Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 65


__ADS_3

Sopir pribadi yang biasa mengantarkan bekal untuk Abi pun sampai di klinik. 


“Kok dua, Pak?” tanya Abi.


“Satu lagi buat Pak Boni kata Mbak Larisa, Mas.”


“Ooh. Makasih, ya, Pak.” Abi langsung memeriksa ponselnya.


“Iya, Mas. Kalau gitu saya balik dulu.”


“Iya.”


Abi segera bangkit dari kursi dan menemui Boni di ruangannya. “Ada titipin nih buat lo.”


“Dari?”


“Dari Kania.”


Boni langsung mengalihkan pandangannya dari komputer.


“Silahkan lo cicipi dulu. Oh, ya gue udah krim nomor Kania ke HP lo.”


“Buat apa?”


“Silahkan kasih komentar ke orangnya langsung, pesan Larisa ke gue.”


“Hahaha bilang sama istri lo. Makasih banyak, tau aja dia.”


Abi hanya mendengus. “Gue balik ke ruangan.”


“Yoi, thanks bro.”


...🍆🍆🍆🍆...


Pulang dari klinik Abi singgah dulu di beberapa kedai makanan. Ia membelikan pesanan sang istri dan semuanya harus dipenuhi, kalau tidak yang ada Ibu hamil itu bisa ngambek seharian.


Di villa sendiri Larisa menunggu kepulangan Abi di depan teras. Ia sudah tak sabar atas pesanannya. Tak lama mobil sedan putih pun memasuki halaman membuat ia langsung berdiri dan menghampiri sang suami.


“Nih, pesanan Ibu hamil lengkap semua. Gak ada yang kurang.” Abi menyerahkan beberapa kantong plastik yang berisikan makanan, kue serta minuman segar pada istrinya.


Larisa tersenyum puas ia menggandeng tangan Abi dan mereka melangkah bersama masuk kedalam villa.


“Makasih, ya, Kak.”


“Iya, sayang. Yang penting kamu happy. Kok sepi? Mama sama Papa mana?”


“Ke Bandara jemput Mama Ningsih sekalian mereka mau belanja katanya.”


“Kamu gak ikut?”


“Males kalau gak ada, Kakak.”


“Mau jalan-jalan?”


Larisa mengangkat tangan Abi untuk melihat jam yang ada di pergelangan tangan suaminya. “Masih sempat gak?”


“Kita jalan-jalan di bawah aja gimana?”


Kepala Larisa mengangguk cepat. Mereka segera menuju lantai dua. Sambil menunggu suaminya mandi dan berpakaian Larisa duduk di depan TV menyantap makanan yang dibawakan Abi tadi.


...🥭🥭🥭🥭...


Pasutri itu menikmati waktu sore mereka dengan jalan-jalan di tepi pantai. Ibu hamil itu suka sekali menikmati halusnya pasir dengan kaki telanjangnya. Sesekali mereka menikmati ombak yang menghantam bibir pantai. 


“Aku jadi ingat waktu, Kakak, nembak aku,” kata Larisa.


“Kenapa?”


“Kan aku udah jadi istrinya, Kakak waktu itu. Kenapa pakai acara nembak segala?”


“Kan Kakak belum nyatain perasaan Kakak ke kamu. Masak tiba-tiba langsung bilang, eh kita pacaran yuk. Gak asik, lah.”


“Hahaha iya juga sih. Jatuhnya kayak anak SD, ya.”

__ADS_1


“Lagian Kakak mau kamu itu yakin dulu sama perasaan kamu, sekalian Kakak mau bikin kamu merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta lagi.”


Larisa pun memeluk suaminya itu. “Makasih, ya atas semua yang sudah, Kakak, lakuin buat aku.”


Abi melabuhkan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya. “Kakak gak bisa janji kalau kedepannya hidup kita bakalan bahagia terus, tapi Kakak akan terus berusaha semampunya.”


Larisa mengangguk di dada bidang itu. Puas bermain ombak dan jalan di atas pasir mereka kembali pulang ke villa.


...🍅🍅🍅🍅...


Sampai di villa ternyata Endra, Davira dan Ningsih pun sudah sampai.


“Ini apa?” tanya Larisa. Barang belanjaan orang tua mereka itu sangat banyak sampai memenuhi ruang tengah.


“Kita belanja beberapa keperluan bayi,” jelas Davira.


“Tapi, Ma. Ini masih lama loh, baru juga empat bulan,” kata Larisa.


“Gak papa, sayang. Kita beli juga gak seberapa, kok. Ini cuma sebagian kecil,” tambah Ningsih.


“Sebagian kecil, tapi ini udah bikin ruang tengah penuh, Ma,” sanggah Abi.


“Perlengkapan bayi itu banyak, Bi. Nanti kalian harus belanja lagi loh.”


“Terus mau di taruh di mana ini semua? Kamar bayinya juga belum ada.”


“Papa sudah minta Indah buat cari desain interior yang siap desain kamar Bayi di atas. Samping kamar kalian itu ada kamar kosongkan?” kata Endra.


“Iya, tapi kita pengennya nyiapin ini berdua, Pa,” sela Larisa.


Abi pun menahan tangan sang istri. “Gak, papa. Kalau nanti ada yang kurang biar aku sama Larisa yang belanja. Kalau gitu kami ke kamar dulu mau bersih-bersih sekalian ganti baju.”


“Oke, Kita tunggu di meja makan,” jawab Davira.


...🍈🍈🍈🍈...


“Kok, Kakak biarin para nenekdan kakek itu yang siapin semuanya sih? Ini kan bayi kita, anak pertama buat kita, pastinya kita juga antusias dong buat siapin keperluan nya.” Larisa sedikit kesal.


“Sayang, ini kan juga cucu pertama buat mereka. Pastinya mereka akan jauh lebih excited. Apalagi kita tinggalnya jauh dari mereka.”


“Tapi-.”


Larisa membuang nafas kasar akhirnya ia pun setuju dengan apa yang dikatakan Abi.


“Yuk. cuci kakinya dulu. Habis itu ganti bajunya dan kita makan malam. Pasti kamu sudah lapar lagi kan?”


“Iya, nih. Padahal tadi aku sudah makan semua jajanan yang, Kakak, beliin. Emang dasar Baby girlnya rakus,” kata Larisa sambil mengelus perut.


“Gapapa, artinya kalian berdua sehat.”


Pasutri itu membersihkan diri dan berganti pakaian setelahnya mereka pun turun menuju meja makan.


...🥝🥝🥝🥝...


Kania sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah di depan laptop. Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja berbunyi. Tampak nomor asing di layar membuat wanitu itu pun mengabaikan dering pertama. Dering kedua akhirnya ia angkat juga karena tak mau fokusnya nanti jadi terganggu.


📞Bisa keluar?


📞Siapa?


📞Ini saya Boni.


Kania bergegas berdiri dari duduknya ia pun mengintip lewat celah gorden jendela kontrakannya. “


📞Tau dari mana alamat saya?


📞Dari pihak hotel.


Gadis itu pun akhirnya memutus panggilan mereka dan segera keluar menghampiri Boni yang duduk di bagian depan mobilnya.


“Ada apa?” tanya Kania


“Saya kesini mau nganterin rantang ini.”

__ADS_1


Kania menerima rantang makanan itu.


“Kamu mau kawin?” tanya Boni.


“Hah? Maksudnya?”


“Masakan kamu asin banget.”


“Tapi tadi kata Larisa-.”


“Besok kirim lagi. Makanannya harus enak, kalau gak enak saya belum maafin kamu.”


“Tapi, Pak.”


“Jangan panggil Pak! Mas saja.”


Kania mengerutkan dahinya.


“Kenapa?”


“Iya deh, Mas. Tapi saya lagi sibuk ngerjain tugas kuliah sama kerjaan kantor.”


Boni hanya mengangkat bahu sambil berpangku tangan di dada.


“Please, kasih saya waktu.”


“Gini aja, besok pas weekend kamu temui saya di hotel.”


“Ngapain?”


“Kita mask di sana.”


“Tapi-.”


“Mau apa gak? Kalau gak mau saya akan laporkan ke atasan kamu.”


Kania melorotkan bahunya. “Oke, iya. Kamar berapa?”


“Saya sudah kirim ke HP kamu. Awas jangan sampai gak datang!”


Wanita itu cuma bisa mengangguk pasrah. Akhirnya Boni kembali masuk kedalam mobilnya dan segera pergi dari sana.


...🐨🐨🐨🐨...


Besok acara syukuran empat bulan kehamilan Larisa akan digelar. Jadi, kini Endra, Davira dan Ningsih sedang berada di pondok pesantren Abah. Mereka kesana ingin membantu persiapan terakhir serta mengenalkan Ningsih pada ustadz yang sudah membimbing anak serta menantunya untuk lebih dekat lagi pada Allah.


“Larisa gak ikut, Buk?” tanya Umi.


“Dia gak mau jalan kalau gak sama Abi,” jelas Davira.


“Manja sekali sejak hamil.”


“Begitulah, Umi. Apa-apa selalu sama Abi.”


“Namanya juga lagi hamil, Buk. Tiap Ibu hamil punya gayanya masing-masing.”


Mereka pun tertawa.


“Mungkin nanti pas Abi pulang kerja mereka nyusul,” ungkap Ningsih.


Obrolan mereka pun terus berlanjut. Banyak hal yang mereka bahas sekalian juga menanyakan hal-hal lain untuk menambah ilmu agama dan wawasan tentang pemahaman islam agar semakin luas. Hingga siang Larisa pun mengabari kalau mereka tak jadi menyusul karena ada hal yang harus dibahas dengan WO terkait pesta pernikahan.


Hingga sore mulai menampakkan wujudnya ketiga para orang tua itu segera berpamitan pada Abah dan Umi.


“Terimakasih banyak sudah membantu kami,” kata Endra.


“Kami sangat senang jika selalu direpotkan oleh keluarga Larisa dan Abi,” jawab Abah.


Mereka semua tertawa.


“Benar, Bah. Kami kalau kesini pasti selalu bikin repot,” ujar Davira.


“Hahaha gak papa, Buk. Justru artinya kami ini sudah dianggap keluarga oleh kalian,” jawab Umi.

__ADS_1


“Itu benar sekali,” tambah Endra. “Kalau begitu kami pulang.”


Abah dan Umi  meganguk. “Hati-hati di jalan.”


__ADS_2