
Malamnya mereka semua duduk di ruang tengah menemani Abi yang terus aja memandangi foto pernikahannya dengan Larisa.
“Bagaimana kalau besok, Kyra daftar sekolah?” kata Kania. Wanita itu sengaja mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan Abi dari fokusnya.
“Wwaah ide bagus itu,” seru Boni.
“Oma juga setuju,” tambah Davira.
“Gimana, Bi? Kamu setuju gak kalau besok Kyra daftar sekolah?” tanya Endra.
“Apa, Pa?” tanya Abi dengan wajah ling-lung.
“Besok Kyra mau daftar sekolah,” jelas Boni.
“Oh, gak papa. Bagus itu.”
“Harusnya lo yang pergi sama Kyra , cari sekolahan yang bagus buat dia.”
Abi menggeleng. “Terserah kalian saja mau daftarin Kyra sekolah di mana.”
“Gak bisa gitu dong, Bi.”
Namun Abi sepertinya tak bersemangat. Ia pun bangkit dari sofa. “Maaf semuanya saya duluan ke kamar.”
Viona yang melihat kepergian Abi pun ikut menyusul pria itu.
“Mau keman dia?” tanya Kania.
“Siapa?” tanya Boni.
“Viona. Sepertinya dia sengaja mengambil kesempatan untuk mendekti, Kak Abi.”
“Maksud kamu?" tanya Davira.
“Cerita lama. Tante sama Om gak tau kan, kalau Viona tuh suka sama Kak Abi. Bahkan dulu dia sempat ingin merebut Kak Abi dari Larisa.”
Cerita Kania membuat Endra dan Davira saling pandang. “Kalau dia memang bisa membuat Abi kembali seperti dulu, kami tak masalah,” kata Endra.
“Aku sih sebenarnya juga gak masalah, tapi ya, kita lihat saja nanti.”
“Kalau begitu kami izin ke kamar dulu,” pamit Endra diikuti istrinya.
“Oh, iya. Selamat malam kalau gitu, Om, Tante,” balas Boni.
“Sayang, Oma sama Opa tidur duluan, ya,” kata Davira.
“Iya, Oma.” Kyra memeluk Kakek dan Neneknya itu secara bergantian.
__ADS_1
“Sekarang juga waktunya Kyra bobok, yuk,” ajak Kania.
“Kita ke villanya, Mami lagi?”
“Iya, sayang. Gak papa kan?”
Gadis kecil itu tampak sedikit murung. “Sebenarnya aku mau tidur sama Papa.”
Membuat Kania dan Boni saling melempar pandangan.
“Tunggu disini, ya.” Akhirnya Boni menemui sahabatnya di dalam kamar, meski ada Viona di sana ia tak peduli.
...🐸🐸🐸🐸...
“Mau aku siapkan air hangat untuk kamu berendam?” Viona menawarkan sedikit bantuan.
“Gak usah. Saya cuma butuh istirahat.” Abi menjawab sambil merebahkan diri di atas kasur.
“Tunggu sebentar, biar aku rapikan bantalnya agar kamu dapat berbaring dengan nyaman.” Viona menyusun dua bantal sebagai sandaran oleh Abi.
“Terimakasih.”
“Sama-sama. Aku akan selalu ada buat kamu, Bi. Mau sesuatu mungkin, teh, kopi atau apa gitu?”
Abi menggeleng. “Bisa tinggalkan saya sendiri.”
“Bi, jangan begini terus. Cobalah untuk bicara sama aku kalau kamu butuh teman.”
“Bisa tinggalkan kami berdua? Ada hal yang mau saya bicarakan.”
Viona keluar dari sana berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki. Seakan ia menunjukkan kalau tak suka dengan kedatangan Boni.
“Bi?” Boni memanggil Abi yang tengah memejamkan mata.
“Hhhmm?”
“Kyra mau tidur sama lo.”
Abi mengangkat lengan yang ada di atas dahi. “Astaga, kenapa gue bisa sampai lupa sama Kyra.”
“Bi, lo harus ingat kalau di sini bukan hanya lo yang keilangan Larisa, tapi juga Kyra. Dia butuh lo, Bi.”
Abi mengusap kasar wajanya. “Makasih, ya, Bon, lo udah ingetin gue.”
Boni mengangguk. “Yuk, jemput Kyra di bawah. Jangan sampai dia merasa kehilangan lo. Itu akan jauh lebih menyakitkan buatnya, Bi. Lo ada tapi kayak gak ada, sedangkan Mamanya sudah jelas-jelas gak ada itu pasti bisa diterimanya.”
“Iya, sorry. Gue benar-benar gak bisa mikir sampai sana.”
__ADS_1
“Satu lagi, besok temani Kyra cari sekolah baru. Kalian berdua harus mencoba memulai lagi untuk bangkit. Jangan seperti ini terus, Bi.”
“Oke, Bon. Besok gue akan temani Kyra cari sekolahan.”
Boni melebarkan senyuman di wajah. “Nah gitu dong. Gue senang kalau lo mau mencoba gini.”
Dua laki-laki itu pun sama-sama menuruni anak tangga dan menghampiri Kyra yang bersama Kania di ruang tengah.
“Kalau kalian mau pulang ke sebelah, gak papa,” ujar Abi.
“Lo yakin?” tanya Boni.
“Yakin. Kyra, yuk bobok sama Papa!” Abi mengangkat sang putri kedalam gendongan.
“Yeah … akhirnya aku tidur sama Papa,” sorak gadis kecil itu.
“Dada Mami sama Papi dulu.”
“Da Mami, Papi.” Kira melambaikan tangan.
“Daa, sayang,” balas Kania dan Boni.
“Kita ketemu besok pagi, ya,” tambah Kania.
Kyra pun mengangguk.
...🐛🐛🐛🐛...
Sampai di kamar, Abi merebahkan sang putri di atas kasur, lalu ia pun ikut berbaring di samping Kyra dan menarik selimut untuk mereka berdua.
“Pa, jangan sedih lagi,ya,” ujar sang Anak.
“Papa butuh waktu, sayang. Gak mudah untuk melupakan Mama,” jawab Abi.
“Aku gak sedih lagi tapi aku juga gk lupa sama Mama.”
“Kenapa gitu?”
“Karena aku sayang sama Mama. Dulu Mama pernah bilang sama aku pas Moci meninggal, katanya kalau kita sayang sama seseorang, maka kita harus bisa melakukan yang terbaik untuknya meski itu terasa menyakitkan buat kita.”
Ucapan Kyra cukup membuat Abi terpana. Anak sekecil itu bisa mengerti akan makna dari kata-kata yang mungkin pas diutarakan untuk orang dewasa.
“Terus kan aku sempat gak terima kenapa Mochi gak bisa diselamatkan. Pastinya aku bakalan sedih karena gak ada teman, terus Mama bilang gini, karena bagi Allah itu adalah yang terbaik buat Mochi jadi, Kyra juga harus bisa merelakan kepergiannya, karena itu adalah bentuk rasa sayang yang paling dalam. “
Abi segera memeluk sang anak. Dilabuhkan beberapa kecupan di puncak kepala Kyra sebagai rasa syukur karena memiliki putri yang begitu tangguh dan pintar dalam menghadapi cobaan hidup. Sesuai dengan nama yang ia dan Larisa sematkan. “Maafin, Papa, ya, kalau belakangan Papa suka mengabaikan, Kyra.”
Gadis itu pun mengangguk. “Papa janji gak akan sedih lagi? Demi Mama supaya bahagia di surga.”
__ADS_1
“Insyaallah, sayang.” Abi menjawab dengan mata yang mengembun.
Malam yang kian larut mengantar kan anak dan Ayah itu tidur menuju kedamaian.