Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 50


__ADS_3

Dering ponsel Abi di atas nakas membangunkan dua insan manusia yang masih terlelap dalam dekapan satu sama lain. Abi menjangkau benda pipih itu sampai dering yang sudah keberapa kalinya mati lagi. 


“Siapa?” tanya Larisa dengan suara khas bagun tidur.


“Teman Kakak,” jawab Abi.


“Kenapa gak di telpon balik?”


“Nanti aja.” Lalu ia melihat layar ponselnya ternyata sudah pukul sembilan pagi.


“Bangun, yank. Kita mandi, habis itu sarapan,” ajak Abi.


“Kayaknya seharian ini aku mau di kamar aja,” jelas Larisa dari balik selimut.


“Kenapa?”


“Capek di tambah aku masih malu.” Wanita itu menutupi wajahnya yang terasa panas. Yang mereka lakukan semalam masih terbayang jelas dalam benaknya. Membuat Larisa tersenyum bahagia.


Abi pun juga merasakan hal yang sama, tapi ia merasa sudah sangat kelaparan. Pria itu segera turun dari ranjang lalu di sibaknya kain tebal yang membungkus tubuh polos istrinya. “Kakak, gendong ke kamar mandi.”


Larisa pun kaget ia sampai kelabakan sendiri ketika tubuhnya diangkat dan ia berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangan. 


“Gak usah malu. Udah, Kakak lihat semua semalam,” ujar Abi sambil berjalan ke kamar mandi.


...🦊🦊🦊🦊...


“Kita sarapan di rooftop aja,” kata Abi pada istrinya. Ia pun keluar dari kamar dan turun ke lantai satu.


Tak lama Larisa pun keluar dari kamar dan dia melangkah menuju rooftop di villa itu. Selama tinggal di sana mereka belum pernah menginjakkan kaki di lantai dua. Karena lantai satu saja sudah cukup luas untuk di tinggali. Apalagi lantai dua masih kosong saat itu, belum ada sofa atau perabotan lainnya.


Karena rencana kepindahan mereka sangat mendadak, Endra pun tak memiliki waktu banyak untuk mengisi villa dengan lengkap. Barulah kemarin Davira membelikan furniture yang banyak untuk mengisi ruangan dan rooftop di lantai itu.


“Sarapan dulu.” Abi datang membawa nampan berisi makanan untuk mereka berdua.


“Kenapa gak minta di anterin Bibik aja?” tanya Larisa.


“Tadi Kakak minta Bibik buat pulang ke rumahnya.”


“Kakak, pecat Bibik?”


“Gak, lah sayang. Kakak cuma kasih libur sampai besok. Kakak pengen kita berduaan aja di villa. Anggap aja kita lagi honeymoon.” Abi pun terkekeh.


Larisa menyantap sarapan yang dibawa suaminya dengan sangat lahap. “Lapar banget aku,” katanya.


“Sama, Kakak juga lapar banget gara-gara semalam.”


Larisa hanya tersipu malu.


“Apa kamu mau kita pergi honeymoon? Kemana gitu.”


Istri dari Abista itu menggelengkan kepala. “Gak, disini aja udah berasa honeymoon kok.”


“Hhhmm kamu mau langsung hamil atau ditunda dulu.” Abi hanya ingin tau kesiapan dari sang istri untuk mengandung benih cintanya.

__ADS_1


“Sedikasihnya aja. Aku gak masalah kalau hamil dalam waktu dekat,” jawab Larisa sambil mengunyah makanan.


“Oh, syukur kalau gitu.”


“Kenapa? Kakak, takut kalau aku bilang belum siap punya anak.”


Abi menggaruk kepalanya meski tak gatal. “Kakak, pikir kamu mau fokus kuliah dulu.”


Larisa meneguk segelas air minum lalu ia berpindah duduk ke atas pangkuan suaminya. “Mulai sekarang, Kakak gak perlu lagi mengalah demi aku. Sekarang giliran aku yang mengalah demi kebahagiaan, Kakak. Aku rela cuti kuliah kalau seandainya nanti hamil.”


Abi mengembangkan senyuman di bibirnya. “Kakak cuma takut kamu belum siap aja, sayang.”


“Siap-gak siap aku harus hadapi. Contohnya semalam, aku pikir gak siap tapi ternyata aku bisa kan. Artinya aku harus mencoba dan yakin aja. Toh Kalaupun nanti aku hamil, Kakak, pasti akan selalu mendampingi. Pokoknya aku mau bikin, Kakak, bahagia karena sudah menikahi aku.”


Mereka pun menutup sarapan pagi ini dengan ciuman hangat yang penuh kasih sayang.


“Ganti bajunya sama lingerie. Kakak, mau lihat kamu tampil **** selama dua hari ini,” kata Abi.


“As you wish, honey.” Wanita itu pun turun dari pangkuan suaminya lalu pergi ke kekamar. Larisa akan melakukan apa saja asalkan ia bisa membuat Abi bahagia. Apa yang ia lakukan kedepannya, itu gak akan bisa membalas hal yang sudah diberikan pria itu selama ini. 


Begitu banyak pengorbanan yang Abi lakukan untuknya. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran hingga perasaan. Maka dari itu mulai hari ini Larisa bertekad akan membahagiakan suaminya itu.


Saat Larisa kembali Abi baru saja selesai melakukan panggilan telepon.


“Siapa?” tanya Larisa dengan tampilan baru. Pastinya ia memoleskan sedikit make up di wajah dan menata rambut barunya.


Abi pun tak dapat berhenti mengembangkan senyum di bibirnya. Ia meminta sang istri untuk kembali duduk di atasnya. “Teman Kakak. Dia mau bantu Kakak di klinik.”


“Kamu gak pengen tau dia cewek atau cowok?”


Larisa menggeleng. “Gak penting. Aku percaya sama, Kakak. Oh, ya, kalau aku boleh tau itu kapan ijab kabulnya dilakukan?”


“Sebelum kita ke Bali. Bentar Kakak coba lihat kalender dulu, kayaknya ditandai deh.” Abi membuka kalender di ponselnya. “Wah, artinya semalam kita merayakan satu tahun pernikahan kita,” seru Abi.


“Oh, ya?” Larisa tak percaya.


Abi memberikan ponselnya pada Larisa. “Nih, kamu lihat aja. Kakak tulis apa di sana.”


Wanita itu pun membaca keterangan di tanggal yang ditandai suaminya membuat senyum bahagia mengembang di wajahnya.


“Kakak, telpon Mama, Papa, ya?”


“Jangan!”


“Kenapa?”


“Nanti aja pas mereka ke sini lagi baru kita jelasin.”


“Oke deh. Sekalian kita bahas pesta pernikahan kita.”


“Maksud, Kakak resepsi?”


“Iya, sekalian kita nikah resmi.”

__ADS_1


“Jadi, selama ini gak ada orang yang tau kalau kita sudah menikah?”


“Ya,  gak lah. Kecuali Mama dan Papa, ya.”


Larisa pun tersenyum. “Gak papa deh. Artinya kita bisa bikin pesta pernikahan impian.”


“Kamu maunya yang seperti apa?” tanya Abi. Tangannya sudah menjalar kesana-kemari di tubuh Larisa.


“Belum tau. Nanti kita cari referensinya.”


“Gak perih lagi kan?” tanya Abi menatap sang istri.


“Dikit,” jawab Larisa.


Abi tersenyum bangga. “Artinya pemanasan yang, Kakak lakukan berhasil bikin kamu nyaman di jebol.”


Larisa pun tertawa keras. “Jadi ini, perbincangan antara suami istri. Aku baru tau.”


“Gak juga, sayang. Banyak hal yang bisa dibahas. Tapi karena sekarang kita lagi honeymoon. Jadi, pembahasannya gak jauh dari persoalan itu.”


“Kakak, mau lagi?” Sesekali Larisa menyisir rambut hitam Abi.


“Nanti malam aja, kita coba di sini.”


“Di sini?” 


Abi mengangguk.


Larisa pun berpikir sejenak. “Kayaknya seru juga.”


“Bagaimana kalau sekarang kita berenang? Habis itu kita pesan makanan atau mau makan diluar?”


“Ide yang bagus. Kita makan diluar aja. Aku pengen jajan sepuasnya buat isi tenanga untuk nanti malam.”


“Hahahaha … oke. Give me one more kiss.”


Larisa pun dengan senang hati memberikan hal yang diminta suaminya.


...🍱🍱🍱🍡...


Selesai berenang keduanya berganti pakaian dan mereka pun berencana siang ini akan makan di sebuah restoran tepi pantai. Sambil menikmati beberapa wahana air yang ada di sana. Sorenya mereka mencari jajanan pinggir jalan untuk di bawa pulang. 


“Ada lagi?’ tanya Abi.


“Kayaknya ini cukup deh,” jawab Larisa.


“Kita pulang?”


“Iya, udah mau magrib.”


Abi melajukan mobilnya menuju villa dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan pasutri itu membahas tentang pesta pernikahan mereka. Konsep pernikahan impian Larisa sepertinya berubah sejak ia tinggal di Bali. 


Baginya konsep pernikahan yang dulu sangat diinginkan itu sangat membosankan. Jadi, kini ia ingin memilih konsep lain yang simpel sederhana namun terkesan mewah. Hal itu pun disetujui oleh suaminya, karena Abi memang tak suka dengan konsep pernikahan yang terlalu ribet, apalagi terkesan sangat formal.

__ADS_1


__ADS_2