
“Terimakasih, sudah menjaga nama baik saya di depan Abi. Artinya kamu memaafkan saya?” tanya Viona.
“Tentu. Jadi, setelah ini gak ada alasan lagi, Mbak, untuk mendekati suami saya?" balas Larisa.
“Oh, itu pasti. Saya gak akan menemui atau menghubungi Abi lagi kalau kamu merasa gak nyaman dengan hal itu.”
Larisa mengangguk sambil tersenyum simpul.
“Baiklah kalau begitu saya pamit pulang. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya,” izin Viona.
“Tidak sama sekali. Jika nanti pernikahan resmi kami di gelar datanglah.”
“Pasti. Saya tunggu undangannya. Permisi.”
Viona pun turun dari lantai dua sampai di bawah Abi pun mengantarnya ke halaman tempat mobil wanita itu terparkir. Hanya lambaian tangan yang mengiringi kepergiannya tak ada ucapan selamat tingga atau pesan agar berhati-hati dari Abi. Sungguh Viona tak sanggup lagi menahan sesak di dada. Ia pun menumpahkan kepedihannya di dalam mobil selama di perjalanan.
...🏈🏈🏈🏈...
“Ngapain Viona minta maaf segala, sih?” tanya Abi pada istrinya.
“Adalah, urusan wanita.” Larisa menjawab dengan tatapan fokus ke layar TV.
“Jangan bilang kalian berantem?!”
“Apaan sih, Kak. Ya, gak lah. Kami itu menyelesaikan masalah dengan cara yang elegan, bukan seperti wanita lain yang langsung main serang.”
“Masalah apa?”
“Kakak, kepo deh.”
“Yang,” rengek Abi.
“Apa?”
“Kamu gak mau cerita sama, Kakak?”
“Bukan gak mau. Masalahnya juga sudah selesai kan. Jadi, gak penting lagi.”
“Ya, udah deh. Kamu mau makan malam apa?”
“Apa aja. Aku gak milih-milih malahan perut aku lapar mulu. Cuma ya itu, tiap pagi pasti muntah dan semua makanan yang udah aku makan keluar habis.”
“Kasian sekali istriku ini. Maaf, ya.” Abi pun menunduk dan mencium perut Larisa. “Nak, jangan bikin, Mama muntah-muntah lagi, ya. Kasian , Mamanya sampai lemas, loh,” bisik Abi di sana.
“Dia belum ngerti, Kak.”
“Justru dari sekarang kita harus mengajaknya berkomunikasi, sayang. Untuk membangun ikatan kita sama dia.”
“Iya deh. Aku lupa kalau suami ku ini dokter.”
“Bukan dokter lagi, tapi Doktor,” tekan Abi.
“Iya-iya, Pak Doktor.”
Abi pun mencubit gemas hidung istrinya.
“Kakak, mau anak cewek atau cowok?” tanya Larisa.
“Apa aja, yang penting sehat dan sempurna.”
__ADS_1
“Kalau aku pengennya cowok.”
“Kenapa?”
“Agar kelak dia bisa menjadi laki-laki sebaik dan sesempurna seperti kamu, Kak. Maka aku akan menjadi Ibu yang sangat beruntung di muka bumi ini, seperti Mama Ningsih.”
“Kalau cewek?”
“Aku juga berharap dia bisa memiliki kebaikan kamu.”
“Kamu juga baik, sayang.”
Larisa menggeleng lalu dibelainya pipi sang suami. “Aku baik dan sempurna karena berada di sisi, Kakak. Tapi kalau, Kakak, tanpa aku pun akan tetap baik dan sempurna.”
“Jangan ngomong gitu. Tanpa kamu hidup Kakak gak akan ada artinya.” Abi pun memeluk istrinya.
“Iya, deh. Aku lapar,” kata Larisa di dada bidang Abi.
“Tunggu, ya, Kakak ambil makanan di bawah.”
“Iya.”
...🏉🏉🏉🏉...
Hari-hari di lalui Abi dengan penuh semangat. Meski kadang ia merasakan lelah yang teramat sangat, tapi pas pulang kerumah dan melihat sang istri semua rasa capek itu hilang entah kemana. Apalagi kandungan Larisa sudah memasuki bulan kedua, keadaannya juga lebih baik lagi.
Namun, Dokter kandungan tetap menyarankan ibu muda itu untuk tetap bedrest sampai trimester ketiga, akibat tekanan darahnya yang rendah. Membuat Larisa sering merasakan pusing.
“Hari ini Mama dan Papa datang, ya, Kak,” ujar Larisa pada suaminya.
“Iya. Kenapa? Kamu gak sabar, ya, kasih kabar ini ke mereka.”
Larisa mengangguk.
“Gak ada. Cepat pulang aja. Aku gak bisa jauh lama-lama dari, Kakak.”
Abi tersenyum lebar. “Manja banget sekarang.”
“Gara-gara anak kamu deh kayaknya.” Larisa menunjuk perutnya.
“Anak kita, sayang.”
“Iya.”
“Kakak, pergi, ya.” Abi mendaratkan sebuah kecupan di kening Larisa.
Siangnya Kania datang ke villa. Seperti biasa dia akan membawakan donat kesukaan sang sahanat sejak hamil.
“Lo masih muntah-muntah?” tanya Kania.
“Masih, tapi gak separah kemarin,” jawab Larisa sambil mengunyah donat.
“Tapi selera makan lo gak hilang, ya. Donat ini aja langsung ludes dalam sekejap.”
“Hahaha untung nya gitu. Jadi gue gak lemes-lemes amat.”
“Lo udah siapin kejutan buat orang tua lo nanti?”
Larisa mengangguk.
__ADS_1
“Terus gimana sama orang tuanya Kak Abi? Apa dia sudah tau kalau lo lagi hamil cucunya?”
Ibu muda itu menghembuskan nafas panjang. “Gue gak tau. Setiap gue tanya sama Kak Abi jawabnya selalu itu jadi urusan dia.”
“Apa lo gak coba hubungi mertua lo itu secara pribadi?”
“Kak Abi gak mau ngasih nomor Mama nya ke gue. Lagian kayaknya komunikasi mereka gak lancar.”
“Maksud lo, mertua lo itu gak pernah jawab telepon dari anaknya.”
Kepala Larisa mengangguk. “Bahkan pesan-pesan yang dikirim Kak Abi gak pernah di bacanya.”
“Kenapa lo gak coba kirim surat aja.”
Larisa menjentikkan jari. “Ide yang bagus. Tapi sopan gak, ya?”
“Kalau lo kirim pakai lewat ekspedisi, tentunya kurang sopan. Titip aja sama orang tua lo. Jadi, mereka bisa menjelaskan kondisi lo sekarang ke mertua lo itu," saran Kania.
Larisa tersenyum lebar. “Makasih, ya sarannya. Lo emang sahabat gue yang paling pengertian.”
Kania hanya mencibir. “Apa perlu gue tulis sekalian suratnya?”
“Gak usah!”
Kania melihat jam di pergelangan tangannya. “Sa, gue gak bisa lama-lama. Gue pulang ya, mau ngerjain tugas kuliah.”
“Yaah, baru juga ngobrol.”
“Sorry, tapi kan udah gue bawain donat dua kotak.”
Larisa nyengir. “Thank you. Hati-hati di jalan.
“Ho-oh, Bay.”
“Bay.”
...🏓🏓🏓🏓...
Tepat pukul tujuh malam Endra dan Davira sampai di villa. Abi pun menyambut kedatangan mertuanya itu sendirian.
“Larisa mana?” tanya Davira.
“Ada di atas, mau ketemu Larisa dulu atau makan?” kata Abi.
“Ketemu Larisa dulu. Tumben itu anak di kamar,” jawab Davira.
Mereka bertiga menaiki tangga menuju ruang tengah. Sampai disana Larisa tampak sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
“Kok gak turun buat menyambut kedatangan kita sih, sayang?” tanya Davira menghampiri sang putri.
Larisa hanya tersenyum. “Aku lagi siapin kejutan buat, Mama, Papa.”
“Kejutan apa?”
“Papa duduk dulu dong. Masak berdiri aja.”
Endra akhirnya ikut duduk di sofa.
Di atas meja sudah ada kotak putih berpita ping yang di siapkan Larisa dan Abi dari kemarin.
__ADS_1