Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 142


__ADS_3

Memastikan Kyra sudah terlelap Larisa dan Abi pun secara bergantian memberikan kecupan pada sang putri. Setelahnya mereka turun dari ranjang dan keluar dari sana.


“Kita ke kamar?” Abi bertanya ketika sang istri menutup pintu.


Anggukan dari istrinya membuat Abi langsung mengangkat tubuh Larisa ke dalam gendongan. Sampai di kamar mereka, ia membaringkan Larisa di atas ranjang bersama dirinya yang ikut rebah di atas tubuh sang istri.


“Kak, sebelum tidur aku mau titip pesan dulu,” kata Larisa.


“Titip pesan?” Abi tak paham.


“Aku mau titip pesan buat Mama Ningsih, bilang sama dia kalau aku sudah menepati janji ku padanya. Aku juga mau titip Mama dan Papa, tolong jaga mereka, ya. Terakhir Kyra, Kakak, harus jadi Papa yang kuat dan mampu membuatnya hidup bahagia tanpa kekurangan kasih sayang.”


Abi tertawa. “Cuma mau tidur doang pakai titip pesan segala. Kayak mau pergi jauh aja.”


“Aku gak pergi jauh kok. Aku bakalan tetap disini.” Larisa menunjuk Dada dan kepala Abi. “Ada di hati dan juga di pikiran, Kakak.”


Abi membelai kepala istrinya. “Iya, deh. Kakak janji akan menyampaikan pesan kamu sama Mama Ningsih dan Kakak janji akan menjaga Mama dan Papa serta Kyra putri kita.”


Larisa tersenyum. Dikecupnya bibir Abi dengan sangat lembut lalu berkata, “Selamat malam suami ku. Terima Kasih atas segalanya, aku mencintaimu hingga akhir.”


...🐨🐨🐨🐨...


“Abi, Abi, bangun.” Suara seseorang yang terus saja memanggilnya membuat Abi merasa terusik dari tidur lelapnya. Dibuka mata tampak sang Mama berdiri di samping. “Ada apa, Ma?” tanyanya.


Ningsih yang sepertinya habis menangis tak mampu menjawab pertanyaan sang putra.


“Mama nangis? Kenapa?” Abi segera menapakkan kakinya  di lantai.


“Papa.” Kyra pun segera menghambur ke dalam pelukannya.


“Ada apa ini? Kemana Larisa?” Ia masih saja bingung tak mengerti dengan situasi yang telah terjadi. Apa lagi menyadari sang istri tak berada di sisi.


Tiba-tiba Dokter pun masuk. “Maaf sebelumnya, Pak. Kami sudah berusaha membangunkan Anda dari tadi, tapi seperti nya Anda tidur dengan begitu lelapnya. Hingga kami memindahkan Ibu Larisa, Anda tak tahu.”

__ADS_1


“Pindah? Memangnya Larisa di pindahkan kemana?”


“Tepat pukul Lima dini hari istri Anda mengembuskan nafas terakhirnya.” 


Penjelasan dari Dokter itu bagaikan sebuah pistol yang menembakkan puluru tajam tepat mengenai jantung hatinya. Seketika kakinya terasa lemas, Abi tak mampu berpijak dengan kokoh. Ia masih tak percaya, baru saja tadi rasanya memeluk tubuh hangat sang istri, seketika kini ia menerima kabar kalau Larisa sudah tiada.


Kepalanya menggeleng pelan, lalu Abi tertawa kecil. “Gak mungkin. Kami baru saja menemani Kyra tidur di kamarnya dan … dan Larisa mengecup lembut bibir ku. Bahkan rasanya masih tertinggal di sini.” Jari jemari Abi mencoba meraba bibirnya yang masih dapat merasakan lembut dan hangatnya pangutan sang istri.


“Abi, Larisa benar-benar sudah tiada,” jelas Ningsih.”


“Gak, Ma! Larisa baru saja menitipkan pesan buat, Mama, sama aku. Katanya dia sudah menepati janjinya sama, Mama.”


Ucapan sang putra membuat Ningsih tak dapat membendung lagi lelehan air mata. Ia langsung mendekap erat Abi.” Iya, Larisa memang sudah menepati janjinya sama, Mama. Dia rela mengorbankan nyawanya demi kamu. Dan sekarang Larisa sudah pergi meninggalkan kita semua.”


Endra dan Davira yang baru saja tiba di ruangan langsung memeluk Erat sang cucu.


Dengan deraian air mata di pipi Abi kemudian bangkit dari lantai. Menghampiri Dokter yang masih berdiri di sana. “Dokter bohong kan?! Istri saya masih hidup, ini cuma mimpi. Ma, Pa, ini cuma mimpi kok, Larisa masih hidup dan dia sudah menunggu kita di Bali. Percaya sama aku."


Endra tak bisa berkata apa-apa melihat menantu kesayangannya itu begitu terpukul. Hanya bisa memberikan sebuah pelukan untuk saling menguatkan. 


Davira pun menggeleng lalu membelai pipi menantunya sambil mendekap sang cucu. “Itu hanya mimpi, Abi. Larisa mengajak kamu berpisah dalam mimpi, agar kamu tak terlalu sakit jika melepasnya.”


“Sebelum jenazah Ibu Larisa kami kafani, silahkan keluarga melihatnya untuk yang terakhir kali,” kata Dokter. 


“Baik, Dok. Sebentar lagi kami akan menemui jenazah Larisa,” jawab Endra.


Dokter itu pun pergi meninggalkan keluarga yang tengah berduka cita.


Abi yang masih belum bisa menerima atas kepergian sang istri hanya menangisi di atas lantai keramik rumah sakit. Memeluk lututnya dan membenamkan wajah di sana.


Kyra pun terus aja menangis di pangkuan sang Oma. Gadis kecil itu juga ikut merasakan kehilangan seperti yang dirasakan sang Papa.


Satu jam berlalu, seorang suami yang baru saja di tinggalkan oleh istrinya itu mereda tangisannya. Ningsih pun mencoba mendekati sang anak. “Kita temui Larisa?”

__ADS_1


“Aku masih berharap ini cuma mimpi buruk, Ma.” Abi berkata dengan lelehan air mata di pipi.


“Gak, sayang. Ini nyata dan kamu harus bisa ikhlas melepas kepergian Larisa.”


“Tapi aku gak bisa, Ma. Baru saja kami tidur berdua dan hangat tubuhnya masih terasa di badan ini.”


Ningsih menggeleng dan mengusap pipi Abi yang basah. “Kamu harus kuat, Abi. Lihat Kyra, dia butuh kamu. Sekarang hapus air mata ini dan bawa dia untuk melihat Mamanya untuk yang terakhir kali.”


“Apa aku kuat, Ma?”


“Harus! Larisa pasti juga menitipkan pesan buat kamu kan?”


Abi mengangguk. Ia kembali teringat akan pesan terakhir istrinya dan air mata kembali jatuh berserakan.  Ia mencoba bangkit dari duduk dan menghampiri sang putri.


“Kyra,” sapa Abi dengan suara bergetar.


“Mama, Pa,” tangis Kyra.


Anak dan Ayah itu pun saling mendekap Erat menumpahkan rasa kehilangan mereka dan berusaha menguatkan hati yang hancur. Lalu Abi mengurai pelukan mengusap pipi putrinya lalu mengangkat Kyra ke dalam gendongan. “Kita Lihat Mama, ya?”


Kyra pun mengangguk meski sebenarnya ia tak sanggup.


Tiba di tempat jenazah Larisa diletakkan. Abi menatap kaku badan yang sudah di tutupi kain putih itu. Dengan langkah berat ia berusaha mendekati tubuh sang istri yang tak lagi bisa memeluk dan membelainya. 


Begitu pula Endra dan Davira juga Ningsih, mereka sama-sama tak mampu, tapi genggaman tangan satu sama lain seakan memberikan kekuatan untuk melihat anak atau menantu untuk yang terakhir kalinya.


Abi melabuhkan beberapa kecupan di wajah sang istri yang sudah terasa dingin. Terakhir ia memberikan kecupan lembut di bibir Larisa yang masih tampak sedikit bersemu merah. “Kamu pergi kenapa gak bilang-bilang Kakak sih, sayang? Kenapa harus berpisah di mimpi? Kenapa gak biarkan Kakak melepas kamu?”


Tak ada jawaban dari Larisa, hanya sedikit senyuman yang tampak tinggal di bibirnya. Seakan ia pergi membawa kedamaian serta cinta dari suami, anak dan keluarganya.


“Mama.” Suara sang putri membuat Abi tersadar dari tangisannya. Ia mengangkat sang anak untuk bisa dapat menjangkau wajah Ibunya.


“Kyra mau bilang apa sama, Mama?” tanya Davira.

__ADS_1


“Mama pasti sudah gak sakit lagi, ya? Kyra gak akan nangis lagi kalau Mama sudah ada di surganya Allah.”


Gadis kecil itu seakan memiliki kekuatan untuk bisa melepas kepergian sang Ibu. Ia bahkan tak lagi menumpahkan air mata seperti tadi. Terakhir Kyra memberikan kecupan hangat di pipi sang Mama lalu tersenyum lebar. “Kyra akan menjaga Papa, Oma, Opa dan Eyang. Mama bisa pergi dengan tenang.”


__ADS_2