
Dengan penuh rasa sabar Larisa berusaha menjelaskan hal ini pada putrinya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. “Kyra, sayang Mochi kan?”
“Iya.”
“Kalau Mochi sakit dan gak ada obatnya lagi, apa Kyra bisa melihatnya kesakitan terus?”
Kyra tampak berpikir. “Kayaknya gak, deh, Ma, kasian Mochi. Kalau dia sakit artinya dia gak bisa main dong.”
“Makanya Allah harus mengambil nyawanya Mochi biar dia gak merasakan sakit lagi.”
“Tapikan aku sedih, Ma. Aku jadi kesepian nantinya kalau gak ada dia.” Sambil menyeka air mata di pipi gadis itu menerangkan kegalauan hatinya.
Larisa memegang kedua pipi Kyra. “Dengerin, Mama. Jika kita menyayangi seseorang atau Kyra menyayangi Mochi, maka kita harus melakukan yang terbaik untuknya meski itu terasa sulit bahkan menyakitkan bagi kita.”
“Jadi, aku harus melepaskan Mochi meski aku sedih kehilangan dia?!”
Larisa mengangguk. “Karena bagi Allah itu adalah yang terbaik buat Mochi jadi, Kyra juga harus bisa merelakan kepergiannya. Karena itu adalah bentuk rasa sayang yang paling dalam. “
Gadis kecil itu menghembuskan nafas kasar sambil melorotkan bahunya.
__ADS_1
“Mama, tau kamu pasti sedih, belum bisa kehilangan Mochi. Gak papa, pelan-pelan kamu pasti bisa menerima kepergian Mochi. Sekarang kita bawa Mochi pulang dan kubur dia di halaman?”
Masih dengan wajah sembab dan sedih, Kyra pun setuju. Ia dan sang Mama mengambil jasad Mochi untuk dibawa pulang. Selama perjalanan Kyra memeluk tubuh kaku dan dingin kucingnya. Dengan deraian air mata untuk terakhir kalinya ia menghabiskan waktu bersama Mochi.
Tiba di villa Bibik membantu menggali tanah untuk liang lahat bagi Mochi. Setelah jasad kucing lucu itu di balut dengan kain putih, Larisa meletakkannya di dalam galian. Setelah itu Kyra menimbunnya dengan tanah sisa galian.
“Sini, Mama peluk.” Larisa membawa sang putri yang masih meneteskan air mata setelah menguburkan kucing kesayangannya.
...🐥🐥🐥🐥...
Saat Abi pulang dari klinik, Kyra sedang tidur lelap di temani Larisa di kamar mereka. Ia sempat heran kenapa tiba-tiba sang anak tak menyambut kepulangannya. Larisa pun menceritakan kejadian tadi siang padanya.
“Habis nguburin Mochi aku ajak mandi, terus dia cuma mau dipeluk. Dia gak ngomong apa-apa lagi, habis itu ketiduran deh.”
Abi mengelus kepala putrinya dan mendaratkan sebuah kecupan sayang di dahi Kyra, membuat gadis kecil itu terbangun.
“Papa,” ucapnya. Kyra langsung memeluk Abi dan kembali menumpahkan rasa sedihnya dalam dekapan sang Ayah.
Abi memeluk erat anaknya sebagai bentuk simpati atas duka yang dirasakan. “Anak Papa hebat. Ternyata anak Papa bisa kuat menemani Mochi saat dia hampir mati. Mochi pasti senang di saat-saat terakhir hidupnya kamu selalu ada di samping dia.”
__ADS_1
“Tapi aku masih sedih, aku gak bisa main lagi sama dia,” kata Kyra.
“Wajar kalau kamu sedih setelah Mochi pergi, itu artinya kamu sangat sayang sama dia. Tapi kamu gak boleh sedih berkepanjangan, nanti Mochinya gak bisa hidup tenang di surga loh.”
Kyra mengangkat kepalanya dari dada sang Papa.
“Kenapa gitu?”
“Soalnya kamu terus nangis disini, jadi dia ikutan sedih karena gak bisa nemenin kamu. Makanya Kyra harus bisa ikhlas menerima kepergian Mochi, biar dia juga senang lihat kamu gak sedih lagi.”
Degan jari-jari kecilnya Kyra mengusap air mata yang membasahi pipi. “Kyra gak akan nangsi lagi. Tapi kalau kangen Mochi gimana?”
“Kan bisa samperin makamnya, sayang,” terang Larisa.
Akhirnya gadis gecil itu merasa sedikit lega meski belum bisa menerima dengan sepenuh hati kalau teman bermainnya kini sudah tiada.
“Sekarang peluk sama Mama dulu, ya. Papa mau mandi habis itu ganti baju. Nanti kita duduk di sofa sambil nonton TV acara kesukaan kamu.” Abi berusaha membujuk anaknya.
“Iya.”
__ADS_1
Kyra pun berpindah dari pelukan Abi ke pelukan Larisa.