Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 127


__ADS_3

Tiba di rumah Larisa pun langsung istirahat di kamarnya. Ningsih serta Kyra menemani di sana sedangkan Abi tengah bicara bersama Endra dan Indah di ruang tamu.


“Papa sudah tau kejadiannya. Indah memberikan video CCTV kemarin,” jelas Endra.


“Lalu?” tanya Abi.


“Sesuai permintaan Pak Endra saya sudah menyewa satu pengacara untuk melaporkan Bayu pada pihak kepolisian,” jawab Indah.


Abi terdiam sejenak memikirkan penjelasan dari asisten istrinya itu.


“Akan lebih baik, Bapak, sebagai suami dan saksi yang melaporkan,” tambah Indah.


“Kapan saya bisa bikin laporan itu?” Ide yang bagus menurut Abi. Orang seperti Bayu memang harus diberikan hukuman.


“Kapan, Bapak, mau? Kita bisa ke kantor pengacara,” jawab Indah.


“Oke, besok kamu temani saya kesana.”


“Siap.”


Setelah itu Indah pamit kembali ke kantor. Abi pun memulai obrolan dengan Papa mertuanya. “Setelah Larisa sembuh, kami akan kembali ke Bali.”


Endra sedikit terkejut, tapi ia tak bisa menyangkal. Karena memang dulu sang putri sangat keberatan untuk kembali kesini. Kini ia tahu kalau hal seperti inilah yang menjadi alasannya. “Papa gak bisa melarang kalau itu sudah menjadi keputusan kamu.”


“Maaf, Pa. Saya hanya ingin menjaga keluarga saya.”


“Papa mengerti. Larisa memang pernah mengkhawatirkan sesuatu hal buruk akan terjadi dalam rumah tangga kalian. Kini Papa paham apa yang dirasakannya.”


“Terimakasih.”

__ADS_1


“Tapi setidaknya tunggulah Larisa sampai benar-benar sembuh. Setelah itu dia bisa berpamitan pada seluruh karyawan di kantor. Lalu kita lakukan serah terima jabatan pada Dendi.”


“Baik, kalau soal itu Larisa pasti setuju. Jadi, dia pun akan merasa tenang meninggalkan perusahaan pada orang yang tepat.”


“Nanti biar Papa yang bicarakan hal ini pada Mama Davira.”


“Aku juga akan bicarakan keputusan ini pada Mama Ningsih.”


Dari sana ia pun melangkah ke kamar. “Lagi ngomongin apa sih?” Abi pun duduk di samping Larisa. 


“Ini, Kyra lagi hibur Mamanya,” jawab Ningsih.


“Oh, ya?” Abi pun memeluk sang putri. “Emangnya kamu gak sedih kalau dedek bayinya gak jadi lahir?”


“Kata Oma, Papa sama Mama bisa bikin lagi,” jawa Kyra.


Tiba-tiba Davira masuk mengantar makan siang untuk putrinya.


“Mama, aku kan sudah bilang jangan bicara yang aneh-aneh sama Kyra,” ujar Larisa.


“Loh, memangnya Kyra ngomong apa sih? Mama baru datang langsung di marahin,” tanya Davira.


“Tau ah,” kesal Larisa.


“Sudah, gak usah di permasalahan,” kata Abi. “Ma, bisa kita bicara?” tanya pria itu pada Mamanya.


Ningsih mengangguk. “Sa, Mama kedepan dulu sama Abi, sekalian nanti Mama langsung pulang, ya.”


“Iya, Ma. Hati-hati di jalan,” jawab Larisa.

__ADS_1


“Insyaallah. Kyra, eyang pulang dulu. Jagain Mama dan jangan bikin Papa susah.”


“Baik, Eyang,” jawab Sang cucu.


Abi dan Ningsih pun sama-sama bangkit dari tepi kasur. “Ma, aku titip Larisa bentar,” ujar Abi pada mertuanya.


Davira mengangguk, ia pun akan menyuapi Larisa makan.


Dari kamar itu Abi dan Ningsih menuju taman di halaman depan. Di sana mereka duduk berdua di bangku yang terpisah oleh meja kecil di sampingnya.


“Ma, tadi aku sudah bicara dengan Papa Endra, kalau kami akan kembali ke Bali,” ucap Abi.


“Terus, bagaimana kata mertua kamu?” tanya Ningsih.


“Beliau setuju dengan keputusan kami. Bagaimana dengan, Mama?”


“Kalau Pak Endra setuju, Mama pun tak bisa memaksa kamu untuk tetap di sini. Toh kamu pastinya akan memilih kenyamanan Larisa.”


“Maaf, Ma. Tapi terimakasih sudah mengerti. Jika Larisa memang tak nyaman tinggal di sini, maka aku pun ikut merasa tak nyaman. Tapi Mama tenang saja, kapan pun Mama membutuhkan Aku, aku akan segera datang kesini.”


“Mama paham kok. Jadi, kamu tak perlu minta maaf segala.” Ibu dan anak itu berpelukan. “Benar kata Larisa, seharusnya Mama bangga punya anak seperti kamu.”


...----------------...


Dah , ya, lanjut besok lagi...


dadada...


jangan lupa like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ limanya.

__ADS_1


__ADS_2