
Hingga mobil yang dikendarai Abi tiba di depan Rumah Sakit khusu Ibu dan Anak. Ia pun bergegas turun meminta suster dan perawat memberikan kursi roda untuk istrinya.
Mereka menuju ruang pemeriksaan dan Dokter kandungan pun segera memerksa jalan pembukaan.
“Baru bukaan lima, kita dapat menunggu meski ketubannya sudah pecah, karena kondisi bayi masih baik-baik saja,” jelas Dokter itu.
“Baik, Dok,” jawab Abi.
“Suster akan memindahkan istri, Bapak, ke ruang inap, silahkan temani Ibu Larisa sampai pembukaannya lengkap.”
Abi mengangguk ia pun mendorong kursi roda nan diduduki istrinya menuju ruang inap yang sudah mereka pesan jauh hari. Kemudian ia menghubungi Endra dan Davira yang masih berada di acara resepsi pernikahan Kania dan Boni.
...🐽🐽🐽🐽...
“Mau minum?” Abi dengan setia mendampingi Larisa yang masih berjuang menunggu pembukaan jalan lahir untuk putri mereka.
“Aku lapar,” jelasnya.
“Mau makan apa?”
“Apa aja.”
Pria itu meminta suster menyiapkan makanan untuk istrinya.Tak lama Endra dan Davira beserta Boni juga Kania pun datang.
“Kami langsung buru-buru kesini,” jelas Davira.
“Acaranya sudah selesai?” tanya Larisa.
“Belum, sih, tapi kita tutup aja,” jelas Kania.
“Kenapa di tutup, orang gue aja belum lahiran.”
Kania berdecak sebal. “Kita khawatir sama lo tau. Makanya kita buru-buru datang.”
“Yaelah, guenya aja gak apa-apa. Yang namanya mau lahiran pasti sakit lah.”
“Kamu beneran gak papa?” tanya Endra.
Larisa mageleng meski sebenarnya ia merasakan sakit yang teramat kuat di bawah sana, terasa mulai ada yang mendorong bagian intimnya.
“Larisa kuat banget, Pa. Dia gak bilang sakit sama sekali dari tadi, malahan aku yang cemas dan khawatir lihatnya,” jelas Abi.
Suster pun tiba mengantarkan makanan untuk pasien itu. “Sebentar lagi kita cek pembukaan ya, Buk. Gak papa kalau mau makan dan minum dulu.”
“Iya, makasih, Sus,” jawab Abi.
Boni dan Kania pun duduk di sofa yang ada di sana.
“Kalian mau malam pertama disini?” tanya Abi.
__ADS_1
“Gak lah, kita mau nungguin Larisa lahiran,” jelas Boni.
“Udah pulang aja sana, besok kalau sudah lahir baru kesini.”
“Iya, sebaiknya kalian kembali ke Hotel,” tambah Endra.
“Justru, Om dan Tante yang seharusnya kembali ke Villa. Kalian aja belum sempat ganti baju. Biar saya dan Kania yang menemani mereka di sini, kalian pasti butuh istirahat,” terang Boni.
“Tante sama Om sudah capek seharian ini, gak mungkin kalau harus begadang,” tambah Kania.
“Benar kata mereka, Ma. Pulang aja, kayaknya baby girl belum mau keluar sekarang,” ujar Larisa.
“Yakin banget?” sela Abi. Sambil menyuapi istrinya itu makan
“Dia pasti lahir besok.” Larisa merasa yakin.
Endra dan Davira pun saling pandang. “Oke, kalau begitu kami pulang ke villa. Besok pagi-pagi sekali kami kesini, biar Boni sama Kania bisa pulang,” putus Endra.
Dua pasang pasutri itu setuju dan orang tua Larisa pun pulang untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah seharian.
“Kalian istirahat aja dulu. Gue sudah pesan satu lantai ini jadi, ada kamar buat keluarga yang mau nginap,” jelas Abi.
“Kalian bawa baju ganti?” tanya Larisa melihat Kania menenteng tas.
“Iya, dong. Pas Tante Davira bilang lo udah di RS, kita buru-buru naik ke hotel. Bersih-bersih, ganti baju dan cus berangkat kesini,” jelas Kania.
Larisa tersenyum lebar.
Abi menggeleng. “Selera makan gue hilang.”
“Makan dikit lah, gue pesanan makanan buat kita bertiga.”
“Oke, deh.”
Pas makanan datang Kania mendampingi Larisa yang tengah jalan-jalan di lorong kamar inap Rumah Sakit, selagi Abi menikmati makanannya bersama Boni. Dokter pun sudah memeriksa jalan lahir dan baru bukaan tujuh. Menunggu sedikit lagi mereka semua menanti dengan harap-harap cemas. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
“Hhhhuuufff …. hhhhuuuuufff … .” Larisa mengatur nafasnya ketika sakit itu kembali menyerang dan kali ini ia sudah tak kuat lagi.
“Kita balik ke kamar aja, yuk," ajak Kania.
Larisa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dibimbing Kania ia berjalan pelan memasuki kamar
“Panggilin Dokter, Larisa udah gak kuat,” ucap Kania pada Abi.
“Biar gue aja, lo temenin Larisa,” sela Boni segera bangkit dari sofa.
Akhirnya Larisa pun segera dipindahkan ke ruang persalinan karena pembukaan sudah lengkap. Abi menggenggam tangan istrinya yang mulai terasa dingin itu dengan erat, membisikkan kata-kata penuh dukungan dan semangat di telinga Larisa. Ia juga mengajak wanita itu untuk membaca ayat-ayat Alquran dan berzikir.
Sedangkan Kania dan Boni menunggu di depan ruangan persalinan. Keduanya juga ikut merasakan ketegangan yang dirasakan Abi. Sesekali dari mereka melirik perputaran waktu yang ada di pergelangan tangan.
__ADS_1
Hingga pukul tiga dini hari… Owek … Owek … Owek…
Bayi perempuan hasil dari kerja keras Abi dan Larisa akhirnya terlahir ke mungka bumi ini dalam keadaan sehat dan sempurna. Dokter pun langsung memotong ari-ari bayi tersebut dan memindahkannya menuju meja yang sudah di sepiapkan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
Pasangan itu melafalkan nama sang maha kuasa “Allaahu Akbar.”
Keduanya juga tak henti-henti mengucapkan syukur atas karunia yang sudah dipercayakan padanya. “Alhamdulillah.”
“Terimakasih, sayang, sudah berjuang melahirkan putri kita.” Abi mengecup kening sang istri dan keduanya pun larut dalam tangis haru kebahagiaan.
Bayi itu segera dibungkus dengan kain biar hangat dan Abi pun diminta untuk mengumandangkan Azan ditelinga putri kecilnya.
“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar … “
Setelahnya suster pun meletakkan bayi nan masih merah itu ke dalam inkubator dan memindahkannya ke kamar khusus bayi, sampai sang Ibu kembali ke ruang inapnya.
Pengantin baru yang sedang menunggu di luar pun ikut menghembuskan nafas panjang membuat dada yang tadinya terasa sesak kini menjadi lapang. “Alhamdulillah.” Keduanya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan seraya berdoa pada yang maha Esa.
Tak lama Abi pun keluar dari ruang persalinan, wajah pria itu tampak basah akibat air mata bahagia. Boni segera memeluknya dan mengucapkan selamat, begitu pula dengan Kania.
“Titip anak gue. Larisa masih ditangani Dokter dan gue harus kembali ke dalam,” kata Abi.
“Oke," jawab Boni.
Kania pun menyempatkan diri untuk mengintip putri dari sahabatnya itu. “Cantik banget, Mas,” serunya.
Boni mengangguk setuju. “Jadi pengen cepat-cepat bikinnya deh.” Pria itu masih saja sempat menggoda istrinya.
Wajah Kania jadi merona merah karena malu.
...----------------...
Hari ini aku bawa cerita lain dari teman sesama penulis.
Cus aku kasih sedikit kisahnya
...🍊...
Blurb
Kamu bisa meminta apapun, Termasuk uang adan harta kekayaan dariku. Tapi jangan pernah meminta aku mencintaimu.ucap Damian Perez setelah mengabil sesuatu yang paling berharga dari diri Ayeuna.
Ayeuna bertekad untuk pergi dari hidup Damian perez dan muoakan malam pertama yang terjadi di antara mereka.tetapi siapa sangka,takdir malah membuat mereka tetap terhubung.
Trik dan siasat dilakukan oleh Sania Wijaya, tunangan Damian perez dan juga mantan kekasih Damian sewaktu sekolah dan pernah berselingkuh dengan Leonardo kakak tiri Ayeuna.
Bagaimana jika tiba tiba Ayeuna tau kalau Leonardo ternyata mencintainya?
...🍊...
__ADS_1
Langsung ke novelnya ya biar gak bikin penasaran