Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 140


__ADS_3

Tindakan operasi tengah dilakukan. Abi menunggu dengan perasaan harap-harap cemas di depan pintu ruang operasi. Istrinya itu mendapati luka tusukan yang cukup parah. Beberapa organ dalam juga mengalami luka yang serius hingga Dokter memutuskan untuk langsung melakukan tindakan agar nyawa Larisa bisa diselamatkan.


Tak lama Mertua dan orang tuanya serta sang putri pun tiba di sana. Abi langsung memeluk Ningsih, menumpahkan air mata yang sejak tadi berusaha di tahannya.


“Aku takut kehilangan Larisa, Ma,” ujar Abi.


Ningsih mengelus lembut punggung sang putra dan membawanya duduk di kursi tunggu. “Kita berdoa sama-sama agar Larisa diberikan kekuatan untuk bisa bertahan dan dia bisa berkumpul kembali bersama kita.”


Abi mengangguk setelah itu dipeluk erat nya Kyra, anaknya yang tampak bingung dengan situasi. “Doa in Mama agar Mama bisa berjuang.”


“Memangnya Mama kenapa, Pa?” tanya Kyra yang masih belum bisa membaca situasi.


“Mama lagi diobati Dokter, karena Mama tadi sempat terluka.” Abi menjelaskan dengan tenang agar sang putri tak ikutan merasa takut atau khawatir.


Davira dan Endra pun menunggu di sana dengan hati yang berdebar-debar. Waktu terus saja bergulir, tapi Dokter dan tim medis lainnya tak kunjung keluar dari ruangan yang mereka pandangai sejak tadi. Hampir lima jam, barulah lampu merah di ruangan itu padam. Menandakan kalau tindakan operasi selesai dilakukan.


Abi dan seluruh keluarga langsung berdiri, menanti keluarnya Dokter dari sana dan memberikan penjelasan terkait kondisi Larisa.


“Alhamdulillah operasi berhasil dilakukan,” ungkap Dokter.


Membuat Abi dan para orang tua menghembuskan nafas panjang.


“Setelah ini pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat intensif untuk memantau perkembangannya hingga 24 jam kedepan. Jika kondisinya stabil dan membaik, maka akan kami pindahkan ke ruang inap biasa,” tambah Dokter.


Abi menyeka pipinya yang basah, ia pun mengangguk dan menyalami tangan Dokter yang sudah menyelamatkan istrinya itu. “Terimakasih banyak, Dok.”


“Saya hanya menjalankan tugas. Berdoalah untuk kesembuhan istri Anda,” balas Dokter.


“Pasti.”


...🐹🐹🐹🐹...


“Mama pulang dulu, mau ambilin baju ganti buat kamu,” ujar Ningsih.


Sedari tadi Abi memang tak peduli pada penampilannya yang berlumuran darah karena mengangkat Larisa dari dalam mobil menuju UGD. 


“Sebaiknya, Mama juga pulang dan bawa Kyra,” tambah Endra pada istrinya.


“Iya, Ma. Kasian Kyra kalau harus ikut nunggu di sini,” tambah Abi.

__ADS_1


Davira pun setuju. “Nanti malam Mama dan Kyra balik ke sini.”


“Gak usah besan, biar saya saja yang menemani Abi untuk menjaga Larisa. Nanti setelah saya tiba di sini, Pak Endra bisa pulang,” sela Ningsih.


“Tapi-”


“Gak papa. Besoknya Kalian yang jagain Larisa, biar saya yang bawa Kyra tinggal di rumah.”


“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak.”


“Larisa itu juga putri saya jadi, tak perlu merasa sungkan lalu mengucapkan terimakasih seperti ini. Kita ini keluarga, bukan orang lain.”


Davira dan Ningsih pun saling berpelukan. Abi menggendong sang putri yang tertidur di kursi tunggu menuju mobil di parkiran.


...🐸🐸🐸🐸...


Ningsih dan Abi secara bergantian menemani Larisa di ruang Intensif. Hingga pagi tiba, kondisi Larisa tetap stabil membuat Dokter memutuskan untuk memindahkan pasien itu ke ruang rawat biasa. Membuat Abi dapat kembali menghembuskan nafas panjang untuk melapangkan dadanya.


“Kapan istri saya sadar, Dok?” tanya Abi.


“Kita tunggu beberapa jam lagi,” jawab Dokter.


Jam sepuluh pagi Davira dan Endra pun tiba di sana. Mereka juga mengucap syukur karena sang putri sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Kyra yang semalam begitu merindukan sang Mama langsung mendekati ranjang pembaringan.


“Sabar, ya, sebentar lagi Mama pasti bangun.” Abi berkata sambil mengangkat tubuh anaknya.


“Mama baik-baik saja kan, Pa? Mama gak akan seperti Moci kan?”


Pertanyaan itu membuat Abi merasa tenggorokannya tercekat. Apa yang di takutkannya juga menjadi ketakutan bagi sang putri.


“Kita berdoa saja semoga Mama cepat sadar dan bisa sembuh lalu berkumpul bersama kita.”


Kyra mengangguk lalu melingkarkan lengan kecilnya di leher sang Papa. “Aku mau Mama cepat bangun.”


“Pasti, sayang. Sebentar lagi, sabar, ya.” Sambil mengelus punggung putrinya Abi juga berusaha meyakinkan hatinya untuk tetap kuat dan tegar.


“Besan silahkan pulang dan istirahat, giliran kami yang jagain Larisa,” kata Davira.


“Iya, saya memang butuh tidur karena semalam gak bisa tidur nyenyak,” jawab Ningsih. “Terus Kyra gimana?”

__ADS_1


“Biar Kyra di sini dulu, Ma. Dia mau lihat Larisa bangun, nanti biar aku yang antar dia pulang ke rumah,” jawab Abi.


“Baik kalau begitu. Mama pulang, ya, kamu harus tabah, banyak berdoa dan harus kuat demi Kyra.” Ningsih berpesan sambil memeluk Abi.


Hanya sebuah anggukan dan senyuman simpul yang diberikan putranya itu.


“Pak, Buk, saya pamit, ya. Nanti kalau Larisa sudah sadar jangan lupa kabari.”


“Iya, hati-hati di jalan,” balas Endra.


Kepergian Ningsih mereka semua masih menunggu kapan waktunya Larisa membuka mata. Detik berlalu menjadi menit dan menit berganti menjadi jam tapi tak ada tanda-tanda dari wanita nan terbaring itu akan segera membuka mata.


Tak lama Dokter pun tiba. “Apa pasien sudah sadar?”


“Belum, Dok,” jawab Abi.


“Seharusnya dia sudah sadar. Sudah coba ajak dia bicara?”


“Sudah.”


“Kalau begitu coba panggil kembali, apakah ada respon.”


Abi pun menundukkan kepala berbisik di teling istrinya. “Sayang, ayo bangun. Kakak dan Kyra di sini sangat takut jika kamu pergi.”


Sang putri pun juga ikut di minta untuk memanggil sang Mama. “Mama, ini Kyra. Ayo bangun, Ma, katanya kita  mau pulang ke Bali.”


Respon yang dinantikan pun akhirnya diberikan oleh Larisa. Jari-jari tangannya mulai tampak bergerak dan Dokter langsung memeriksanya. Sinar lampu senter dari Dokter di mata membuat Larisa sadar sepenuhnya, ia membuka mata dan memperhatikan sekeliling.


“Kakak, Kyra,” panggilnya lemah.


Abi menggenggam jari-jemari istrinya lalu ditempelkan ke pipi yang sudah dialiri air mata. “Iya, sayang, ini Kakak sama Kyra. Kami menunggu kamu disini.”


Davira dan Endra yang sedari tadi juga menunggu mereka pun akhirnya ikut meneteskan air mata penuh syukur. 


“Bagaimana keadaan putri saya, Dok?” tanya Endra.


“Kondisinya stabil, Pak. Nanti kami akan periksa kembali luka pasca operasi jika tak ada komplikasi artinya putri Anda bisa sembuh dalam waktu dekat,” jelas Dokter.


“Alhamdulillah,” seru Endra dan Davira.

__ADS_1


“Baik, kalau begitu kami tinggal dulu. Satu jam lagi suster akan datang untuk menjemput pasien.”


Endra pun mengangguk dan mengantar kepergian Dokter.


__ADS_2