Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 123


__ADS_3

Saat rapat berlangsung di kantor Larisa, Bayu tak dapat melepaskan pandangannya dari sang mantan yang semakin hari semakin terlihat cantik. Ia begitu mengagumi Larisa yang sekarang, tampak begitu mempesona di matanya. Ia bahkan teringat akan janji wanita itu dulu ketika mereka bersama.


Kenapa ia begitu bodoh meninggalkan Larisa, bahkan dia sudah dijanjikan akan menjadi pemimpin di perusahaan sebesar ini. Sekarang apa? Ia hanya menjadi bawahan dari istrinya sendiri. Hingga terbersit niatan buruk di benaknya untuk merebut Larisa dari Abi. Namun, ia sadar kalau itu tak akan mudah jadi, biarlah seperti ini saja dulu. Tetap dekat dan dapat menatapnya itu sudah cukup.


“Ibuk Luna, bisa kita bicara sebentar?” tanya Larisa.


Luna mengangguk. Karena rapat sudah selesai ia mengikuti langkah Larisa menuju ruang kerjanya. Tiba di sana ia pun dipersilahkan untuk duduk.


“Kenapa Bayu masih datang menghadiri rapat?” Larisa langsung pada inti pembicaraan.


Luna pun merasa bersalah dan sedikit menundukkan kepala. “Maaf, saya tak bisa mengeluarkan dia dari perusahaan.”


Terdengar hembusan nafas panjang dari wanita yang duduk di hadapannya itu. “Aku sudah duga itu.”


“Sekali lagi maaf kan saya. Tapi saya mohon jangan putus kontrak kerjasama perusahaan kita. Kalau sampai itu terjadi, saya gak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa-bisa perusahaan Papa saya kembali menjadi perusahaan kecil.”


“Kenapa orang-orang begitu egois? Hanya memikirkan diri mereka sendiri.”


“Ya, saya tau kalau permintaan saya ini terdengar egois. Tapi saya akan berusaha memperingatkan Bayu untuk menjauhi kamu.”

__ADS_1


Larisa merasa tak yakin. “Sudahlah, kalaupun kamu melakukan hal itu saya juga tak yakin Bayu akan mendengarkan.”


Luna hanya terdiam.


“Terimakasih sudah mau bicara. Silahkan kamu kembali ke kantor.”


Luna bangkit dari sofa tak lupa berpamitan pada Larisa lalu keluar dari sana.


...🐦🐦🐦🐦...


Sampai di parkiran Luna masuk kedalam mobil di mana Bayu masih menunggunya.


“Dia marah karena kamu masih ikut datang ke kantornya. Please, Bay, jauhi Larisa! Dia sudah berkeluarga. Apapun usaha yang akan kamu lakukan, dia gak akan melihat kamu. Suaminya itu jauh lebih baik dari kamu.”


“Aku tau itu, tapi setidaknya jika aku masih bisa dekat dan melihatnya setiap saat itu sudah cukup. Perlahan-lahan aku akan merebut hatinya lagi.”


Luna menggeleng tak percaya. Suaminya itu benar-benar keras kepala.


“Terserah! Tapi kalau seandainya nanti terjadi sesuatu sama kamu karena mengganggu keluarga Pak Endra, aku gak akan membantu.” Luna memperingati pria yang sedang mengemudikan mobil itu.

__ADS_1


“Gak akan. Aku tidak akan melakukan kesalahan.”


Bayu sepertinya sangat percaya diri. Ia begitu menganggap enteng peringatan dari suami mantannya. Ia berpikir kalau Abi tak bisa berbuat apa-apa selagi ia tak membuat masalah.


...🦉🦉🦉🦉...


Pas pulang kerja pria itu kembali menunggu LArisa di depan kantornya. Abi yang melihat mobil Bayu terparkir di dekat perusahaan segera menghampri.


Tok … tok … kaca mobil di bagian kemudi diketuknya. Membuat Bayu terpaksa keluar dari dalam sana.


“Masih berani Anda kemari?” tanya Abi.


“Kenapa tidak. Selama saya tidak melakukan apa-apa Anda tidak bisa bertindak.” Ia sengaja menantang Abi.


“Kata siapa? Anda pikir saya cuma mampu mengancam tanpa melakukan apapun?”


“Silahkan! Apa yang bisa Anda lakukan pada saya?”


Abi menyeringai. “Tunggu saja! Anda sudah meminta pada saya dan jangan menyesalinya nanti." Ia pun segera pergi dari sana menjemput istrinya dari dalam gedung bertingkat.

__ADS_1


__ADS_2