini adalah hari terakhir Dokter jiwa itu bertugas di RS. Besok ia dan Larisa akan jalan-jalan mengelilingi pulau Bali sebelum pindah.


Larisa sendiri tengah memasukkan pakaian mereka ke dalam beberapa koper. Tak semua pakaian yang ada di lemari di bawanya. Hanya beberapa pakaian yang sering digunakan serta beberapa setelan yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu.


__ADS_2