Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 141


__ADS_3

Pemeriksaan pun selesai dilakukan. Hasilnya sangat baik, tak ada komplikasi atau infeksi. Yang artinya proses penyembuhan Larisa tak memakan waktu panjang. Kini Abi dan Kyra dengan senangnya menemani wanita itu di ruang inap. Mereka bercerita dan bercengkrama untuk mengobati rasa takut yang sempat hinggap.


“Mama, kok diam aja sih?” tanya Kyra.


“Mama gak bisa bicara banyak dulu, sayang, soalnya perut Mama lagi sakit,” jelas Abi.


“Oh, aku pikir, Mama kenapa.”


“Sudah sore, Kyra waktunya kita pulang,” ajak Davira.


“Yaahh … padahal aku masih mau di sini. Bobok sama Mama,” rajuk gadis kecil itu.


“Kamu gak bisa nginap di sini, sayang,” kata Abi. “Besok lagi aja kesini, ya.”


“Ya udah deh. Ma, aku pulang dulu, ya. Mama cepat sembuh biar besok kita bisa main.”


Larisa hanya mengangguk lemah dan tersenyum menatap putri kecilnya.


“Bi, Mama pulang dulu.  Papa akan di sini bantu kamu jagain Larisa,” ujar Davira.


“Gak perlu, Ma. Papa pulang aja sama Mama. Aku bisa kok jagain Larisa sendirian.”


“Tapi, Bi.”


“Ya udah Papa akan disini sampai nanti agak malaman, baru pulang. Sekarang kamu tidur dulu, mumpung Larisa juga mau istirahat,” sela Endra.


Abi setuju. Ia menemani Davira dan putrinya sampai parkiran barulah ia kembali ke ruang rawat sang istri. Dilihat Larisa sudah tertidur pulas ia pun memutuskan untuk istirahat di sofa. 


...🐸🐸🐸🐸...


Karena kurang tidur semalaman, Abi pun terbangun ketika hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tampak Papa mertuanya tengah menyuapi Larisa bubur yang disipkan oleh pihak Rumah Sakit.


“Maaf, Pa. Saya tidunya kebablasan,” pinta Abi.


“Gak papa. Kamu pasti capek banget karena kurang tidur. Habis ini Papa pulang dan kamu bisa jagain Larisa,” jawab Endra.


“Terima Kasih, Pa. Kalau gitu saya bersih-bersih dan ganti pakaian dulu.


“Iya, sana. Biar Papa urus putri Papa.” Endra pun tersenyum ke arah Larisa yang juga membalas senyumannya.


“Kakak, mandi bentar ya, sayang.” Abi berkata pada istrinya.


Larisa hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


Sebelum Endra pulang suster pun memeriksa kondisi Larisa. Mengganti cairan infus yang sudah habis, lalu memastikan pasien itu meminum obat anti nyeri. Larisa pun sudah bisa bernafas normal tanpa bantuan oksigen. Setelahnya mereka pun keluar dari sana.


“Besok pagi Dokter akan memeriksa kembali luka operasi Larisa,” jelas Endra pada menantunya.


Abi mengangguk.


“Kalau gitu Papa pulang, ya.”


“Iya, mari saya antar, Pa,” ajak Abi.


“Gak usah! Kamu disini saja temani Larisa. Kalian pasti ingin melepaskan rindu.”


Abi pun tersenyum dan menyalami tangan mertuanya itu. Endra pun membalas dengan sebuah tepukan di pundak menantunya.


“Titip putri Papa.”


“Siap.”


Kepergian Endra Abi duduk di dekat ranjang sang istri.


“Sini dong, dekat aku,” ajak Larisa dengan suara lemah.


Abi pun naik ke atas ranjang yang cuma muat untuk satu orang itu. Ia merebahkan badan di samping Larisa tapi menopang kepala dengan satu tangan, satunya lagi merangkul tubuh sang istri. “Pas kamu sembuh kita benar-benar akan pulang ke Bali. Kakak akan tanya dulu ke Dokter apakah kamu bisa melakukan penerbangan setelah keluar dari Rumah Sakit.”


Abi menghembuskan nafas panjang berkali-kali lalu membelai dan melabuhkan beberapa kecupan di waja istrinya. “Kakak takut banget saat itu. Kakak benar-benar cemas dan khawatir sama keadaan kamu.”


Larisa tersenyum lalu memegang satu pipi Abi. “Aku hanya ingin melindungi, Kakak, dari Bayu.”


“Maksud kamu?”


“Luna sempat hubungi aku dan bilang kalau Bayu ingin mencelakai Kakak. Saati itu juga aku berlari mencari, Kakak, di luar bandara. Aku gak nyangka kalau ternyata Bayu mau membunuh, Kakak.”


Sebenarnya Abi ingin marah dan rasanya ia mau membalaskan apa yang sudah dilakukan pria itu pada istrinya. Tetapi sekarang yang paling penting baginya adalah kesembuhan Larisa, soal Bayu biarlah pihak berwajib yang akan mengurusnya. Kali ini ia benar-benar tak mau lagi mengurus pria bajingan itu.


Mungkin ini juga dampak dari perbuatannya kemarin. Meski sudah membebaskan Bayu dan meminta maaf, tidak menutup kemungkinan kalau pria itu menyimpan dendam padanya. Dan kini Larisa lah yang menanggung akibatnya.  


“Maafin Kakak, ya. Kalau saja saat itu Kakak dengerin kata-kata kamu mungkin hal ini gak akan terjadi,” sesal Abi.


Larisa menggeleng. “Ini bukan salah, Kakak, juga bukan salah siapa-siapa. Ini memang sudah takdirnya saja.”


Abi tersenyum. “Yang penting sekarang kamu sudah sadar dan kondisi kamu juga semakin membaik.”


“Kak?”

__ADS_1


“Apa, sayang?”


“Cium aku!”


Abi menautkan bibir mereka menikmati cumbuat itu hingga beberapa menit lalu keduany saling menempelaka kening. “I love you,” ucap keduanya bersamaan.


Larisa pun tersenyum lalu membelai pipi Abi. “Love you to suami ku. Nanti setelah aku sembuh dan kita juga sudah di Bali aku mau segera hamil lagi.”


“Siap! Kakak akan bekerja keras.”


Larisa berusaha menahan tawa. “Tidur di sini sama aku, ya.”


Abi mengangguk setuju ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh dan merapatkan tubuh mereka berdua.


“Aku mau Kakak bacain sholawat biar aku bisa tidur dengan nyenyak,” pinta Larisa.


Direngkuhnya sang istri ke dalam dada, lalu bacaan sholawat pun mulai mengalun dari bibir Abi hingga tanpa sadar ia juga ikut terlelap bersama sang istri.


...🐤🐤🐤🐤...


 


Mereka tiba di vila yang sudah berapa bulan ini tak ditempati. Tempat yang selama ini menjadi saksi bisu atas perjalanan rumah tangga mereka menyelipkan rasa rindu didalam dada. Membuat Abi dan Larisa menjelajahi seluruh ruangan yang ada.


“Ternyata Kakak kangen banget sama vila ini,” kata Abi.


“Iya, aku rindu baget sama suasananya,” tambah Larisa.


Sang putri pun juga sudah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Abi dan Larisa mengikuti dari belakang. Sampai di sana Kyra menghempaskan diri di atas kasur. “Akhirnya aku bisa bobok lagi di sini.”


“Senang banget yang sudah sampai Bali,” kata Abi.


“Iya dong, Pa. Kyra itu kangen banget sama kamar ini. Meski di rumah Oma ada kamar juga, tapi aku lebih suka kamar ini.”


“Kalau gitu sekarang waktunya Kyra cuci muka, kaki dan tangan habis itu tidur. Soalnya pasti capekkan selama perjlanan,” ajak Larisa.


“Iya, aku bawaannya udah ngantuk aja.”


“Papa tunggu di sini.” Abi mendudukan diri di pinggir kasur.


Larisa mengajak Kyra masuk ke kamar mandi. Tak lama mereka pun kembali menyusul Abi yang sudah menunggu di atas kasur. “Mama sama Papa akan temani kamu di sini sampai tertidur.”


Sebelum memejamkan mata gadis kecil itu memberikan ciuman selamat malam pada dua orang tuanya. Abi pun mulai membacakan dongeng yang ada di rak buku putrinya sedangkan Larisa menepuk lembut punggung sang anak.

__ADS_1


__ADS_2