
Abi pun akhirnya sampai villa. Larisa yang sedari tadi menunggunya dengan cemas bisa bernafas lega.
“Cantik banget,” puji Abi menghampiri istrinya di ruang tengah.
“Ih, Kakak, kok lama banget. Mama sama Papa udah di jalan loh,” kesal Larisa.
“Ayo, kita langsung jalan kalau gitu!”
“Kakak, gak ganti baju dulu?”
“Gak usah.”
“Ganti kemeja aja, ayo kita ke kamar.”
Sampai di kamar Larisa membantu Abi melepas kemejanya dan memberikan kemeja baru yang kemarin di belinya senada dengan gaun yang dipakai sekarang. “Sepatunya ganti sama sneakers,” ujar Larisa. Ia memberikan sepatu warna putih pada pria itu. Merasa penampilan Abi sudah oke mereka pun segera menuju mobil.
Selama perjalanan Abi selalu menggenggam erat tangan istrinya sesekali ia labuhkan sebuah kecupan di sana.
“Fokus aja nyetirnya, Kak. Nanti kita kenapa-kenapa loh,” kata Larisa.
“Kakak pengen mandangin kamu terus. Malam ini kamu cantik banget, siapa sih yang dandanin?”
“Orang salon langganan Kania, tadi diminta ke rumah buat make over aku.”
“Kakak harus ngucapin terimakasih sama Kania dan orang salon itu.”
“Kasih bonus aja.”
“Ide yang bagus.”
Tak lama mereka pun sampai di restoran ternyata Endra dan Davira sudah di sana.”
“Cantik sekali anak, Mama,” seru Davira.
“Makasih, Ma,” balas Larisa.
“Kenapa telat, Bi?” tanya Endra.
“Aku cari sesuatu dulu tadi, Pa.”
Tanpa berlama-lama lagi mereka langsung meminta pelayan untuk menghidangkan makan malam serta kue ulang tahun. Suasana gembira tergambar di sana, semuanya tampak begitu bahagia malam ini. Pastinya karena kesembuhan Larisa yang membuat mereka tak dapat berhenti mengembangkan senyuman.
“Tiup lilinnya,” kata Abi.
“Bikin permohonan dulu,” tambah Davira.
Larisa memejamkan matanya sambil mengucapkan permohonan di dalam hati. Entah apa yang dimintanya pada sang pencipta, yang pasti itu adalah harapan yang baik.
“Kadonya mau di kasih sekarang atau di rumah aja?” tanya Davira pada sang putri.
“Sekarang dong.”
Endra memberikan kado yang kemarin sempat mereka beli ketika keluar negri.
“Ini apa?” tanya Larisa.
__ADS_1
“Dibuka aja,” jawab sang Mama.
Gadis itu membuka kadonya dengan tergesa-gesa karena ia begitu penasaran akan isinya.
“Laptop?”
“Iya, kita gak tau mau beliin kamu apa. Kata Abi kamu lagi sibuk bikin video buat youtube dan butuh laptop baru,” jelas Endra.
“Makasi. Aku memang butuh banget, soalnya selama ini cuma pakai laptop Kak Abi kan,” balas Larisa.
“Syukur kalau kamu suka. Satu lagi di buka dong.” Davira menunjuk kado satunya lagi yang lebih kecil.
Larisa pun membukanya dan ternyata isinya itu sebuah kalung berlian.
“Dari Mama dan Papa. Itu kami pesan khusu jadi, cuma kamu yang punya satu-satu nya,” ungkap Endra.
Larisa memeluk kedua orang tuanya. Suasana haru sedikit menyelimuti mereka.
“Sekarang kado dari, Kak Abi.” Wanita itu menagih hadiah dari Dokter pribadinya.
Abi pun memberikan kado yang baru saja tadi sore di belinya.
“Maaf tadi Kakak bohong sama kamu. Bilangnya masih di klinik tapi, Kakak lagi cari kado buat kamu,” jelas Abi.
“It’s oke,” jawab Larisa sambil membuka kadonya. “Ponsel?”
Abi meganggukkan kepala.
“Ini beneran, Kakak kasih aku ponsel baru?” Ia tak menyangka pasalnya Abi memberikan ponsel pintar keluaran terbaru yang logonya buah apel itu.
“Makasi,” seru Larisa memeluk Abi.
Endra dan Davira pun tersenyum mekar melihat sang putri malam ini tampak begitu sangat-sangat bahagia sekali.
“Sama-sama. Habis ini Kakak mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“Kemana?”
“Ada deh. Mama sama Papa kasih izinkan buat saya ajak Larisa jalan?”
“Oh, tentu dong dengan senang hati. Kalian bebas mau kemana saja,” jawab Endra.
Mereka akhirnya menyantap hidangan penutup. Setelah itu Endra dan Davira pulang duluan ke villa bersama sopir pribadi yang tadi menjemput mereka ke bandara. Sedangkan anak dan menantunya mau jalan-jalan malam ini. Sepertinya Abi ingin memberikan sedikit kejutan buat putri mereka.
“Kita kemana, Kak?” tanya Larisa.
“Kita ke pantai,” jawab Abi.
“Ngapain? Ini udah malam, loh.”
Abi hanya tersenyum dan melajukan mobilnya lebih cepat ke tempat tujuan. Sampai di sana sebelum turun ia melepaskan sepatu terlebih dahulu.
“Kenapa lepas sepatu, Kak?”
“Buat sampai ke tempat spesial kita harus jalan dulu di pinggir pantai.”
__ADS_1
Larisa pun ikut melepaskan sandalnya. Mereka pun bergandengan menuju tepi pantai.
“Kamu masih ingat permintaan Kakak yang waktu itu gak?”
“Yang mana?”
“Minta kamu buat jadi pacar, Kakak.”
“Hhmm masih.”
“Terus apa kamu sudah punya jawabannya?”
Larisa hanya diam seribu bahasa. Ia terus melangkahkan kakinya yang telanjang di atas pasir kuning.
“Sebelum kamu jawab, Kakak mau ungkapin perasaan, Kakak dulu.”
Mereka sampai di suatu tempat yang sudah dipersiapkan oleh orang yang dibayar Abi dari beberapa hari kemarin. Mereka kini berdiri di tengah-tengah pohon kelapa. Atasnya ada beberapa lampu gantung untuk menerangi tempat itu karena langit begitu gelap. Pasir tempat mereka berpijak ditaburi kelopak bunga mawar merah. Seketika suasana malam yang kian mencekam berubah jadi romantis.
“Sejak, Kakak mengenal kamu gak tau kenapa, Kakak mulai jatuh hati. Kalau kamu tanya alasannya apa, Kakak gak tahu. Yang pasti rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Seiring waktu dia semakin bertambah, membuat, Kakak makin mencintai kamu. Apalagi sejak keadaan kamu membaik dan mulai sembuh, kita semakin dekat. Hari-hari Kakak terasa penuh warna, setiap hari rasanya cinta itu makin besar, hingga Kakak gak sanggup lagi buat menutupinya dari kamu. Sekarang, Kakak cuma mau bilang I LOVE YOU dan semoga kamu merasakan apa yang, Kakak rasakan.”
Abi mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku celananya. Ia membukanya dan menyodorkan pada Larisa. “Kalau kamu sudah tahu jawaban atas permintaan Kakak kemarin, pakai cincin ini. Kalau kamu masih belum bisa memberikan jawaban malam ini, silahkan di simpan.”
Larisa masih diam membisu di tempat ia berpijak. Jujur hatinya begitu berdebar, ombak di tepi pantai menggambarkan kondisi aliran darahnya saat ini. Jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya membuat darah mengalir lebih cepat dari kepala hingga ujung kaki.
“A-aku …”
Abi masih menantikan jawaban dari sang istri dengan hati yang tak menentu. Tapi ia berusaha tetap tenang.
“Aku mau,” jawab Larisa cepat.
Akhirnya Abi bisa tersenyum lebar sambil menghembuskan nafas panjang.
“Kakak pakaikan cincinnya boleh?”
Larisa mengangguk.
Abi melingkarkan cincin permata yang tadi di belinya di jari manis tangan kiri sang istri. Setelah itu ia mengangkat tinggi tubuh Larisa dan memutarnya. Mereka pun tertawa bersama.
“Love you, muach.” Abi mendaratkan kecupan di setiap wajah istrinya termasuk bibir yang selama ini ingin dikecupnya. Larisa pun menerima pangutan itu tanpa penolakan sedikitpun.
Karena Abi tak ingin membangkitkan keinginannya untuk lebih ia mengakhiri ciuman singkat itu. Mereka saling menempelkan dahi sambil menormalkan nafas yang memburu akibat detak jantung yang kian berdebar-debar.
“Makasih, ya,” kata Abi.
“Makasih juga karena, Kakak, sudah terima aku apa adanya.”
...----------------...
Udah ah, sampai di sini dulu...
Author mau cabut...
da da... 👋👋👋👋👋
Selanjutnya, selamat penasaran semuanya.... 😁😆
__ADS_1