Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 88


__ADS_3

Abi menemui Larisa di kamar untuk bicara dari hati ke hati tentang hal yang menjadi kekhawatiran nya jika mereka pindah ke Jakarta. Larisa yang tengah tiduran di kasur segera duduk saat mendengar suaminya masuk.


“Kyra mana?” tanya Larisa.


“Dia lagi main sama kucingnya di villa Kania.” Abi pun duduk di tepi kasur menatap sang istri.


“Apa? Kakak mau membujuk aku untuk memenuhi permintaan Papa?” Larisa betanya dengan wajah yang kesal.


Abi menggeleng lalu meraih jari-jemari istrinya. “Kakak kesini cuma pengen ngobrol aja sama kamu. Kalau memang kamu gak mau kita pindah ke Jakarta gak papa, tapi kamu harus bisa kasih alasan yang jelas agar Mama dan Papa bisa mengerti.”


“Memangnya alasan aku kurang jelas apa lagi?”


“Tentu saja alasan yang kamu berikan ke mereka itu sulit untuk dimengerti. Hanya karena rasa khawatir yang tidak jelas sebabnya, gak logis, sayang.” Abi bicara dengan sangat lembut meski Larisa bicara sedikit terbawa emosi sisa-sisa semalam.


“Jadi, menurut, Kakak, kekhawatiran aku ini gak pantas untuk di mengerti?!”


Abi naik ke atas kasur lalu duduk bersila menghadap isyrinya. “Sekarang coba jelaskan sama Kakak, apa yang sangat kamu khawatirkan jika kita kembali ke Jakarta?!”

__ADS_1


Larisa terdiam lalu menarik nafas dalam dan dihembuskannya. Ia juga bingung bagaimana menjelaskan tentang rasa khawatirnya pada Abi. Yang jelas hatinya sangat enggan dan berat jika mereka harus meninggalkan pulau ini. “Entahlah, aku gak bisa menjelaskannya. Yang pasti aku-.”


Abi mengangguk paham ia pun tak memaksa Larisa untuk menjelaskan lagi. “Kamu percayakan kalau Allah sudah mengatur kehidupan kita?”


Wanita itu mengangguk.


“Kalau begitu serahkan segalanya pada Allah. Apapun yang terjadi nanti kamu gak perlu takut, karena Kakak akan selalu ada buat keluarga kecil kita. Satu lagi, hapus pikiran dan prasangka buruk itu dari kepala dan hati, karena kadang itu bisa menjadi sebuah doa.”


Larisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku gak mau keluarga kita kena masalah. Sudah cukup penderitaan dulu saat aku depresi. Sekarang aku maunya kita hidup bahagia selamanya.”


Abi membelai kepala istrinya. “Yang namanya hidup itu gak akan bahagia selamanya, sayang. Kita pasti akan menghadapi masalah kedepannya. Jadi, kamu harus siap jika suatu saat nanti rumah tangga kita diuji lagi oleh Allah.”


“Kamu gak kasihan sama Mama, Papa? Mereka sudah tua, loh, tapi masih saja bekerja. Seharusnya Mama dan Papa itu menikmati usia senjanya, duduk manis dirumah menghabiskan waktu bersama cucu.”


Larisa memutar bola matanya, seakan malas dengan kata-kata Abi untuk meluluhkan hatinya.


Abi hanya tersenyum. “Kita sholat dzuhur, yuk! Sudah adzan. Minta sama Allah petunjuk dan ketenangan hati, lalu kamu pikirkan lagi dengan hati lapang dan pikiran jernih.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya turun dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk bersuci.


...🦋🦋🦋🦋...


“Minum dulu susunya.” Larisa memberikan segelas susu pada sang putri.


“Makasih, Mama.” Kyra meneguknya sampai habis lalu meletakkan gelas kosong ke tempat piring kotor.


“Sekarang naik ke atas sama Papa dulu, Mama mau beresin meja makan.”


“Ayo kita nonton di atas.” Abi segera mengangkat Kyra menuju lantai dua.


Bersama asisten rumah tangganya Larisa membersihkan meja makan dari sisa-sisa makanan. Setelah pekerjaannya beres wanita itu menyusul anak dan suaminya.


“Loh, sudah tidur saja?” Larisa memberikan sebuah kecupan di pipi putrinya nan sudah terlelap di pangkuan sang Papa.


“Dia pasti capek, seharian main di halaman sama Boni dan Kania,” jelas Abi.

__ADS_1


“Pindahin ke kamarnya. Biar kita juga bisa istirahat.”


Abi mengendong sang anak menuju kamar, sampai di sana ia meletakkan Kyra di atas kasur dan menyelimuti gadis kecil itu. Larisa menghidupkan lampu tidur lalu mematikan lampu utama. Keduanya pun segera menuju kamar mereka.


__ADS_2