
"Maksud gue juga gitu. Makanya gue gak mau buru-buru ambil keputusan. Jujur kadang gue masih suka merasa takut kalau pergi sendirian, apalagi jauh dari Kak Abi,” kata Larisa.
Kania mencibir. “Bucin lo.”
“Bukan, bukan itu! Maksud gue, kayaknya gue sulit untuk bisa percaya sama orang baru. Gue takut aja nanti dikhianati lagi kayak teman-teman di kampus dulu. Mereka tau soal Bayu yang manfaatin gue, mereka juga tau bagaimana Bayu yang sebenarnya. Tapi kenapa mereka gak pernah bilang atau ingetin gue. Mereka tuh kayak mendukung apa yang dilakukan Bayu, seolah-olah gue ini orang yang bodoh. Bahkan mereka juga ikut memanfaatkan gue lewat bayu.”
Kania mengelus punggung sahabatnya itu. “Jadikan hal itu pelajaran, Sa. Gak semua orang itu jahat kok. Mungkin saat itu emang lo nya aja yang sial. Ketemu sama orang-orang yang gak baik. Tetapi jadi diri lo sendiri, Larisa yang selalu baik sama semua orang, tapi jangan berpikir kalau semua orang itu punya maksud yang baik sama kita. Intinya hati-hati aja.”
Larisa mengangguk.
“Jangan sampai lo berubah. Gak mau membantu lagi, selalu berprasangka buruk sama setiap orang, gak mau berteman. Itu gak boleh, ya, Sa.”
“Iya. Makasih, ya. Lo mau dengerin curhatan gue.”
“Gue senang sekarang bisa ada di samping lo.”
“Sudah sore, kita balik, yuk.”
“Yuk!”
...🐮🐮🐮🐮...
Dua insan yang tengah di mabuk cinta itu menikmati hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan. Dari pagi hingga siang mereka akan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sesekali akan menanyakan kabar lewat telepon untuk melepas rasa rindu. Namanya juga orang yang sedang kasmaran, kalau bisa sih pengennya selalu dekat.
Malam harinya adalah waktu untuk mereka sharing tentang satu sama lain. Ada saja hal-hal yang jadi bahan pembahasan. Tak ada rasa bosan yang melanda sebab keduanya seakan saling menemukan hal baru dari pasangan. Itu yang membuat mereka semakin merindukan satu sama lain.
“Bik, tolong masakannya di masukin ke rantang, ya. Agak banyak aja, soalnya saya mau makan siang sama Kak Abi di klinik,” kata Larisa selesai memasak.
“Baik, Mbak.”
“Makasih, ya, Bik. Saya mau mandi dulu.”
Larisa hari ini ingin menemani sang pacar makan siang di klinik, sebab belakang Abi memang sangat sibuk karena membludaknya pasien yang datang. Akibat dirinya yang memperkenalkan Abi sebagai Dokter pribadinya di kanal youtube. Membuat suaminyanya itu pun terkenal di kalangan penontonnya yang kebanyakan juga para penderita gangguan jiwa.
Larisa berangkat tentunya diantar sopir pribadi. Sampai di sana ia melihat pasien-pasien sudah mulai sepi. Mungkin mereka pada cari makan siang juga karena sudah waktunya.
“Tunggu sebentar, ya, Mbak. Dokter Abi sedang ada tamu,” jelas satu suster.
“Siapa?” tanya Larisa.
__ADS_1
“Katanya sih teman satu kampus dulu.”
“Oh, sering ke sini?”
Suster itupun mengangguk. “Hampir tiap minggu.”
Larisa mengerutkan dahinya. “Ngapain?”
“Maaf, Mbak. Kalau soal itu kami gak tau.”
“Cowok atau cewek?”
“Cewek.”
Larisa mengangguk.”Makasih, Sus.”
“Iya, Mbak. Kalau gitu kami izin makan siang dulu, nanti kalau tamunya sudah keluar silahkan masuk saja.”
Gadis itu mengangguk. Ia menunggu di kursi tunggu. Hampir lima belas menit tamu itu tak kunjung keluar. Larisa mulai kesal, ia langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Loh, kok bukan sopir yang datang?” tanya Abi kaget.
Pria itu keluar dari meja kerjanya dan langsung menghampiri sang istri. “Kenalin ini teman Kakak satu kampus dulu.”
“Hai saya, Viona. Kalau gitu aku pulang, ya, Bi. Maaf loh udah ganggu waktu makan siangnya.”
“Oke, nanti kalau ada yang mau ditanyakan lagi, bisa datang kesini atau hubungi aja.”
“Oke. Makasih, ya. Saya pamit.”
Abi mengantar kepergian tamunya sampai depan pintu. Larisa pun langsung menghempaskan diri di sofa dan memasang wajah jutek.
“Kok gitu mungkanya?” tanya Abi mendekati sang istri.
“Itu orang gak tau apa, udah jam makan siang masih aja betah di sini berlama-lama. Apa perutnya gak lapar? Aku udah nungguin seperempat jam di luar tau gak.” Suara Larisa terdengar tinggi. Sampai membuat Abi kaget karena baru kali ini sang istri begitu marah.
“Dia itu teman Kakak, sayang. Lagi susun skripsi S3 nya. Jadi, ya, Kakak bantu sebisa mungkin.”
“Emangnya gak ada dokter lain yang bisa dia datangi?”
__ADS_1
“Kan gak kenal, La. Lagian kalau ke dokter lain, belum tentu mereka mau membagi pengalamannya secara cuma-cuma.”
Larisa mendengus kesal. “Ternyata, Kakak, orangnya baik sekali. Bahkan sampai rela menahan lapar buat bantuin dia.”
Abi meraih tangan istrinya dan langsung ditepis oleh Larisa. “Bukan gitu. Biasanya Pak Sopir sudah datang nganterin makan siang, tapi dia gak kunjung tiba, makanya Kakak bantu Viona sambil nunggu.”
“Alasan, Kakak, aja. Kalau orang perutnya sudah lapar pasti nelpon kenapa makanannya gak datang.”
Abi menghembuskan nafas panjang. Sepertinya sang istri mengalami yang namanya Pistanthrophobia atau rasa takut mempercayai orang lain. Yang disebabkan oleh hasil dari kekecewaan serius. Sepertinya Abi harus kembali bersabar.
Ia menangkup wajah wanita itu dan menatap dalam matanya. “Kamu percaya sama Kakak kan?”
“Gak tau.”
“Kenapa?”
“Aku gak suka, Kakak, dekat dengan orang lain apalagi wanita.”
“Alasannya? Kakak kan kerja, sayang. Jadi, Kakak gak bisa membatasi dong dengan siapa Kakak bertemu dan berinteraksi.”
“Ya, pokoknya aku gak suka! Kalau, Kakak, kerja dan berinteraksi secara profesional dengan wanita lain it’s oke, aku ngerti. Tapi kalau kayak tadi, aku gak bisa ngerti. Kalian berdua dalam satu ruangan dan kalian kayaknya begitu akrab. Bahkan saat aku datang wajahnya langsung berubah dan dia aja gak mau tanya nama aku.”
Abi langsung melahap bibir istrinya untuk meredakan emosi Larisa yang sedang meledak-ledak itu. Lalu ia akhiri dengan menempelkan kening mereka. “Hey, dengerin Kakak. Apa yang kamu takutkan itu gak akan terjadi. Kalau kamu gak bisa percaya sama orang lain, gak papa. Cukup percaya sama Kakak kalau hubungan kita gak akan ada yang bisa merusaknya.”
“Tapi-”
“Sssuuttt … kamu harus bisa mengendalikan rasa percaya itu lagi, Oke. Jangan sampai hal ini mempengaruhi kamu.”
“Maksud, Kakak?”
Abi membelai kepala istrinya. “Tanpa kamu sadari, kamu mengalami phobia akan kepercayaan pada seseorang. Kakak belum bisa pastikan separah apa, tapi nanti di rumah kita lakukan terapi biar gejalanya gak makin memburuk. Kamu bisa kan, kerjasama dengan Kakak, untuk menyembuhkan phobia itu?”
Akhirnya Larisa mulai tenang. Ia pun mencoba mengendalikan diri dan mereka pun menyantap makan siang bersama. Selesai makan Abi mengantar istrinya sampai ke parkiran, sebelum berpisah mereka berpelukan dulu.
“Pokoknya mulai sekarang, Kakak, harus jaga jarak sama cewek-cewek,” kata Larisa.
Abi hanya mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyuman. “Di rumah jangan mikir yang macam-macam. Ingat, kamu harus tetap berpikir positif agar phobia nya gak semakin parah. Tunggu Kakak di rumah.”
Wanita itu mengangguk setuju dan segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1