Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 122


__ADS_3

Nanti lanjut di rumah aja, deh. Kalau disini gak enak, ntar dilihat orang.” Abi merapikan Baju sang istri yang sedikit berantakan.


“Dasar mesum,” kesal Laris.


“Mesum sama istri sendiri gak papa.” Abi pun menurunkan Larisa dari atas pangkuannya.


“Sana, balik ke RS.”


Terakhir sebelum pergi pria itu mengedipkan sebelah matanya pada sang istri. “Da, sayang. Nanti pulang ketemu lagi.”


“Iya, hati-hati nyetirnya.”


Pas Abi keluar dari ruangan itu, Bayu pun keluar dari ruangan Dendi. Mereka berpapasan di depan lift. Ia pun mempersilahkan Bayu masuk duluan ketika pintu lift terbuka.


“Ketemu Larisa?” tanya Bayu.


“Iya, lagi pengen makan siang berdua,” jawab Abi.


Laki-laki yang berdiri di sampingnya itu hanya mengangguk. 


“Saya harap mulai sekarang Anda jauhi istri saya.”

__ADS_1


“Maaf, maksudnya?” Bayu pura-pura tak mengerti.


“Jangan berlagak bodoh. Saya tau kalau tadi Anda mengintip kedalam ruang kerja istri saya dan saya yakin Anda pasti membayangkan kalau Anda yang berada di posisi saya tadi.” Abi langsung berkata pada intinya.


Bayu hanya menyeringai. “Maaf sekali lagi, saya benar-benar gak tahu apa maksud perkataan Anda.”


Tatapan tajam langsung mengarah pada Bayu. “Anda tidak akan mengintip ruang kerja istri saya dan Anda juga tidak akan memperhatikan apa yang kami lakukan jika Anda memang berniat baik pada istri saya,” tekan Abi.


“Memangnya saya ada niat buruk apa pada Larisa? Saya hanya ingin berteman dengannya.”


“Berteman? Bukannya Anda ingin kembali mendekati Larisa, karena kini dia jauh berbeda dari Larisa yang dulu Anda kenal?!” 


“Jangan menuduh sembarangan kalau tidak ada bukti.”


Sedangkan Bayu masih berdiri terpaku hingga pintu lift tertutup kembali ia melampiaskan emosinya dengan menendang bagian dalam lift. Memukulkan kepalan tangannya ke dinding.


...🐸🐸🐸🐸...


Meski sudah diperingati oleh Abi, Bayu tak menyerah begitu saja. Ia terus mencari cara agar dapat bertemu dengan Larisa. Bahkan saat Luna ingin memecatnya dari perusahaan, ia mengancam sang istri kalau akan membocorkan rahasia perusahaan. Membuat Luna tak dapat berkutik. Terpaksa laki-laki itu dipertahankannya meski dengan berat hati.


“Bay, aku mohon jangan cari masalah dengan keluarga Larisa. Aku takut jika nanati Pak Endra akan memutus kontrak kerja sama,” ujar Luna.

__ADS_1


“Kalu iya, maka sudah dilakukan dari dulu. Kamu tenang saja, gak semudah itu memutus kontrak kerja sama. Selagi kerja sama ini memberikan keuntungan, maka aku jamin perusahaan ini akan tetap dipertahankan,” jawab Bayu.


Luna hanya bisa menghela nafas panjang dan dihembuskannya. Ia tak tau harus berkata apa pada Larisa nanti jika bertemu.


“Hari ini kita ada meeting kan, aku ikut,” pinta Bayu.


“Please, Bay, jangan bikin aku malu di depan Larisa. Aku sudah janji akan menjauhkan kamu dari dia.”


“Oh, jadi diam-diam kamu sudah ketemu dengannya? Ngomong apa saja kamu sama dia? Pantas saja kini Larisa kembali menghindari aku padahal kemrin dia sudah mau bicara.”


“Aku gak ngomong apa-apa. Waktu itu kami ketemu di RS saat Pak Endra datang menjenguk Papa dan dia minta aku untuk menjauhkan kamu dari dia.” Luna sengaja berbohong karena ia takut nanti Bayu akan membuat masalah pada perusahaannya.


“Bohong! Kamu pasti sudah ngomong yang gak-gak sama dia?!”


“Gak ada. Kalau gak percaya, terserah. Aku mau siap-siap berangkat meeting.” Luna keluar dari kamarnya dengan Bayu. Meski dalam proses perceraian, mereka masih tinggal satu atap demi sang putra yang membutuhkan kehadiran mereka berdua.


...****************...


Aku bawa rekomendasi lagi...


jngan lupa mampir ya...

__ADS_1



__ADS_2