Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 138


__ADS_3

Larisa pun tertawa. “Makanya, nikah terus punya anak. Jangan anak aku yang di rebutin.”


“Yaelah, Sa. Pinjam anaknya semalam susah amat, sih?”


“Kyra-nya mau gak?” Larisa bertanya sambil melihat ke arah sang putri.


“Kyra mau, Ma,” jawab anak kecil itu.


“Yakin, nanti kamu gak nangis mau balik ke kamar Mama, Papa?”


“Gak,” jawab Kyra.


Para sepupu Larisa pun bersorak senang.


“Nanti kalau nangis, anter aja ke kamar Omanya. Mama sama Papanya mau pacaran,” timpal Abi.


“Siap,” jawab sepupu Larisa.


“Jangan sampai lecet anak aku,” kata Larisa.”


Mereka pun mengacungkan jempol dan membawa Kyra pergi dari sana. Tak lama Larisa dan Abi juga pamit pada yang lain, nan masih betah di restoran itu. Sepertinya pembahasan mereka sedang seru dan sayang jika diakhiri.


...🐦🐦🐦🐦...


Tiba di depan kamar mereka, Abi langsung mengangkat sang istri ala bridal dan membawa wanita itu masuk menuju pembaringan.


“Malam ini kita puas-puasin lagi, ya. Soalnya kalau nanti sudah di Bali, Kyra pasti suka ganggu,” ucap Abi.


“Hahaha … yang ganggu itu anak, Kakak,” balas Larisa.


“Iya sih. Sana, ganti baju sama yang kita beli tadi dan dandan yang cantik.” Abi melepaskan Larisa dari kurungan badannya.


“Kakak, gak mandi dulu?”


“Nanti aja, habis kamu.”


Larisa bergegas turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu giliran Abi yang membersihkan dirinya. Selama menunggu suaminya, Larisa mempersiapkan dirinya agar tampil mempesona lalu mengambil beberapa foto selfie.


“Kamu foto-foto pakai baju seksi gitu?” Tiba-tiba Abi keluar dari kamar mandi.


“Kenapa? Gak disebar juga kan, siapa tau Kakak butuh buat simpanan,” kekeh Larisa.


Abi mengambil alih ponselnya dari tangan sang istri lalu melihat hasil jepretan Larisa. “Bagus juga. Kakak simpan aja, deh.”


“Hapus aja, deh, Kak. Aku tadi cuma bercanda.”


“Gak, Kakak suka jadi disimpan aja. Jarang-jarang punya foto seksi kamu.”


Tak mau berlama-lama lagi, Abi melempar handuk yang melekat di pinggang lalu segera mendekap Larisa di tubuhnya. “Mau Kakak yang mulai atau kamu yang duluan?” Mereka saling menyatukan kening.


“Biar aku yang mulai duluan,” jawab Larisa.


Membuat Abi tersenyum puas. Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya jika sang istri berinisiatif untuk memanjakannya di ranjang. Kelincahan dan keagresifan Larisa mampu membuatnya melayang hingga langit ke tujuh. Jadilah malam ini pasangan itu melakukan hal yang halal bagi mereka berdua. 

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋...


Acara serah terima jabatan di perusahaan akan dimulai tepat jam sembilan pagi. Seluruh keluarga tampak sudah siap dan menunggu yang lainnya di restoran hotel. Ada yang sedang menikmati sarapan ada juga yang tampak sibuk berbicara dengan telepon genggamnya. 


Larisa dan Abi tiba disana, mereka disambut oleh sang putri yang sudah tamapak manis.


“Didandani siapa?” tanya Larisa.


“Kita dong,” jawab sepupu Larisa.


“Sudah bilang Makasih sama Tante, sayang?”


“Sudah dong, Ma.”


Abi menarik satu bangku untuk duduk istrinya setelahnya ia pun ikut duduk di samping Larisa. “Mau makan apa, sayang?”


“Aku mau makan yang berat aja, Kak. Lapar banget soalnya.” Larisa menjawab sambil memeluk sang putri.


Abi memesankan beberapa makanan pada pelayan untuknya dan Larisa.


“Kyra sudah makan?” tanya Abi.


“Udah, Pa. Tadi sama Oma,” jawab gadis kecil itu.


Tak lama Dendi pun tiba di sana menyapa seluruh keluarga sebelum nanti ia naik panggung dan menggantikan posisi Endra di sebuah perusahaan yang terbesar di negara ini.


Seluruh anggota keluarga pun bertepuk tangan menyambut kedatangannya. Mereka semua memberi selamat serta dukungan penuh, juga memberikan nasehat agar laki-laki itu mampu menjaga amanah.


Selesai sarapan, sebelum berangkat mereka semua pun berdoa bersama. Setelahnya barulah menuju gedung perusahaan. Tiba di sana mereka disambut oleh wartawan dan para awak media. Meski begitu Endra dan keluarga diberi jalan masuk untuk segera memulai acara.


Akhirnya perusahaan yang bergerak hampir di berbagai macam sektor itu resmi dipimpin oleh Dendi. Semua para kolega yang hadir bertepuk tangan dan saling mengucapkan selamat serta menyapa pemimpin muda yang nantinya akan bekerja sama dengan mereka semua.


“Terimakasih, ya, Den. Akhirnya kamu mau menggantikan posisi Om di sini,” kata Larisa.


“Harusnya aku yang mengucapkan terimakasih sama, Mbak, karena sudah percaya sama aku. Sekali lagi aku janji akan bikin perusahaan ini berkembang lebih besar lagi dan akan selalu menjaga pesan serta amanah dari, Mbak,” balas Dendi.


Larisa tersenyum tulus. “Sekarang Mbak bisa tenang meninggalkan kota ini karena ada kamu yang akan mengurus perusahaan. Mbak gak akan merasa terbebani.”


“Tapi kapan-kapan kalau aku butuh bantuan,bisa dong?”


“Insyaallah, kalau Mbak bisa bantu, pasti akan Mbak bantu. Sana kamu ikut Om Endra, temui rekan bisnis.”


“Iya, aku kesana dulu, ya, Mbak.”


Larisa mengangguk. Tak lama ia pun di hampiri oleh Luna. 


“Kamu datang juga?” tanya Larisa.


“Iya, soalnya Papa gak bisa hadir,” jawab Luna.


“Ah, Iya bagaimana keadaan Papa kamu?”


“Lumayan membaik, tapi beliau belum bisa beraktifitas seperti biasanya.”

__ADS_1


Larisa hanya mengangguk paham.


“Artinya kamu akan kembali ke Bali dong?”


“Iya, kami berangkat besok sore.”


“Semoga selamat sampai tujuan. Meskipun kita kenalnya hanya sebatas rekan kerja, tapi saya senang bisa kenal dengan kamu.”


“Sama-sama, walau kerja sama kita hanya dalam waktu singkat tapi sangat memberikan pengalaman baru buat aku.”


Luna tersenyum. “Kalau begitu aku pamit pulang, ya. Gak bisa lama-lama, aku harus jemput anak ku di tempatnya Bayu.”


“Oh, iya, sampaikan salam perpisahan buat Bayu, ya.”


“Pasti.”


...🦅🦅🦅🦅...


Selesai acara di perusahaan kemarin, pagi ini seluruh keluarga akhirnya berpisah. Mereka akan kembali menjalani kesibukan masing-masing. Barulah setelah semuanya pergi dengan mobil pribadinya, Endra, Davira, Larisa dan Abi serta sang putri kembali ke rumah. Sebelum keberangkatan anak dan menantunya ke Bandara, Ningsih pun menyempatkan hadir di Rumah Sakit. 


“Yea, yeaa … kita pulang ke Bali,” sorak Kyra.


“Seneng banget, emang gak senang tinggal disini?” tanya Davira.


“Senang sih, Oma, tapi Kyra lebih betah di Bali.”


“Sama kayak Mama,” sambut Larisa.


“Kakak juga sih, emang lebih enakan di Bali,” tambah Abi.


“Kalian pilih penerbangan jam berapa?” tanya Endra.


“Habis solat zuhur kita berangkat ke bandara. Kami pilih penerbangan jam tiga sore,” jawab Abi.


“Kalau gitu, ayo siap-siap sholat dzuhur, udah mau adzan.” Endra bangkit dari sofa menuju kamarnya. Begitu pula dengan yang lainnya.


Selesai sholat dzuhur Abi menurunkan satu koper besar dari kamar mereka. Hanya itu yang tersisa, selebihnya sudah dikirim sang istri melalui Ekspedisi.


“Udah semua?” tanya Endra.


“Udah, Pa,” jawab Larisa.


“Ayo  berangkat.”


“Mama kamu dimana, Bi?” tanya Davira.


“Mau jalan juga, Ma. Katanya kita ketemu di bandara,” jelas Abi.


Semuanya pun masuk  kedalam mobil Alphard berwarna hitam menuju bandara yang dikemudikan oleh supir pribadi. Selama perjalanan mereka masih ngobrol dan bercerita seperti biasa. Meski ada rasa sedih yang terselip di hati, tapi tak ada dari mereka yang mau mengungkapkannya.


...****************...


Jangan lupa like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ limanya.

__ADS_1


__ADS_2