
“Jadi, Mama, sudah tau kalau, Kak abi punya perasaan sama aku?” tanya Larisa.
“Dia mengatakannya, sebelum membawa kamu pindah ke sini," jelas Davira.
“Kenapa, Mama, gak bilang dari awal?”
“Itu bukan hak, Mama.”
Larisa tertunduk diam.
“Mama tinggal ke kamar dulu mau beres-beres pakaian. Mama yakin kalau putri Mama ini sudah sembuh dan kamu bisa kembali seperti Larisa yang dulu. Jangan sampai kamu kehilangan orang yang berharga hanya gara-gara rasa sakit di masa lalu.”
...🍎🍎🍎🍎...
Sorenya Endra dan davira pun pamit. Mereka akan kembali ke Jakarta.
“Kalian di rumah saja. Kali ini gak usah gantar,” kata Endra pada Abi.
“Baik, Pa. Maaf kalau kemarin sikap saya kurang mengenakkan.”
“Papa juga minta maaf dan Papa mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu.”
Setelahnya mereka berpelukan. Endra juga memeluk sang putri. Terakhir Davira. “Ingat selalu pesan Mama.”
“Baik, Ma,” jawab Larisa.
Mereka melepas kepergian dua orang itu hanya sampai halam rumah. Setelahnya kembali masuk. Sejak kemarin Abi lebih banyak mengurung diri di kamar. Ia sepertinya juga butuh waktu sendiri dan dimengerti.
“Kak,” panggil Larisa.
“Kakak sudah balas email dari Viona kemarin dan mengatakan kalau itu adalah bantuan terakhir. Jadi, mulai sekarang kami gak akan berhubungan lagi. Kalau kamu masih gak percaya silahkan lihat daftar blokir di hp ini.” Abi memberikan ponselnya pada sang istri.
Larisa menerimanya dan ternyata akibat dibanting kemarin, separo layar ponsel itu retak. “Maaf, kalau sikap aku kemarin malam berlebihan.”
“Kakak sudah memaafkan kamu. Setelah kamu pakai letakkan saja di kamar. Kakak mau istirahat dulu.” Abi melenggang dari ruang tengah menuju kamarnya.
...🥑🥑🥑🥑...
Malam hari Larisa sudah menyiapkan makan malam di meja, tapi Abi tak kunjung datang. Dari tadi siang sampai sekarang ia tak melihat sang kekasih keluar dari kamarnya. Larisa mulai khawatir.
“Bik, saya makan di kamar Kak Abi saja. Bibik gak papa kan makan sendirian?”
“Gak papa, Mbak. Mau Bibi bantuin bawa makanannya?”
“Gak usah. Aku bisa sendiri kok.”
Larisa membawa nampan berisi nasi dan air putih untuk dimakan Abi. “Kak?” panggilan nya di depan kamar Abi.
“Masuk,” jawab Abi.
Terdengar suara pria itu tak seperti biasanya. Larisa masuk meletakkan nampan di atas nakas dan ia pun duduk di tepi kasur. Abi masih betah saja di dalam selimut. “Makan dulu, yuk, Kak! Aku udah bawa makanan ke sini.”
“Tarok aja, nanti kalau lapar Kakak makan,” jawab Abi dengan suara serak.
Wanita itu mulai khawatir ia langsung meletakkan tangannya di atas dahi pria itu. “Kakak, demam? Kok gak kasih tau aku sih?”
“Gak papa cuma panas dikit. Besok juga enakan.”
Larisa segera berlari ke kamarnya untuk memesan obat demam lewat aplikasi online di ponsel. Setelah itu ia kembali ke kamar Abi. “Duduk dulu, yuk, Kak. Makan dikit.”
Abi berusaha duduk di atas kasur bersandarkan bantal yang disusun oleh istrinya.
__ADS_1
“Aku suapin, ya,” bujuk Larisa.
Abi mengangguk lemah.
Hanya separuh makanan yang berhasil masuk ke dalam perutnya, setelah itu Abi merasakan mual. “Udah, La.”
“Dikit lagi, ya. Kakak, dari siang belum makan loh.”
“Abi menggeleng. “Kakak, mual. Kalau di paksa takutnya nanti muntah.”
Tiba-tiba Bibi datang mengantarkan obat yang dipesan Larisa tadi.
“Minum obat dulu, biar panasnya turun.” Larisa memasukkan obat ke dalam mulut Abi dan membantunya minum.
“Makasih, La. Kamu bisa kembali ke kamar. Kakak, mau lanjut istirahat,” kata Abi membaringkan tubuhnya.
Ia keluar dari kamar itu kembali ke dapur untuk meletakkan piring kotor dan mengisi perutnya sebab ia belum sempat makan malam. Rencana ingin makan berdua, eh malah Abinya demam.
Selesai makan Larisa menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu ia kembali masuk ke kamar Abi, dilihatnya pria itu seperti menggigil karena kedinginan. Segera diambil selimut di kamarnya untuk menambah ketebalan selimut agar sang kekasih merasa hangat. AC di kamar itu pun di matikannya.
Panas Abi tak kunjung turun, Larisa memutuskan untuk mengompresnya. Ia duduk di samping Abi meletakkan kompres di dahi pria itu. Setiap beberapa menit diganti terus sampai ia yakin kalau suhu tubuh pria di sampingnya sudah turun. Matanya juga mulai terasa berat akhirnya ia memutuskan untuk tidur bersama sang pacar malam ini.
...🍓🍓🍓🍓...
“Apa? Sudah berangkat?” Larisa kaget saat menyadari Abi tak ada disampingnya ketika ia bangun tidur. Ia pun bergegas keluar dari kamar untuk mencarinya ternyata kata Bibi pria itu baru saja berangkat ke klinik setengah jam yang lalu.
“Kok aku gak di bagunin, ya?” gumam Larisa.
Wanita itu kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Abi. “Kok gak diangkat sih?”
Berkali-kali dihubungi tapi tetap tak dijawab, Larisa pun memutuskan untuk mencuci mungka terlebih dahulu. Setelah itu ia ke kamar Abi untuk membereskan tempat tidur yang masih berantakan.
“Ini kan ponselnya Kak Abi,” gumam Larisa. Sepertinya Abi sengaja meninggalkan ponselnya di villa. “Gak mungkin dia lupa bawa ponsel.”
📞Hallo, selamat pagi dengan Klinik Dokter Abista, ada yang bisa di bantu?
Jawab Resepsionis di seberang sana.
📞Saya Larisa, Bisa hubungkan dengan Dokter Abi?
📞Oh, Mbak Larisa. Baik ditunggu sebentar
Larisa menunggu hampir sekitar lima menit akhirnya Abi menjawab panggilannya.
📞Ada apa, La?
Tanya Abi
📞Kakak, lupa bawa ponsel?
📞Gak. Kakak sengaja ninggalin supaya kamu gak curiga
📞Maksud, Kakak?
📞Kakak gak mau kamu nanti terus berpikir kalau, Kakak masih berhubungan dengan Viona atau teman lainnya.
Gadis itu terdiam di ujung telpon.
📞Ada yang mau dibicarakan? Kalau tidak Kakak tutup telponnya. Lagi banyak pasien.
📞Aku cuma menanyakan hal itu.
__ADS_1
📞Oh, ya sudah. Daa.
Panggilan mereka diakhiri oleh Abi. Larisa menyesal ia merasa sangat bersalah.
...🥕🥕🥕🥕...
Tanpa ia sadari ternyata sikapnya membuat Abi merasa di curigai. Apa memang sikapnya ini terlalu berlebihan? Larisa pun menghubungi sang sahabat untuk menemui di villa karena ia butuh seseorang untuk bercerita.
📞Oke, nanti pas jam makan siang gue kesana
Kata Kania
📞Benar, ya
📞Iya, udah dulu. Sampai ketemu nanti
...🐦🐦🐦🐦...
“Ya, jelas lah Kak Abi marah. Curiga sih boleh, tapi jangan berlebihan,” kata Kania. Setelah Larisa menceritakan masalahnya dan mencurahkan segala kegalauan hatinya ia mulai berkomentar.
“Emang salah? Gue cuma takut kehilangan Kak Abi,” jelas Larisa.
“Lo takut kehilangan Kak Abi atau lo masih trauma sama perselingkuhan?”
Larisa langsung terdiam.
“Gue ngerti lo pernah di khianati dan di sakiti oleh laki-laki, tapi jangan lo pikir semua laki-laki itu sama brengseknya. Ada juga kok laki-laki yang baik dan bisa dipercaya. Dia gak akan mengkhianati orang yang dicintainya.”
“Terus gue salah?”
“Jelas sekali lo salah. Apalagi sampai banting ponselnya Kak Abi. Jangan dibiasakan seperti itu, Sa. Nanti lo bisa berubah jadi orang yang tempramental. Gue tau, lo masih butuh waktu untuk kembali percaya sama seseorang, tapi kalau lo sendiri gak berusaha mau sampai kapan seperti itu?”
Larisa menghembuskan nafas panjang dan dihempaskan punggungnya ke sofa. “Gak tau kenapa, Nia. Saat gue tau Kak Abi bohong emosi gue langsung naik dan gue gak bisa menahannya.”
“Makanya dicoba. Kalau lo gak bisa kontrol emosi, sebaiknya lo pergi dulu buat menenangkan diri. Jangan langsung selesaikan masalah saat itu juga. Tenangkan diri lo dulu, setelah merasa lebih baik, minta penjelasan.”
“Terus sekarang gue harus gimana?”
“Ya, minta maaf lah!”
“Caranya?”
“Masak minta maaf lo gak tau caranya.”
“Maksud gue itu apa gak ada cara lain gitu selain gue minta maaf cuma pakai kata-kata?”
Kania ber O ria. “Lo gantiin tuh ponsel Kak Abi yang sudah hancur. Bilang sebagai tanda permintaan maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan.”
Larisa pun mencibir karena di sindir oleh sang sahabat.
“Terus?”
“Gak tau gue. Lo cari aja di google. Udah, ah, gue cabut, ya.” Kania bangkit dari duduknya.
“Cepat amat baliknya.” Larisa pun mengantar sang sahabat ke luar rumah.
“Gue mesti balik ke hotel, Sa.”
“Iya, deh. Makasih udah mau dengerin curhatan gue.”
“It’s oke. Pokoknya lo inget pesan gue yang tadi.”
__ADS_1
“Iya. TTDJ.”
Kania mengacungkan jempolnya lewat jendela mobil.