
Larisa telah menyelesaikan proses pendaftaran pascasarjana nya secara online. Semua berkas yang diperlukan sudah dilengkapi. Tinggal menunggu panggilan sesi wawancara dan pengumuman lulus seleksi.
Sekarang wanita itu tampak sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi sesi wawancara besok. Ia membaca banyak buku agar dapat memberikan jawaban yang tepat.
“Kakak pulang sayang,” sorak Abi dari arah depan.
Larisa bergegas turun dari sofa ruang tengah dan ia segera menghampiri Abi. “Tumben pulangnya agak cepatan sekarang?”
“Kebetulan hari ini pasien sedikit. Kita jadi jemput, Mama, Papa di bandara?”
“Kayaknya gak deh.”
“Kenapa?”
“Kakak, pasti capek. Jadi, mendingan kita tunggu aja sambil nyantai-nyantai bentar.”
“Oke deh. Kalau gitu Kakak mandi dulu, ya. Gerah banget.”
“Oke.”
Sebelumnya Larisa sempat menceritakan keinginan Abi tentang membangun sebuah RSJ pada Endra. Entah kenapa ia ingin sekali membantu pria itu. Tapi apa daya dia gak punya uang yang banyak. Maka dari itu ia meminta bantuan pada sang Papa. Terserah bagaimana caranya. Niat baik itu ternyata disambut baik oleh Endra dan dia sudah memikirkan cara agar sang menantu tak menolak bantuannya itu.
Selesai mandi Abi mengajak Larisa menuju halaman belakang duduk santai sambil menikmati pemandangan ditemani dengan minuman segar dan kue brownis sebagai camilan.
“Kalau kayak gini terus sebaiknya kita nikah aja deh La.” Abi memeluk tubuh Larisa yang ada di atasnya. Wanita itu gak akan lepas darinya ketika dia pulang bekerja, terus saja menempel. Seperti sekarang, mereka baru saja habis menikmati sebuah cumbuan yang begitu panas di atas sofa taman.
“Apa gak kecepatan?” Larisa memainkan telunjuknya di wajah Abi.
“Memangnya kamu masih belum siap?”
“Gimana, ya, aku juga masih bingung.”
“Bingung kenapa lagi?”
Larisa merebahkan kepalanya di dada bidang itu. “Aku gak yakin bisa melayani, Kakak, dengan baik.”
“Selama ini kamu sudah melayani Kakak dengan baik, terus apa lagi?”
“Anggap aja aku lagi belajar, Kak. Menikah itu artinya tanggung jawab dan kewajiban aku sebagai istri itu banyak.”
“Terus?”
“Ya, kan aku pengen kuliah. Jadi, aku takut nanti gak bisa ngurus, Kakak, dengan baik.”
“Kalau mau kuliah sih kuliah aja, La. Kakak gak akan membatasi kamu kok.”
“Aku pikir-pikir dulu lah. Lagian aku kadang ngerasa gak yakin bisa jadi istri yang bisa membanggakan. ”
“Maksud kamu gimana?”
“Aku ini kan pernah depresi dan juga pasiennya, Kakak. Apa kata orang nanti, Kakak, nikahi pasien sendiri. Yang ada aku nantinya bakalan bikin, Kakak, malu.”
“Kok kamu bisa kepikiran sampai sana. Lagian apa pedulinya sih sama omongan orang.”
“Iya, lah. Kadang aku juga suka minder kalau jalan sama, Kakak.”
“Kenapa?”
“Aku ini kayak jalan sama Abang sendiri,” cemberutnya. “Kadang suka ngerasa gak pantas gitu jadi pacarnya, Kakak. Kakak itu sempurna. Lah aku, kecil pendek, kurus lagi.”
“Kata siapa kamu kurus. Badan kamu Ini tuh udah pas dan Kakak suka kok. Kamu juga gak pendek, Kakak aja yang terlalu tinggi.”
“Emang gitu?”
“Udah, jangan insecure gitu. Kakak terima kamu apa adanya. Jadi, gimana? Apa kita menikah dalam waktu dekat?”
“Jangan!”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Aku belum siap.”
“Belum siap malam pertama?” goda Abi tertawa.
“Tau, ah,” kesal Larisa.
“Biar Kakak yang kerja. Kamu nikmatin aja.”
“Ih, Kakak mesum deh.”
“Lah, kok mesum sih?”
Laris menekuk wajahnya. Ia pun memukuli Abi dengan bantal sofa. “Kakak, ih kadang suka bikin kesal.”
“Oke, ampun. Maaf, sayang ku.”
Larisa pun akhirnya berhenti.
“Kakak kan cuma bercanda, biar kamu gak serius mulu mikirin pendapat orang soal hubungan kita. Yang ngejalanin itu kita, sayang, bukan orang lain.”
“Kasih aku waktu, ya?!”
“Ya, sudah, nanti kalau siap bilang sama, Kakak, ya!”
Larisa pun mengangguk.
“Itu kayaknya, Mama sama Papa sampai. Yuk, kedepan,” ajak Abi menarik tangan istrinya.”
“Eh, bentar. Penampilan aku gak berantakan kan?”
“Gak! Tetap cantik kok. Bibirnya aja yang merah dikit,” goda Abi.
Larisa melabuhkan sebuah capitan di pinggang pria itu dan mereka melangkah bersama menyambut kedatangan Endra dan Davira.
...🦋🦋🦋🦋...
Malamnya keluarga itu menikmati waktu kebersamaan di ruang tengah sambil membahas banyak hal.
“Papa, serius? Saya kemarin emang sempat cerita sama Larisa soal mau kembangin klinik jadi RSJ," sambut Abi.
“Wah, kalau gitu artinya kita berjodoh. Kalau kamu setuju, besok Papa akan langsung gerak. Pastinya cari lahan dulu dan bangun gedung.”
“Setuju kalau gitu. Terus bagaimana sistem keuntungannya?”
“Hahaha ... untuk masalah itu nanti kita bicarakan kalau semuanya sudah selesai.”
“Oke. Jadi, Papa yang akan urus semuanya?”
“Gampang, biar Papa urus masalah lahan, pembangunan dan izinnya. Setelah itu kamu tinggal pindah kesana.”
“Jadi, kliniknya Abi ditutup dong, Pa?” tanya Davira.
“Ya, gak Lah. Anggap aja kliniknya Abi sudah berkembang jadi RSJ. Jadi, pasiennya Abi bakalan jadi pasien di rumah sakit kita,” kata Endra.
“Ini bukan akal-akalan Papa buat bantuin saya kan? Apa Larisa sempat cerita?” tanya Abi.
Endra tertawa lagi karena tebakan menantunya itu cukup tepat, tapi ia sudah memiliki jawaban yang sangat meyakinkan. “Sejak kalian pacaran, Larisa sudah gak pernah lagi ngobrol sama Papa, Bi. Jadi, Larisa gak pernah cerita apa-apa sama Papa dan Mama. Ini beneran ide Papa sendiri. Soalnya kemarin sempat diajakin teman bikin Rumah Sakit di Jakarta. Tapi Papa kurang yakin karena yang mengelolanya adalah keluarga dari teman Papa itu. Takutnya ada miskomunikasi di tengah jalan. Kalau ini kan jelas, Papa bisa percaya penuh sama kamu dan Papa gak akan ragu.”
Abi mengangguk paham.
“Terima aja, Kak, tawaran Papa. Gak baik loh nolak rejeki,” timpal Larisa.
“Oke kalau gitu, deal.” Abi dan Endra salin berjabat tangan.
...🥑🥑🥑🥑...
Ternyata Endra sudah mengosongkan beberapa jadwalnya untuk bisa memulai proyek untuk menantunya itu. Seminggu kedepan dia kan berada di Bali. Hari ini ia ditemani Abi mencari beberapa lahan untuk bangunan Rumah Sakit.
Sedangkan Davira juga Larisa menghabiskan waktu jalan-jalan keliling mall.
__ADS_1
“Abi belum cerita apa-apa sama kamu?” tanya Davira.
“Soal apa?”
“Soal kalian.”
“Gak ada. Tapi Kak Abi sempat minta kami segera nikah.”
“Terus?”
“Aku belum siap, Ma.”
“Kenapa sih, La?”
“Aku sudah jelasin alasannya sama Kak Abi dan dia mengerti.”
Davira menghembuskan nafas kasar. Rasanya ia ingin mengungkapkan pernikahan putrinya itu dengan Abi. Tapi ia tak mau ikut campur, takut merusak rencana menantunya.
“Sekarang kita kemana?” tanya Larisa.
“Ke toko pakaian dalam,” jawab Davira. Sampai di sana wanita itu memilih beerapa lingeri.
“Buat siapa, Ma?”
“Buat kamu.”
“Hah? Buat aku?” Larisa menunjuk dirinya sendiri.
“Persiapan aja nanti kalau kamu nikah sama Abi, Mama sudah belikan. Mumpung kita lagi belanja bareng.”
Larisa pun menggelengkan kepalanya. Ia merasa ada yang aneh dengan tingkah sang Mama.
...🌰🌰🌰🌰...
Pagi ini Larisa akan melakukan sesi wawancara di kampus tempatnya mendaftar. Ia pun berangkat bersama Abi.
“Ma, Pa doain, ya, aku bisa lulus tes wawancaranya,” kata Larisa. Sebelum pergi dia berpamitan dulu dengan kedua orang tuanya.
“Pasti dong. Kita selalu doain kamu tanpa kamu minta sekalipun,” jelas Davira.
“Saya juga berangkat,” kata Abi pada mertuanya.
“Iya, pokoknya sukses buat kalian berdua. Hati-hati di jalan,” kata Davira Lagi.
Pasangan itu secara bergantian mencium punggung tangan Davira dan Endra. Setelahnya mereka segera masuk mobil.
“Aku deg-deg an deh, Kak,” ungkap Larisa.
“Santai aja. Yakin kalau kamu bisa dan pasti lulus." Abi menyemangati istrinya itu.
“Nanti siang kayaknya aku gak bisa masakin bekal, deh. Gak papa kan?”
“Gak papa, sayang. Kakak ngerti kok. Udah, kamu fokus aja dulu sama wawancara hari ini.”
Sampai di depan kampus mereka pun berpisah. “Semangat,” kata Abi sebelum istrinya turun. “Semoga berhasil.”
Larisa tersenyum lalu memeluk sang kekasih. “Hahh setidaknya kalau gini aku merasa lebih tenang.”
“Mau Kakak temenin sampai dalam?”
“Gak usah, Kakak, mesti ke klinik. Ya, udah aku turun, ddaa.”
Kemudian gadis itu berbalik sebelum membuka pintu mobil. “Ada yang lupa.” Larisa segera menarik dasi sang kekasih dan satu kecupan mendarat di bibir Abi. Lelaki itu tak mau kalah, ia menahan pundak istrinya lalu menyatukan bibir mereka.
“Rasa stroberi,” goda Abi.
Larisa pun tertawa. “Udah, ah aku turun.”
“Daa, sayang.”
__ADS_1
“Daa.” Larisa melambaikan tangan sampai mobil itu menjauh.