Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 47


__ADS_3

Seperti biasa, sore harinya pasutri itu akan menghabiskan waktu di halaman belakang. Sambil bermesraan. Sudah kebiasaan mereka memadu kasih di sana, meski hanya sebatas pagutan panas tapi mereka cukup merasa puas.


“Kakak, gak takut nanti kita di lihat, Mama, Papa?” tanya Larisa.


“Kalau pun ketahuan, mereka juga gak akan marah,” jelas Abi membelai pipi Larisa.


“Yakin, banget?”


Abi hanya terseyum. “Gimana wawancaranya tadi?”


“Lancar, kok.”


“Terus kapan pengumumannya?”


“Empat hari lagi.”


“Kamu pasti lulus,” ungkap Abi yakin.


“Hhhhey … kalau mau mesra-mesraan di kamar sana,” sorak Davira menghampiri mereka. “Papa mau ada tamu, gak enak di lihat dari dalam.”


Hampir seluruh bagian dari villa itu berdindingkan kaca tebal transparan.


Larisa mengerutkan dahi. 


“Tuh, apa kata Kakak, Mama gak marah kan.”


“Gak papa emang kami ke kamar berdua?”tanya Larisa pada sang Mama.


“Gak, papa. Pergi sana,” jawab Davira.


Abi pun menggendong istrinya dan membawa Larisa berlari menuju kamar.


...🍍🍍🍍🍍...


“Papa sudah urus soal pembangunannya. Nanti kamu bisa bantu pantau sesekali ke sana,” jelas Endra saat mereka makan malam.


“Siap, Pa,” jawab Abi.


“Jadi, nanti kalau ada masalah sama proyeknya mereka pasti akan langsung hubungi kamu. Kan gak mungkin mereka melaporkan ke Papa.”


“Tapi aku juga gak perlu kasih laporan ke Papa kan?”


“Kalau kamu rasa butuh masukan sih, gak papa hubungin Papa.”


“Kira-kira bakalan jadi kapan itu gedungnya?” tanya Davira.


“Sampai finis mungkin butuh waktu satu tahun,” jelas Endra.


“Lama juga, ya.”


“Kan sampai selesai, Ma. Sampai gedungnya benar-benar bisa dipakai,” jelas Endra.


Davira pun mengangguk paham.


“Oh, ya, La, kapan pengumuman hasil wawancara kamu tadi?” tanya Endra.


“Empat hari lagi, Pa.”


“Pas kami pulang ke Jakarta, dong,” sela Davira.


“Iya, Ma.”


Semuanya menyelesaikan makan malam dalam diam dan setelahnya mereka menuju kamar masing-masing sebab hari ini sangat melelahkan.


...🍒🍒🍒🍒...


Sebelum pulang ke Jakarta Davira kemarin sempat belanja beberapa furniture untuk mengisi villa itu. Pagi ini semua barang yang dibelinya kemarin pun tiba.


“Buat apa ini semua?” tanya Larisa bingung. 


“Buat kamar utama,” jelas Davira. “Mulai sekarang kamu sama Abi tidur di atas, ya. Biar kamar tamu yang kalian tempati itu bisa diberesin Bibik jadi, kalau ada tamu mereka bisa nginap.”


“Maksud, Mama, aku sama Kak Abi tidur satu kamar?”


“Bukannya selama ini kalian emang udah tidur berdua, ya? Jadi, Mama pikir ga ada salahnya, dong sekarang kalian pindah ke kamar utama.”


Sebenarnya Davira hanya ingin membuat Larisa dan Abi menjadi lebih dekat lagi. Bahkan ia berharap keduanya bisa khilaf supaya pernikahan itu bisa segera terungkap.


“Mama, adalah orang tua yang aneh,” ucap Larisa. Namun, sang Mama tak mendengar hal itu karena terlalu asik menata barang-barang.

__ADS_1


“Aku pinjam ponselnya dong, Ma," todong Larisa.


“Buat apa? Bukannya kamu punya ponsel?”


“Aku mau telpon dosen yang sudah ngasih rekomendasi kemarin. Gak enak loh sudah dibantu tapi gak bilang terimakasih. Nomornya masih, Mama, simpan kan?”


“Nih.” Davira memberikan telepon genggamnya ke tangan sang putri. “Jangan lama-lama, habis pakai kasih lagi ke, Mama.”


“Iya." Larisa menjawab sambil menuruni tangga.


...🍆🍆🍆🍆...


Cukup Lama perbincangannya dengan sang dosen pembimbing saat masih kuliah S1 dulu. Sang dosen pun juga sudah tau kalau mantan mahasiswanya itu sempat mengalami masa-masa sulit. Ia memberikan dukungan penuh pada Larisa.


📞Sekali lagi terimakasih banyak, ya, Buk.


Kata Larisa.


📞Sama-sama Risa. Saya senang kamu bisa bangkit lagi dan sekarang saya akan memberikan bantuan jika kamu butuh.


📞Maaf kalau saya gak bisa menemui, Ibuk, langsung.


📞Gak papa. Mama kamu sudah menceritakan semuanya pada saya. Jadi, saya paham kondisi kamu.


📞Kalau begitu telponnya saya tutup dulu. Assalamualaikum.


📞Waalaikumsalam.


“Kamu lagi apa?” tanya Davira yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Larisa.


“Nggak lagi ngapa-ngapain kok,” jawab gadis itu sedikit gugup.


“Ponsel Mama mana?”


“Nih.” Gadis itu menyerahkannya pada Davira.


“Ayok, bantu, Mama di atas.”


“Iya.” Larisa pun mengikuti langkah kaki Mamanya.


...🦋🦋🦋🦋...


Larisa menggeleng. “Kapan, Kakak, pulang?”


“Tumben dari siang sampai sore di kamar terus.”


“Pasti, Mama yang bilang, ya?”


Abi mengangguk. “Ada apa?”


“Gak ada apa-apa. Aku cuma capek tadi habis bantuin Mama di atas.”


“Ya udah kalau gitu kita keluar, yuk. Besok mereka sudah mau pulang, loh.”


Larisa mengangguk setuju. Ia turun dari ranjang dan keluar kamar bersama sang kekasih.


“Mama sama Papa ambil penerbangan pagi besok,” jelas Endra.


“Kalau gitu saya gak bisa antar,” kata Abi.


“Gak papa kok. Kamu kan harus ke klinik.”


“Biar aku saja,” sela Larisa.


“Gak usah, La. Kamu besok harus pindahin barang-barang kalian ke atas,” kata Davira.


Gadis itu hendak menyela ucapan sang Mama tapi Abi menahan tangannya di bawah meja agar tak berdebat di meja makan.


“Baik,” jawab Larisa.


Selesai makan malam semuanya menuju kamar masing-masing. 


“Malam, muach.” Abi mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya ketika mereka berpisah di depan kamar.


“Malam juga, Kak.”


...🍞🍞🍞🍞...


Paginya Larisa melepas Abi yang akan berangkat ke klinik dan kedua orang tuanya menuju bandara.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih, sayang, muka nya murung gitu?” tanya Davira.


Dihembuskannya nafas kasar. “Kesal aja, Mah. Pengumuman hasil wawancara kemarin di undur,” jawab Larisa.


“Ooh, artinya kamu masih punya banyak waktu buat santai, dong.”


Larisa pun mengembangkan senyuman. “Ya udah, kalau gitu hati-hati di jalan, ya.”


“Kakak juga berangkat, ya, sayang,” pamit Abi.


Larisa mengangguk. “Kakak, juga hati-hati.”


Semuanya masuk kedalam mobil masing-masing. Larisa pun melambaikan tangannya sampai kedua mobil itu keluar dari halaman villa. “Bik,” panggilnya.


“Iya, Mbak,” jawab Bibik menghampiri.


“Bantu saya pindahin barang-barang di kamar ke kamar atas.”


“Siapa, Mbak.”


Wanita itu mulai sibuk mengeluarkan pakaiannya dan pakaian abi yang ada di lemari terpisah lalu dibawa ke lantai atas. Sampai di sana ia pun kembali menatanya dalam satu lemari. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Namun tiba-tiba juga ada rasa sedih yang terselip. Larisa dilanda kebingungan.


Siangnya ia turun ke dapur, memasak makanan untuk bekal Abi. Ia pun juga makan siang bersama Bibik di meja makan. Setelah itu mereka kembali memindahkan barang-barang dari kamar lantai bawah ke kamar lantai atas. Larisa menyelesaikan semuanya sampai sore menjelang. 


“Beresin kamar tamunya besok aja, Bik. Sekarang kita istirahat dulu,” kata Larisa.


“Baik, Mbak.”


“Oh, ya, Bibik juga gak usah masak makan malam. Nanti biar aku pesan online aja. Bibik pasti capek.”


“Gak papa, Mbak, saya masih bisa masak kok.”


“Gak usah, Istirahat aja. Ya, sudah kalau gitu saya mandi dulu. Kak Abi bentar lagi pasti pulang. Nanti tolong bilang sama dia kalau semua barang sudah pindah ke sini. Jadi gak usah ke kamar bawah lagi.”


Bibik pun mengangguk. “Saya turun, ya, Mbak.”


...🍉🍉🍉🍉...


“Larisa mana, Bik?” tanya Abi ketika sampai rumah.


“Di kamar atas, Mas. Semua barang sudah di pindahkan ke sana,” jelas Bibik.


“Cepat sekali beresnya.”


“Mbak Larisa pengen semuanya selesai hari ini.”


Abi mengangguk. “Kalau gitu saya ke atas. Makasih, Bik.” Kaki panjangnya melangkah dengan gegas menuju kamar mereka berdua. Selama tinggal di villa lantai dua belum pernah mereka kunjungi. Tapi sekarang sepertinya hari-hari mereka akan dihabiskan di sini. Pria itu tampak begitu gembira karena ia akhirnya bisa satu kamar dengan sang istri. Yang artinya mereka semakin dekat, Abi akan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan pernikahan mereka pada Larisa.


“Sayang,” panggil Abi segera masuk.


Larisa yang baru saja habis mandi tampak begitu santai menyambut kedatangan pacarnya. 


“Gimana? Suka gak sama kamar kita?” tanya Larisa yang sedang memilih baju ganti di lemari.


Abi mendekati istrinya dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Ia berikan satu kecupan di bahu mulus Larisa. Biasanya wanita itu akan bergegas masuk ke kamar mandi jika ditemuinya saat masih memakai handuk jika selesai mandi. Tapi kali ini ia tampak begitu santai dan biasa saja. Apa artinya Larisa mulai mempersiapkan diri?


“Wangi,” puji Abi.


“Namanya juga baru habis mandi. Kakak, mau mandi sekarang?”


Abi tak menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Ia terbawa suasana dan mulai menjelajahi leher jenjang sang istri. Larisa pun berusaha menikmati meski jantungnya berdegup kencang. Tangan wanita itu meremas simpul handuk di depan dada agar balutannya tak lepas lalu jatuh ke lantai. 


Tanpa di sadari tangan Abi sudah berada di atas dada Larisa membuat wanita itu mendesah kecil. 


“Maaf,” kata Abi. Ia segera menjauh dari sang istri.


Larisa hanya tersenyum simpul. “Gak papa. Mandi sana, aku siapin baju gantinya.”


Abi mengangguk dan ia bergegas masuk ke kamar mandi.


......................


Mana nih, komen 🖊 sama like 👍 nya..?


Sepi amat...


gak ada dukungan sama sekali..


Author jadi gak semangat buat up date... 🙁😟😩

__ADS_1


__ADS_2