Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 134


__ADS_3

Sorenya Abi terbangun dan memilih bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Selesai menunaikan kewajiban, ia menuju meja makan ternyata sang Mama sudah menunggu di sana.


“Makan dulu, habis itu kita bicara.”


Hanya anggukan kepala yang diberikan Abi.


Dari meja makan Ibu dan Anak itu beralih ke sofa ruang tengah. 


“Larisa sering kesini dan meminta Mama membujuk kamu untuk mencabut laporan atas Bayu,” ungkap Ningsih.


Wajah Abi pun tampak penuh tanya.


“Tapi Mama langsung menolak karena Mama tau bagaimana kamu. Kalau sudah bilang A ya pasti A, contohnya saja saat menikahi Larisa. Lalu Mama bilang sama dia, kalau cuma dia yang dapat membuat kamu berubah pikiran.”


“Memangnya kenapa sih dengan tuntutan aku ke Bayu?”


Ningsih memperbaiki posisi duduknya agar terasa nyaman. “Setelah mendengarkan penjelasan Larisa, Mama juga merasa apa yang kamu lakukan pada laki-laki itu memang tak adil.”


“Gak adil dari mana, Ma? Dia sudah mencelakai istri aku dan membunuh anak kami.”


“Bi, kamu itu sudah dikuasai oleh dendam. Makanya kamu tak bisa lagi melihat dan menerima kebenaran yang disampaikan Larisa. Dia cuma ingin hidup tenang, gak ada masalah. Coba kamu pikir, kalau seandainya kemarin setelah Larisa sembuh kalian kembali ke Bali, pasti kini kalian lagi happy di sana. Gara-gara dendam kamu itu sekarang yang rugi siapa? Kamu, kan! Kamu jadi kehilangan waktu bersama Larisa dan Kyra, hanya gara-gara mengurusi persidangan. Dendam itu gak akan membuat kita hidup tenang, yang ada hidup kita jadi berantakan. Terus apa untungnya bagi kamu setelah si Bayu itu mendapatkan hukuman yang berat? Gak ada kan! Yang ada kamu dan Larisa sekarang malah bertengkar.” Ningsih akhirnya mencoba memberi nasehat pada sang putra. Berharap kalau ucapannya dapat merubah jalan pikiran anaknya itu.


Abi cuma tertunduk mendengar ucapan sang Mama. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga semua yang dikatakan Mamanya. Ia tak dapat apa-apa setelah membuat Bayu mendekam di penjara dalam waktu yang lama.


“Sekarang berikan istri kamu waktu, biarkan dia menenangkan hati dan pikirannya,” tambah Ningsih.


“Iya, Ma.”


“Besok pagi datang kesana jemput Kyra dan antar dia ke sekolah. Pulangnya kamu juga kesana sampai putri kamu tidur baru kembali lagi kesini. Jangan sampai dia tau kalau Mama dan Papanya sedang bertengkar.”


Abi hanya menganggukkan kepala. 


Ini adalah kali pertama bagi pasutri itu tidur terpisah. Keduanya kini saling merasa canggung dan merasa ada yang hilang. Tak ada lagi pelukan dan dekapan hangat dan nyaman, tak ada lagi kawan bicara sebelum memejamkan mata, tak ada lagi canda tawa dan kemesraan sebelum melepas penat. Sunyi dan sepi yang menemani malam ini. Membuat mereka sulit untuk dapat mengarungi alam mimpi.

__ADS_1


Keduanya juga sama-sama saling menunggu sebuah notifikasi dari ponsel masing-masing. Berharap ada satu panggilan atau sekedar pesan singkat dari yang dinanti, tapi nyatanya hanya notifikasi tak penting yang seakan melambungkan harapan lalu dihempaskan nya menjadi kecewa.


Bagi Larisa ia hanya ingin membuat Abi sadar akan kesalahan. Bukan soal sudah membentaknya, tapi soal tindakannya pada Bayu. Ia berharap suaminya dapat merubah pikiran dan membebaskan pria itu. 


Bagi Abi memang sulit untuk bisa melepaskan Bayu begitu saja, tapi apa yang disampaikan oleh sang Mama, ada benarnya juga. Mungkin istrinya hanya ingin mereka hidup tenang seperti waktu tinggal di Bali. Tak ada dendam dan rasa sakit hati yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Haruskah ia mencoba memenuhi keinginan istrinya? Meski hati terasa sulit untuk memaafkan laki-laki itu. Apalagi kejadian Larisa jatuh di tangga waktu itu masih sering terbayang-bayang.


...🐸🐸🐸🐸...


Paginya Abi pun sampai di rumah Endra. Kebetulan sang putri belum turun dari kamarnya, ia bergegas menemui Kyra.


“Hari ini Kyra berangkat sama Papa, ya,” ajak Abi. Ia berdiri di ambang pintu memperhatikan Larisa yang tengah mengurus anak mereka.


“Papa kok semalam gak ada? Kemana?” tanya Kyra


“Papa kerja lembur, sayang, jadi pulangnya malam banget pas kamu udah bobok.”


Kyra pun membulatkan mulutnya.


“Dah beres. Yuk, kita sarapan di bawah,” ajak Larisa.


Larisa pun membereskan kamar sang putri sedangkan Abi masih setia di posisinya tadi.


“Kakak gak bisa tidur semalam,” ucap Abi.


Larisa tak memberi tanggapan. Ia terus saja menyibukkan diri.


“Sekali lagi Kakak minta maaf karena sudah membentak kamu.”


“Sebaiknya kita sendiri-sendiri dulu. Sebelum Kakak menyadari kesalahan yang sudah, Kakak, lakukan,”tegas Larisa. Ia pun keluar dari kamar Kyra melalui suaminya begitu saja.


Membuat Abi membuang nafas panjang dan melorotkan bahu. Ingin hati berbaikan dengan sang istri, tapi nyatanya sangat sulit sekali. Larisa benar-benar marah, mengabaikan dan meninggalkannya begitu saja. Tak ada sapaan atau perhatian yang diberikan.  


Dengan langkah gontai ia pun akhirnya ikut turun menikmati sarapan bersama Endra dan Davira serta sang anak. “Sayang, tolong ambilin, Kakak roti dong,” pinta Abi. Ia masih berusaha membuat Larisa mau bicara dengannya.

__ADS_1


Larisa memberikan sekotak roti tawar yang ada di atas meja dengan tampang juteknya. Abi pun menerima pemberian sang istri dengan rasa kecewa. Biasanya sang istri pasti akan menanyakan mau dikasih selai apa roti tawarnya, tapi sekarang Larisa benar-benar mengabaikannya.


Endra dan Davira hanya saling lepar pandang setelah itu mereka pura-pura tak tahu. Sengaja karena mereka tak ingin ikut campur masalah rumah tangga anaknya.


Selesai sarapan, Larisa memasukkan bekal sang putri kedalam tas sekolahnya. “Nanti pulang sekolah Mama jemput, ya.”


“Iya, tapi jadi jalan-jalannya. Kemarin gak jadi gara-gara Papa pulangnya malam,” rengek Kyra.


Abi yang hendak membuka mulut langsung di potong oleh Larisa.


“Jalan-jalannya sama Mama aja nanti. Papa gak bisa, sibuk soalnya.”


“Oke, deh.”


Alhasil Abi hanya bisa memasang wajah memelas agar sang istri mau mengajaknya. Namun, Larisa seakan-akan tak peduli karena ia masih marah dan kesal.


“Yuk, berangkat,” ajak Abi.


“Ayok.” Kyra pun menarik tangan sang Papa menuju mobil dan Larisa pun mengikuti dari belakang.


“Kakak berangkat kerja,” pamit Abi mengulurkan tangan.


“Iya, hati-hati.” Sang istri ternyata tak membalas uluran tangannya. Membuat Abi kembali merasa kecewa dan sedih diabaikan begitu saja.


...🦛🦛🦛🦛...


Sudah tiga hari suami istri itu tinggal berpisah, Abi mulai uring-uringan. Tak bisa jika terus seperti ini. Ia harus bicara dengan Larisa dan membuat istrinya itu mau memaafkannya.


“Gimana, Ma?” tanya Abi.


Davira menggeleng. “Larisa gak mau pergi. Katanya dia cuma mau dirumah aja.”


Sebenarnya Abi meminta sang Mama mertua untuk mengajak Larisa keluar rumah dan bertemu dengannya di salah satu tempat, tapi rencananya gagal karena istrinya lebih suka mengurung diri di kamar.

__ADS_1


“Terus saya harus gimana lagi?” Abi mugusap wajahnya karena ia merasa frustasi.


“Gini aja, nanti sore kebetulan Mama sama Papa ada acara di luar. Sekalian kami ajak Kyra sama Bibik pergi. Jadi pas kamu pulang kesini bilang aja mau ketemu Kyra dan gak tau kalau kami pergi,” usul Endra.


__ADS_2