
Setelah kejadian Larisa jatuh di tangga kemarin, ternyata Bayu berhasil keluar dari gedung itu. Kini ia tengah bersembunyi di rumah orang tuanya. Ia tak berani menemui Luna karena pasti istrinya itu akan menyerahkannya ada pihak yang berwajib.
Dalam hati ingin sekali ia menemui Larisa, melihat keadaannya. Ia juga ingin tahu bagaimana kondisi wanita itu sekarang. Namun, rasa takut yang begitu besar membuatnya tak berani keluar dari sarang. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah dan ingin sekali meminta maaf, tapi bagaimana caranya?
Bayu sadar kalau dirinya hanyalah pria pengecut yang tak bertanggung jawab. Cuma bisa berbuat masalah lalu meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Kini Luna yang biasanya mau menolong pasti tak mau lagi membantunya. Lalu ia harus minta pertolongan pada siapa?
“Bay, di depan ada tamu,” kata Ibunya.
“Siapa, Buk?”
“Polisi.”
Mukanya langsung berubah pucat. Ingin hati berlari sekencang-kencangnya untuk kabur, tapi itu pasti tak mungkin. Bayu pun akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri. Tanpa perlawanan polisi membawanya ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
“Sumpah, Pak, saya gak ada niat untuk mencelakai Larisa,” tekan Bayu. “Semua terjadi begitu saja.”
“Kalau memang Anda tak sengaja, mengapa setelah kejadian Anda kabur?” tanya Polisi.
Bayu tertunduk. “Saya terlalu pengecut untuk menghadapi suaminya, Pak.”
“Baik, keterangan Anda kami terima. Untuk sementara Anda kami tahan di sel,” kata Polisi tersebut.
“Loh, kok saya di tahan sih, Pak?”
“Kami akan meminta kesaksian Ibu Larisa terlebih dahulu. Sambil menunggu, Anda akan berada di sel sampai keterangan di terima.”
__ADS_1
“Gak bisa gitu dong, Pak. Saya juga berhak memanggil kuasa hukum,” protes Bayu.
“Silahkan Anda hubungi pengacara kalau ada.”
Satu-satunya orang yang akan dihubungi pastilah Luna. Berkali-kali panggilannya itu tak di jawab oleh sang istri hingga yang terakhir kali Luna pun menjawab juga.
{Lun, ini aku Bayu}
{Sudah aku duga}
Jawab Luna dari seberang telpon.
{Tolong aku Lun, aku janji ini yang terakhir kalinya}
Terdengar helaan nafas panjang dari dalam telepon
Bayu merasa ada harapan
{Oke, aku tunggu}
Abi pun sudah dikabari oleh pengacaranya kalau Bayu sudah ditangkap. Kini dia sudah mendekam di dalam penjara karena melanggar surat perjanjian yang waktu itu di tanda tanganinya.
“Kapan proses persidangan?” tanya Bayu.
“Besok Polisi ingin meminta keterangan dari Ibu Larisa. Setelah itu bukti-bukti akan diserahkan ke pengadilan,” jelas si pengacara.
__ADS_1
“Saya gak mau tahu, bagaimanapun caranya dia harus mendekam di penjara.” Sepertinya Abi tak bisa lagi membedakan antara dendam dan rasa marah karena sakit hati. Ia seakan-akan begitu ingin membalas perbuatan Bayu, tapi ia tak mau mengotori tangannya sendiri.
“Tapi, Pak, kami khawatir kesaksian dari Ibu Larisa dapat meringankan tuntutannya.”
“Biar nanti saya bicarakan dengan istri.”
“Baik, kalau begitu besok pagi kita bertemu di kantor polis.”
Pengacara itu pun pamit dan segera pergi dari rumah Endra.
“Pokoknya dia harus dipenjara,” ujar Davira.
“Gak bisa, Ma. Semua tergantung keterangan dari Larisa,” kata Endra.
“Kalau begitu Larisa harus memberikan keterangan palsu yang dapat memberatkan Bayu. Kali ini Mama gak bisa terima begitu saja, untung Larisa selamat coba kalau gak. Kita akan kehilangan dua nyawa sekaligus. Kalau perlu kita tambahkan tuntutan pada laki-laki bajingan itu. Dia pernah menipu anak kita dan membuatnya sampai gila.” Davira sepertinya sudah berhasil dihasut oleh setan. Ia tak dapat lagi membendung kebencian pada laki-laki yang dulu hampir menikahi anaknya.
Endra dan Abi pun tampak ikut terbawa suasana hati wanita itu. Mereka seperti dikuasai oleh dendam. Yang ada di benaknya hanya cuma bagaimana membuat Bayu menderita karena sudah berani macam-macam dan mengganggu keluarga Endra Mahasura si pengusaha terkenal.
“Besok saya akan bicarakan lagi dengan pengacara,” kata Abi.
“Papa setuju itu. Selama ini kita cuma diam, membiarkan dia hidup tenang. Tapi sekarang dia malah kembali mengusik Larisa dan membuat kita kehilangan calon cucu. Kali ini gak akan ada kata maaf untuknya,” tambah Endra.
Dari ruang tamu mereka pun beranjak ke kamar masing-masing.
“Aku dengar pembicaraan Kakak dengan Mama dan Papa,” kata Larisa.
__ADS_1
“Lalu?” tanya Abi.
“Aku gak suka dengan apa yang akan kalian lakukan pada Bayu.”